Yahya Harlan, Bocah SMP Founder Jejaring Sosial Islami

Yahya Harlan, Bocah SMP Founder Jejaring Sosial Islami

0 197
Yan Harlan dan yahya Harlan )infodidot)

 

Boleh jadi dahi Anda spontan berkernyit. Tapi faktanya memang demikian. Dialah Yahya Harlan, founder situs salingsapa.com, yang ia buat saat ia menginjak kelas 1 SMP, pada 2010 lalu.

ALHIKMAH.CO–Pembaca, pernah mendengar situs salingsapa.com? Ada yang unik ketika membuka situs tersebut. Sepintas lalu, orang-orang akan mengira salingsapa.com adalah satu dari ribuan jejaring sosial yang tengah berkembang saat ini. Layaknya facebook atau twitter, situs itu menawarkan fasilitas newsfeed, forum, maupun galeri foto. Namun, jika mau sedikit mengulik situs ini, ada fasilitas live streaming yang menayangkan kajian-kajian keislaman dari ulama kompeten.

Jejaring sosial dengan konten Islami? Tak mengherankan jika jargon yang diusung adalah ‘Berteman dalam Kebaikan’.

Nahh, percayakah Anda jika di balik gagasan salingsapa.com adalah seorang bocah yang baru saja menjejak Sekolah Menengah Pertama (SMP)?

Boleh jadi dahi Anda spontan berkernyit. Tapi faktanya memang demikian. Dialah Yahya Harlan, founder situs salingsapa.com, yang ia buat saat ia menginjak kelas 1 SMP, pada 2010 lalu.

Banyak orang berdecak kagum, bagaimana mungkin dalam usia yang terlampau muda bisa membuat dan mengembangkan sebuah jejaring sosial? Yan Harlan, sang ayah, mengakui Yahya telah memperlihatkan minatnya pada komputer sejak sang anak berusia tiga tahun. Awalnya, Yahya hanya diperkenalkan pada Microsoft Word dan game Paintball.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Yan Harlan pun melihat potensi anaknya. Didampinginya Yahya kala ia tengah mengotak-atik komputer. Meski bukan termasuk ahli, ia berupaya menjawab rasa ingin tahu anaknya akan dunia multimedia. Selepas melihat potensi besar itu, sang ayah lalu menyertakan anaknya di les-les komputer. Saat Yahya menginjak kelas lima, tak perlu berlama-lama bagi Yan untuk memasukkan anaknya ke Comlabs ITB, yang sebagian pesertanya adalah mahasiswa.

“Yang paling baik itu mengenali minat dan bakat anak kita dimana. Kita sebagai orangtua hanya berperan sebagai fasilitator dan teman. Dia butuh apa, kita yang fasilitasi. Yahya suka sekali merakit komputer sendiri, dan saya temani,” ungkap Yan Harlan.

Ketika melihat seorang asal Indonesia membuat jejaring sosial, terpikir oleh Yahya untuk turut membuat jejaring sosial lainnya, dengan konsep yang lebih baik, dibantu ide dan support sang ayah, situs yang awalnya bernama rezzibook itu kini ia namai salingsapa.com.

Konsep situs itu pun dibuat islami. Disana-sini, situs salingsapa.com dipoles agar kegiatan silaturahmi dan kajian Islam bisa diakses semakin mudah. Lagi-lagi, peran orangtua Yahya sangat besar dalam mengembangkan konsep ini. Sejak kecil, Yahya kerap diajak Yan, dan sang istri, Fidriana, untuk mengikuti majelis-majelis dzikir dan perkumpulan dengan komunitas-komunitas dakwah. Alhamdulillah, kebiasaan tersebut berimbas pada kecintaan Yahya pada dunia keislaman.

Rupanya, tak hanya disitu langkah Yan Harlan dalam mengarahkan anaknya untuk mencintai Islam. Sebelum Yahya bisa membaca, ia sering membacakan kisah-kisah Rosul dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam. Yan berupaya menanamkan pada anak-anaknya agar mengidolakan kesalehan dan kegigihan teladan umat Islam tersebut.

“Sebagai muslim, kita pasti ingin anak-anak kita mengenal akhlak, kesalehan, dan perjuangan Rasul dan para sahabat,” ujar lulusan Arsitektur ITB ini.

Beranjak semakin besar, Yan kerap memberikan kelonggaran pada anak-anaknya, termasuk Yahya, untuk membeli buku-buku yang mereka sukai. Tentu, ia membatasi pada buku-buku yang dianggap bisa bermanfaat pada diri anak-anaknya. Kegemaran membaca itu begitu kental di keluarga Yan, sebab ia sendiri membiasakan diri melimpahi anak-anaknya dengan buku-buku.

“Ketika dia sudah mulai bisa membaca, kami jadi banyak mengobrol dan mengarahkan dia ke potensinya,” tuturnya.

Beruntung bagi Yan, karena Yahya kurang menggemari menonton televisi. Baginya, hal tersebut berarti mengurangi risiko anak-anaknya terpengaruh dampak negatif televisi yang selama ini didendangkan para pakar. Meski ia sendiri tak jarang menonton televisi untuk program-program tertentu, namun Yahya lebih suka menyibukkan diri dengan buku atau komputer.

Banyak anak-anak usia remaja kala ini yang terjebak dengan pergaulan yang terlalu bebas. Yan, dalam hal ini, tak merasa risau. Ia menyatakan, dirinya selalu memastikan mengenali semua teman-teman Yahya. Yan tahu, Yahya kerap berinteraksi dengan teman-temannya yang memiliki basis keislaman baik, terutama mereka yang memiliki minat sama di bidang multimedia.

“Selain teman-temannya ini, kebetulan saya punya banyak sahabat yang berkemampuan baik di dunia IT. Mereka yang banyak mengajarkan, karena saya sendiri tidak begitu paham mengenai pemograman dan dunia IT. Ini untuk mendukung potensi Yahya,” jelasnya.

Yan mengaku sangat mendukung aktivitas anaknya agar terus mengawal dan mengembangkan situs salingsapa.com. Ia teringat hadits Rasul, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”. Keinginan ini lah yang mendorong Yan agar Yahya bersemangat membantu umat Islam di belahan dunia mana pun, tak hanya untuk bersilaturahmi, namun juga menyaksikan dakwah secara live.

“Saya ingin lihat anak saya tumbuh besar. Tidak hanya punya kiprah professional, namun juga punya kiprah di masalah umat. Kajian dakwah yang ada di salingsapa.com bisa diunduh dan dibagikan. Insya Allah ini kemanfaatan yang terus menerus mengalir,” pungkas Yan. (Aghniya/Alhikmah)