Wujud Garis Tegas Akidah

Wujud Garis Tegas Akidah

0 130

MUHAMMAD Saw., berdakwah dengan cara yang sangat persuasif. Tentunya dengan menggunakan berbagai argumentasi dan dalil. Dengan cara yang amat meyakinkan, beliau menjelaskan kebenaran yang sederhana dan mudah mengenai manusia, alam semesta, dan Tuhan. Ajakannya penuh cinta, kasih sayang, dan belas kasih kepada umat manusia. Serta diungkapkan dengan penuh hikmah. Karenanya, dakwah Nabi dapat menembus relung hati umat dalam tempo yang relatif singkat.

Keimanan adalah pilihan yang bersifat individual yang harus diciptakan dari pertimbangan yang matang. Persoalan iman adalah ihwal keyakinan dan tidak dapat dipaksakan oleh siapa pun. Seseorang akan menerima suatu keyakinan jika ia sepenuhnya meyakini kebenarannya tersebut. Karena itu, tiada guna sama sekali menggunakan kekerasan atau bersikap koersif untuk memaksa seseorang menerima akan sebuah keyakinan.

Allah sendiri memberikan garis tegas terhadap permasalahan ini melalui salah satu firman-Nya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Ayat di atas dipandang sebagai sikap Islam terhadap mereka yang belum beriman. Bahkan kepada yang menolak. Dalam Surah Al-Kafirun, Allah memberikan dinding pembatas haq dan bathil yang tidak boleh dicampuradukkan. Keislaman seseorang pun menjadi tidak sah bila tidak diyakini dalam hati dan diniatkan dengan kesadaran.

Sedangkan Ibn Atsir memaknai ayat Al Baqarah tersebut dengan ungkapan “Janganlah memaksa siapa pun untuk menerima Islam. Siapa pun yang menerima petunjuk Allah dan melapangkan dadanya untuk menerima kebenaran, pasti diberikan hikmah untuk menerima Islam secara sukarela.”

Muhammad Saw., sendiri menunjukkan ketegasan prinsip ini melalui seluruh tindakannya. Pada setiap kesempatan termasuk ketika menang dalam peperangan, beliau selalu memperlakukan musuhnya dengan kasih sayang. Ketika pembebasan Kota Makkah pun, Nabi mengatakan “Hari ini tidak akan ada pembalasan atas apa yang dilakukan. Pergilah, kalian bebas.”

Demikian pula ketika beliau mengutus para duta dalam sebuah ekspedisi. Dengan tegas, beliau memerintahkan untuk tidak bertempur atau mengislamkan siapa pun dengan memaksa. Ini adalah salah satu sunnah Nabi yang menjadi gambaran bagaimana mengimplementasikan ayat al-Baqarah di atas.

Hidup ini adalah pilihan. Allah telah menunjukkan kepada manusia dua jalan. Ada jalan lurus yang menghantarkan kepada kebahagiaan hakiki. Ada juga jalan sesat yang di ujungnya kesengsaraan, yang itu juga pasti.

Jauh sebelum ruh ditiupkan, Allah sudah menyiapkan manusia dengan potensi dan pengetahuan untuk memilih jalan itu. Sekaligus telah diperlihatkan bukti-bukti nyata dari masing-masing jalan yang akan dipilih melalui orang-orang terdahulu. Tentu saja dengan konsekuensi dan resiko yang harus ditanggung atas jawaban dari pilihan tersebut. Pilihan itu hanyalah menerima atau menolak Islam.

Ketika wahyu Illahi telah disampaikan dengan jelas, maka salah satu tugas Rasul, sebagai penyampai risalah tunai sudah. Ia tidak bertanggung jawab atas tindakan yang diambil umatnya, apabila pilihannya itu menyimpang dari apa yang telah disampaikan. Allah Swt. berfirman: “…Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…”(Q.S al-Kahfi [18] : 29). Sebaliknya, bila orang tersebut memilih hidup dalam naungan Islam, maka kewajiban Rasul dan umat muslim selanjutnya adalah menghantarkan ia menjadi pribadi muslim yang sempurna. Bersama-sama membumikan Dien Islam hingga dimenangkan di atas penyembahan yang mengingkari adanya Mulkiyah Allah.

Demikianlah makna kedamaian yang Islam tawarkan. Sebagai wujud dari konsep rahmatan lil alamin. Islam hanya berusaha mengembalikan kehidupan manusia tetap berada dalam jalurnya. Di luar itu, Islam hanya memberikan pakem hak dan bathil yang tidak boleh dicampuradukan, sebagai wujud dari garis tegas akidah kita.  Wallahua’lam []

(penulis : Pipin Nurullah, Jurnalis Tabloid Alhikmah/pict_ilustration: rol)