Wakaf, Solusi Stabilitas Ekonomi di Saat Krisis

Wakaf, Solusi Stabilitas Ekonomi di Saat Krisis

0 36
Dr. Ascarya

Karena itu sudah komitmen BI untuk ikut mengembangkan zakat dan wakaf walaupun itu bukan otoritas kami. Karena di ujungnya nanti jika zakat dan wakaf berkembang maka ekonomi berjalan baik sehingga stabilitas ekonomi akan lebih terjaga.

Medio September lalu, Alhikmah berkesempatan mewawancarai peneliti senior Bank Indonesia (BI) Dr. Ascarya di ruang kerjanya di Bank Indonesia, Thamrin Jakarta. Kepada Alhikmah, pakar ekonomi syariah jebolan University of Pittsburgh USA ini memaparkan peran sentral wakaf terhadap sistem ekonomi negara. Berikut petikan wawancaranya:

Akhir-akhir ini, mulai dari Presiden, Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Gubernur Bank Indonesia angkat suara soal wakaf dan zakat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Terkait Bank Indonesia (BI) sendiri, sudah diatur dalam Undang-undang bahwa BI mempunyai amanah untuk melakukan kebijakannya secara konvensional dan secara syariah. Jadi, jelas BI berkepentingan dalam konteks ekonomi syariah khususnya zakat dan wakaf.

Namun, tentunya BI tidak bisa sendirian. Perlu ada dialog, komunikasi antara BI dengan pemerintah dalam hal ini Presiden hingga Menteri Keuangan. Alhamdulillah, saat ini sudah dibentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diharapkan dapat menjadi wadah untuk para pemangku kebijakan duduk bersama.

Karena, kita tahu bahwa ekonomi syariah menjadi pilar penting dalam ekonomi negara kita. BI bertugas menjaga stabilitas sistem keuangan negara melalui kebijakan moneter, sedangkan pemerintah dengan kebijakan fiskal. Ini semua harus beriringan.

Sistem keuangan sekarang ada stabilisasi semua, karena kalau tidak stabil, ekonomi itu berjalannya tidak baik. Kalau stabil ekonomi bisa berjalan dengan baik, harga atau inflasi, itu bisa dikendalikan.

Darimana sumber inflasi? Inflasi itu sumbernya memang riba, exchange rate atau nilai tukar naik turun itu salah utamanya juga riba, berartikan peran ekonomi keuangan Islam ini yang bebas riba, maisir, dan gharar itu memang akan berkontribusi besar kalau porsinya menjadi besar.

Sebagai contoh misalnya, ekononi Indonesia ini besarnya 100 %. Sekarang ekonomi syariah baru misalnya 15 % atau 20 %. Jadi 20 % ini yang stabil, sisanya yang 80 % tidak stabil . Nah, kalau yang 20 % stabil itu kan lumayan, apalagi kalau yang 20 ini  terus berkembang dan membesar, jadi yang lebih besar lama-lama keungan ekonomi syariah, berarti yang stabil lebih besar dibandingkan yang tidak stabil, kan secara total jadi lebih stabil. Di situlah peran ekonomi Islam dalam stabilitas ekonomi negara.

Keuangan syariah ini berfungsi menstabilkan sistem keungan secara keseluruhan, karena kita tahu kalau konvensional lebih rentan krisis, lebih mudah terpengaruh, karena masih ada riba, maisir, dan gharar. Keuangan syariah ini dipersepsikan secara teori lebih stabil dan lebih tahan terhadap krisis, sedangkan yang konvensional lebih rentan.

Lalu, bagaimana peran wakaf dalam stabilitas ekonomi negara?

Perbedaan keungan syariah dan konvensional selain tidak ada riba, maisir, dan gharar juga pilar ekonomi Islam itu ada zakat dan wakaf.  Walaupun BI itu bukan otoritas zakat dan wakaf tapi juga berkepentingan tumbuhnya berkembangnya dua pilar ekonomi islam in.

Sekarang  mungkin masih belum seberkembang keuangan syariah di Indonesia, walaupun sekarang di zakat ada Baznas, wakaf ada BWI, tapi kan jauh dengan berkembangnya keuangan syariah seperti di perbankan dan sukuk.

Maka peran kami jika terkait sektor keuangan syariah kita sebagai regulator, tapi kalau tidak berhubungan langsung,  seperti wakaf dan zakat, kita ikut mendukung, tapi tidak sebagai regulator, tetapi sebagai akselerator  dan inisiator. Nah di situlah kita bekerja sama dengan yang menjadi otoritas seperti dengan BWI, dan BAZNAS.

Gubernur BI mengatakan wakaf dan zakat dapat menangkal resesi, bagaimana itu bisa terjadi?

Dalam ekonomi konvensional itu kalau terjadi krisis, kegiatan ekonomi menurun. Itulah yang dinamakan resesi. Dalam Islam, kegiatan ekonomi itu akan selalu berjalan, tidak akan ada resesi. Kenapa ? Karena memang ada instrumennya agar ekonomi terus berjalan.

Contohnya wakaf dan zakat. Dengan dua hal itu, ekonomi memang harus berjalan. Dengan zakat, orang yang tidak punya apa-apa, tidak punya aktivitas ekonomi, diberi kemampuan agar dia dapat beraktivitas.

Daam Islam, mustahik itu kan kesamaannya tidak punya daya beli, tidak punya daya untuk melakukan kegiatan ekonomi . Kalau dikonvensional ya begitu saja, tetapi dalam Islam ia dikasih daya, supaya ia bisa beli makan, baju, harusnya sampai ke kesehatan, pendidikan.

Begitu ada demand  terhadap kebutuhah dasar otomatis akan ada  suplai. Otomatis ekonomi berjalan, tidak akan terjadi resesi. Karena yang paling tidak punya daya beli pun dikasih, apalagi yang punya ia tetap beraktivitas ekonomi, yang tidak punya dikasih supaya ekonomi berjalan, itu baru instrumen zakat.

Wakaf apalagi. Sifatnya harus diproduktifkan ataupun kalau wakaf sosial untuk kegiatan apa, sedangkan pokoknya harus tetap tidak boleh berkurang, itu yang membuat kegiatan termasuk ekonomi akan tetap memastikan terus berjalan.

Zakat memang wajib,   dan tambahannya wakaf akan membuat masyarakat terus berdaya. Karena memang perolehan wakaf khususnya wakaf produktif tidak boleh sampai pokoknya berkurang, sehingga otomatis wakif atau yang diwakilkan oleh wakaf manajemennya akan lebih bagus, dia akan lebih memastikan bahwa harta ini tidak akan berkurang.

Karena hartanya tidak berkurang, namanya modal tidak berkurang ekonomi akan jalan diatas yang minimal dan akan bertambah terus, pokoknya tidak akan pernah berkurang.

Bertambah  walaupun dalam jumlah sedikit-sedikt dalam waktu lama akan semakin berkembang. Karenanya, negara yang wakafnya kuat, pasti negaranya akan kuat. Negara Islam zaman dulu wakafnya pasti jaya.  Kalau runtuh, wakafnya pasti runtuh. Wakaf dan negara saling berkaitan.

Nah, kalau ekonomi konvensional kan tidak. Kalau konvensional tidak ada pemastian ada kegiatan ekonomi tadi untuk yang tidak punya daya beli, terus diberi daya beli itu tidak ada, tidak ada instrumen atau mekanisme seperti itu, hanya ada secara voluntir.

Dalam Islam berbeda. Contoh paling gampang adalah ketika zaman Rasulullah Usman bin Affan baru pulang dari Syam membawa 1000 ekor unta penuh dengan dagangan, ketika sampai kota, Madinah sedang kelaparan, musim kering , tidak ada makanan.

Utsman tidak pilih menjual dengan harga mahal, tetapi langsung disedekahkan. Itu termasuk kegiatan sosial, padahal dia sangat punya kesempatan untuk menjual mahal karena ia sendiri yang punya, dia berhentikan monopoli importir dari Madinah ke Syam tapi tidak ia lakukan.

Kalau kapitalis ia langsung menaikkan harga, terus dijual dengan untung  untuk diri sendiri sehingga tambah menyengsarakan masyarakat. Dalam kontek sekarang, krisis ekonomi akan semakin parah.

Karenanya, dalam Islam itu tidak ada batas sekat antara komersial dan sosial . Kalau dikonvensional itu sesuatu dunia yang berbeda, dan yang dikembangkan komersial, kalau yang komersial jatuh, tidak ada yang membantu. Tapi dalam Islam kalau nanti ekonomi jatuh masih ada minimal 2,5% zakat yang tetap menggerakkan ekonomi, tidak akan pernah berhenti ekonomi terus mengalir. Artinya wakaf menjadi solusi ekonomi di saat krisis.

Karena itu sudah komitmen BI untuk ikut mengembangkan zakat dan wakaf walaupun itu bukan otoritas kami. Karena di ujungnya nanti jika zakat dan wakaf berkembang maka ekonomi berjalan baik sehingga stabilitas akan lebih terjaga.

Seperti yang saya jelaskan, wakaf kan tadi tidak akan tergoncang oleh krisis, karena si nazhirnya harus menjaga pokoknya tidak turun, berarti dia menjaga manajemen resikonya jauh lebih baik daripada manajemen resiko investasi yang konvensional.

Apalagi dijaga tidak boleh riba, tidak boleh maisir, tidak boleh gharar, sudah pasti secara natural akan lebih stabil. Ekonomi negara stabil inilah yang menjadi tujuan BI dan juga pemerintah.

Otomatis wakaf dan zakat akan membantu Bank Indonesia menstabilkan keuangan secara nasional. Jadi ada tujuan makro yang akan tercapai, hingga tujuan mikro dari pengembangan zakat dan wakaf itu berkembang baik.

Ada anggapan masyarakat bahwa negara mulai mengurusi zakat, wakaf hingga dana haji karena negara tidak memiliki uang, bagiamana tanggapan anda?

Ya boleh-boleh saja ada anggapan seperti itu. Tapi perlu kita ingat bahwa zakat itu peruntukkannya sudah jelas untuk 8 asnaf, jadi tidak bisa dan tidak boleh diselewengkan.

Apalagi untuk zakat, sudah dibentuk BAZNAS sebagai lembaga independen. Walaupun ketua BAZNAS diangkat presiden, seharusnya tujuannya tetap tidak boleh menyimpang ke 8 asnaf.

Juga dengan wakaf, itu ada aturan tersendiri seperti pokoknya tidak boleh berkurang, tapi menghasilkan, asal itunya tidak dilanggar tidak masalah. Misalnya lembaga wakaf menempatkan sebagian hasil investasinya ke sukuk negara, boleh tidak?

Boleh saja kalau menurut si wakifnya itu investasi ini aman, kalau dilihat sebagai investor yang umum saja instrumen apa yang paling aman itu instrumen apa, ya instrumen negara.

Berarti yang paling aman kalau obligasi negara yang syariah ya sukuk negara. Seandainya nazhir menempatkan wakaf dalam sukuk negara, itu silakan saja. Tapi syaratnya harus persetujuan wakif.

BI sendiri ikut mendorong mereka (BUMN) mengeluarkan sukuk, memfasilitasi supaya mudah mengeluarkannya. Soalnya nanti kalau sudah jadi instrumen, BI juga mendapatkan keuntungan, berarti pasar uang syariahnya akan lebih berkembang, instrumennya akan semakin banyak, transaksi semakin banyak, itu yang diinginkan oleh BI.

Pemerintah jelas harus mendukung nazhir-nazhir wakaf ini dengan dukungan nyata. Jika berangkat dari nazhir itu tidak masalah. Nah, bisa jadi masalah kalau pemerintah mewajibkan ini itu pada nazhir.

Artinya, pemerintah dapat mendukung wakaf melalui penyediaan sukuk negara.  Saya menganggapnya pemerintah ini ‘memancing’ nazir wakaf uang khususnya mau menginvestasikan ke sukuk negara.

Ya tinggal dibuat sukuknya yang aman, karena prinsip wakaf kana man pokoknya. Kalau kita melihat dulu, zaman Turki Utsmani, peran wakaf terhadap negara sangat besar. Ketika terjadi devisit negara, menteri keuangan sampai bisa meminjam dari departemen wakaf.

Masalahnya wakaf kita sekarang belum seperti Turki, masih jauh. Kalau wakaf bisa berkembang seperti itu, berarti pilar ekonomi Islam sudah benar-benar tegak. Kita seharusnya mengarah kesana sekarang sehingga nanti bisa menjadi partner pemerintah kalau pemerintah kesulitan.

Melihat pentingnya wakaf, apa yang harus dilakukan para stake holder baik itu BI, pemerintah, nazhir hingga wakaf menjadi berkembang?

Memang itu tugas bersama menurut saya, tidak mungkin hanya dilakukan oleh satu institusi. Yang paling mudah sekarang, bagaimana agar Jumatan di masjid-masjid ada khutbah tentang wakaf produktif.

Coba dibuat kurikulum, tiap masjid punya kurikulum, mungkin ada tentang pengembangan wakaf, ada pengembangan apa yang lain-lain, sehingga itu kalaupun ada dia mengundang ustaz yang berbeda-beda, topiknya sudah terstruktur.

Selanjutnya jelas melalui pendidikan. Dari sd- perguruan tinggi kan kita dikenalkan dengan ekonomi konvensional. Bayangkan, kalau ada juga pelajaran ekonomi syariah. Ada materi wakaf dan zakat, itu sangat luar biasa.

Kalau sekarang kan masyarakat bukannya memilih, karena mereka tahunya yang konvensional, tidak tahu yang syariah. Dan kita harus terus sosialisaiskan ini ke masyarakat luas. (mr/alhikmahco)