Wanita Mulia Penghafal Al Quran Pertama

Wanita Mulia Penghafal Al Quran Pertama

0 1716

”Hafsah akan menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari pada Utsman. Sementara Utsman akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari pada Hafsah,”

ALHIKMAHCO,– Aroma darah mengental dalam peperangan di dekat bukit Uhud. Kilatan pedang menyambar siapa saja yang menghalangi. Kemenangan sudah mulai tampak. Musuh-musuh mundur secara teratur. Panji Islam diangkatnya tinggi-tinggi. Di atas bukit Uhud, pasukan pemanah yang diperintahkan Rasul untuk tetap di sana, terbujuk juga oleh banyaknya ghanimah yang berceran di jalanan.

Satu persatu turun, hanya menyisakan segelintir orang saja di atas sana. Tak disangka, lantaran tak ada pengawasan, pasukan Khalid Ibn Walid datang dari arah belakang. Panik bukan kepalang, pasukan kaum muslimin yang baru saja mencium aroma kemenangan. Belum lagi, pasukan musuh kembali merangsek dari depan. Kocar kacir sudah, dalam keadaan terkepung, kaum Muslimin mundur.

Berpuluh-puluh orang menjadi Syuhada. Deretan luka menyayat para sahabat. Hamzah, jantungnya pun terkoyak. Pun Rasul, wajahnya hingga terluka. Giginya sampai patah. Termasuk di antara sahabat yang gugur ialah Khunais Ibn Hadzafah. Ia meninggalkan istri yang belum genap berusia 18 tahun bernama Hafsah. Janda ini, terpaksa kembali ke rumah orang tuanya, Umar Ibn al Khattab.

Duka mendalam terlihat pada Hafsah, wanita muda yang cerdas yang ditinggal suaminya berjihad. Umar merasa iba dengan Hafsah, ia berusaha mencarikan pendamping hidup untuk putrinya. Dipilihnya orang-orang terbaik di kalangan sahabat. Adalah Abu Bakar yang didatangi Umar pertama.

Abu Bakar hanya tersenyum saja ketika ditawari Umar. Tak menjawab sesuatu apa pun. Umar membujuk, tapi Abu Bakar tetap tak menjawab. Akhirnya Umar tahu, Abu Bakar menolak. Umar pergi menghadap Utsman Ibn Affan, tapi Utsman pun masih berduka atas wafatnya Ruqayyah binti Muhammad.

“Aku belum ada keinginan untuk menikah,” kata Utsman menanggapi tawaran Umar.

Kesedihan Umar diceritakan kepada sang Nabi. Rasulullah mendengar dengan seksama, dan memberinya harapan. ”Hafsah akan menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari pada Utsman. Sementara Utsman akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari pada Hafsah,” kata Rasulullah.

Air muka Umar tiba-tiba berubah menjadi cerah. Umar paham maksud Rasulullah. Dengan segera Umar pulang menyampaikan kabar gembira pada Hafsah. Hafsah sangat senang sekali.

Abu Bakar mendengar kabar itu berkata pada Umar,”Kuharap kau tidak tersinggung dengan penolakanku kemarin. Seandainya aku tidak tahu bahwa Rasulullah sering menyebut Hafsah, aku pasti menerima tawaranmu. Dan seandainya kau tahu bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Ruqayah di hati Utsman selain Ummu Kultsum, tentu kemarin kau tidak akan memintanya menikahi Hafsah,” kata Abu Bakar.

Hafsah akhirnya menjadi istri ketiga Rasululalh setelah Khadijah wafat. Rasulullah menikahi Hafsah dan Aisyah untuk mempererat persahabatan antara dua sahabat utama. Pun kedua putrinya, dalam rumah tangga Rasulullah sangat dekat. Hafsah dan Aisyah begitu dekat, dan mereka berdua hampir selalu bercengkrama bersama, hingga berkeluh bersama dan saling mendukung.

Umar selalu menasihati Hafsah agar tidak bersaing dengan Aisyah. Bagi Umar, cukuplah Rasulullah menjadi pelindung Hafsah. Ia meminta Hafsah tetap berhubungan baik. Sehari-harinya Hafsah isi waktunya dengan menghafalkan Al Quran, hingga ia menjadi wanita pertama yang hafal Al Quran. Kelak, Hafsah menjadi tim penguji Mushaf Quran yang dikumpulkan tim Abu Bakar dan disimpan olehnya.

Hafsah ingat pesan ayahnya agar selalu membahagiakan, menghormati, dan mendahulukan kepentingan Aisyah. Namun, terkadang, kecemburuan itu muncul juga. Pernah Hafsah merajuk Rasulullah, sifatnya mirip Aisyah. Kadang ia manja, dan mengungkapkan ketidaksukaanya pada Rasulullah. Namun, Rasul dengan penuh kesabaran dan kelembutan memperlakukan baik Hafsah.

Tak hanya sekali dua, Hafsah sebagai seorang wanita pernah menyusahkan Nabi. Hafsah dan Aisyah pernah juga bersepakat melakukan sesuatu hingga membuat Nabi cemas dan kesusahan. Maka Allah menegur mereka berdua dengan turunnya ayat: ”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril” (QS  at-Tahrim: 4).

Kelakuan Hafsah yang memang tak dapat ditebak, pernah membuat nabi kesal sehingga ada niatan Nabi untuk menceraikannya. Namun, Allah melalui Jibril menyampaikan pesan bahwa Hafsah adalah wanita yang mulia. “Dia adalah seorang wanita yang rajin shaum, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga” kata malaikat Jibril.

Hafshah yang merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi berurai air mata. Air mata Hafsah akhirnya kering setelah suaminya tersenyum dan memaafkannya.

Subhanallah! Hafsah, adalah Ummul Mukminin, orang yang sudah mendapatkan kabar gembira menemani Rasul nan Mulia di SurgaNya. Kesalahan-kesalahan Hafsah sebagai manusia biasa Rasul maafkan. Rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis.

Kemudian Hafsah hidup dengan harmonis bersama Rasulullah berhiaskan Al Quran. Ketika sang suami menghadap Allah Ta’ala, Hafsah sangat sedih, dan tak henti-hentinya menangis. Ia bertekad untuk tetap memelihara ajarannya melalui penjagaannya kepada Al Quran, baik hafalan maupun tulisannya.

Hafsah dipercaya menjaga mushaf Al Quran pertama yang dikumpulkan Zaid Ibn Tsabit dan timnya atas perintah Abu Bakar. Hafshah radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin shaum dan juga shalat. Satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidah yang utuh. Hingga Hafsah wafat di masa Muawiyah Ibn Abu Sufyan.

(Rizki Lesus/pelbagai sumber)

Komentar ditutup.