Wisata Rohani Ibadah Haji

Wisata Rohani Ibadah Haji

0 49
Asep Saeful Muhtadi

Dalam perjalanan yang melelahkan itulah akan ditemukan lipatan-lipatan spiritualitas yang amat mengesankan, yang sangat mungkin tidak pernah ditemukan di luar perjalanan haji.

Bu Endang menangis seusai tuntas menapaki pengalaman ruhani, mabit penuh di Muzdalifah. Ia tak mau meninggalkan padang Muzdalifah sebelum shalat shubuh. Ia pun tergeletak di punggung padang pasir yang hanya diselimuti semilir angin malam. Muzdalifah adalah padang pasir yang telanjang tanpa penutip sehelai kain pun. Tapi Bu Endang bersikukuh menapaki sunnah Rasulullah, menghabiskan malam di Muzdalifah, yang menurut akal normal umumnya manusia, hanya akan menyiksa diri untuk membiarkan tubuh itu dimakan sengatan dinginnya malam.

”Inilah pengalaman spiritual yang tak bisa dibeli dengan apapun”, gumamnya seusai melaksanakan shalat shubuh di penghujung mabit di Muzdalifah. Bu Endang pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju Mina. Terbayang tantangan syaitan yang segera ia lempar dalam simbolisasi ritual Jumrah al-Aqabah. ”Allahu Akbar”, gumamnya lagi. Dia seolah berambisi untuk meluluhlantakkan sifat-sifat syaithaniyah yang melekat pada dirinya, dan yang senantiasa melilit perjalanan umat manusia.

Begitulah sepenggal perjalanan yang membekas dalam spiritualitas personal Bu Endang, sebuah perjalanan ruhani yang menjadi salah satu puncak ibadah haji. Perjalanan saat itu memang bukan yang pertama yang dialami Bu Endang. Tapi selalu saja terburu waktu untuk meninggalkan Muzdalifah. Kali itu ia memaksa situasi untuk bertahan mabit di Muzdalifah hingga malam tuntas meninggalkan dirinya. Ia ingin sekali bermalam di Muzdalifah, karena itulah yang pernah dilalui Rasulullah tatkala belian bersama shahabatnya melaksanakan haji yang dikenal haji wada.

Perjalanan haji memang selalu memberikan kesan tersendiri. Bagi siapa pun, meskipun wujudnya bisa sangat bervariasi. Tidak heran jika sejumlah jamaah yang sudah melakukan ibadah haji, umumnya merasa ingin kembali untuk melakukan hal yang sama. Bukan saja karena perjalanan ini bernuansa spiritual, tapi juga banyak hal yang bersifat rasional tapi selalu mengundang rasa penasaran. Inilah barangkali yang membedakan perjalanan haji dengan perjalanan wisata-wisata pada umumnya.

Tapi mungkin kesan itu tidak muncul tiba-tiba. Ia mensyaratkan aspek penghayatan sehingga perjalanan itu dapat dinikmati tanpa beban apapun. Meskipun lebih bersifat subyektif, peghayatan dapat dibangun baik secara individual maupun kolektif. Penghayatan keagamaan yang cukup dominan dalam perjalanan haji dapat dibangun dengan mengetahui langkah-langkah yang melekat pada perjalanan itu.

Sungguh, perjalanan wisata ruhani ini akan terasa nikmat, ketika kita harus bersujud, kita dapat melakukannya dengan tanpa beban apapun; ketika berjalan mengelilingi Ka’bah atau berlari di antara Shafa danMarwah, kita pun dapat melaluinya dengan tulus tanpa bergantung kepada siapapun kecuali kepada Sang Pencipta. Semuanya mengalir mengikuti irama jantung yang yang tak henti-hentinya berdo’a.

Ketika semua tahapan itu telah hadir dalam kesadaran manusiawi, tidak ada yang perlu ditakuti. Malah sebaliknya, perjalanan haji dapat lebih mendekatkan pada sumber segala ketenangan, Allah yang maha pemurah. Semuanya bisa dilakukan. Pasti bisa. Tidak ada yang patut dikhawatirkan, bahkan keluarga yang ditinggalkan pun telah tuntas dititipkan pada Sang Pemilik. Ingatlah tatkala kedua bibir membisikan harapan pada do’a safar di awal perjalanan, Allāhumma anta al-shāhibu fi al-safari, wa al-khalīfatu fi al-ahli, Tuhan, dampingi perjalananku ini, dan peliharalah keluargaku yang kutinggalkan.

Saat itulah getaran tangan begitu terasa haru, saat sanak keluarga melambaikan telapak tangannya melepas kepergian para jamaah. Terasa bukan saja tangan yang bergerak pelan, tapi hati dan seluruh kesadaran ruhani seolah ikut terlibat mengalirkan do’a. Inilah mungkin yang disebut perjalanan spiritual, sebuah perjalanan yang tidak bisa disejajarkan dengan perjalanan biasa lainnya. Sebuah perjalanan menuju rumah-Nya, dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memang telah mendapat undangan-Nya. Bukan semata-mata karena telah mencukupi perbekalan, dan bukan pula hanya karena telah membulatkan harapan.

Secara fisik, perjalanan haji itu memang panjang dan melelahkan. Meski batas-batas ritual haji hanya berlangsung pada rentang 8-12 Zulhijjah, tapi perjalanan menuju puncak wisata itu masih memerlukan kesabaran ekstra yang kerap sangat melelahkan. Dalam perjalanan yang melelahkan itulah akan ditemukan lipatan-lipatan spiritualitas yang amat mengesankan, yang sangat mungkin tidak pernah ditemukan di luar perjalanan haji. Ibarat pengalaman sang sufi yang sulit dijelaskan oleh bahasa biasa, termasuk sulit dibahasakan oleh orang-orang biasa.

Lihatlah ketika para jamaah itu menyemut mengelilingi Ka’bah. Tidak rasional memang, terutama jika dalam ibadah haji berharap rasionalitas yang memuaskan. Tidak akan memperoleh kepuasan rasional, sebab haji, dan juga ibadah-ibadah lainnya, bukan untuk dirasionalkan, meski tidak juga dilarang untuk merasionalkannya. Mengelilingi Ka’bah yang kemudian disebut Thawaf kerap dinilai tidak rasional. Tapi dalam jejak-jejak irasional itulah seseorang dapat menemukan kenikmatan spiritual.

Mungkin orang akan melihat aneh ketika menyaksikan seseorang lainnya menangis di kaki Ka’bah. Ia merintih memanjatkan harapan. Dan dalam kesadarannya harapan itu hanya diserahkan kepada Sang Pencipta, bukan pada Ka’bah yang terbuat dari batu-bata dan terbungkus kain hitam yang disebut Kiswah. Bukan! Ka’bah hanya berfungsi membukakan kesadaran ruhani yang kerap keras tertutup membatu tak tergoyahkan. Ka’bah hanya memfasilitasi kesadaran spiritual untuk membisikkan jarak antara Tuhan dan hamba-hamba-Nya.

Tak menunda-nunda waktu. Selepas Thawaf, para jamaah bergegas menuju bukit Shafa. Lalu dari titik inilah kesadaran baru terbuka panjang. Jalan sempit terbentang menuju puncak bukit Marwah. Mereka tulus melaluinya, seraya membayangkan perjuangan Siti Hajar tatkala merintih mencari kebutuhan. Ia berlari-lari di antara Shafa-Marwah. Seperti itulah kehidupan manusia, tak lepas dari kebutuhan, dan lepas dari kebersamaan.

Itulah sebabnya, di antara tema yang sering dikeluhkan sebagian orang berkaitan dengan pengorbanan individual ibadah haji, masih terasa hambarnya kepedulian terhadap sesama yang sejatinya menjadi indikasi kemabruran yang telah diperolehnya. Siti Hajar hanya ada di antara Shafa dan Marwah, tapi masih terasa alfa dalam keseharian yang dilalui para pecintanya. Bisakah kita hadirkan Siti Hajar di antara rumah-rumah di sekitar tempat tinggal kita?

Jadi, atas pengalaman ruhani yang diperoleh para jamaah yang setiap tahun berjalan menuju tanah suci, jika hingga saat ini masih ada orang yang was-was melakukannya, atau khawatir menjadi beban, atau bahkan ”takut” tidak mampu mengikuti setiap langkah yang diwajibkan-Nya, maka lepaskan rasa khawatir itu. Bukalah mata lebar-lebar untuk menyaksikan kebesaran Allah dalam rentang panjang perjalanan ruhani yang kian mensucikan itu. Perjalanan yang lebih bernuansa wisata ruhani itu akan membawa para jamah untuk menikmati perjalanan sambil memetik hikmah yang tak terhingga. Labbaik Allahumma Labbaik…!

Oleh Prof. Asep Saeful Muhtadi