Wakaf di Era Dinasti Abbasiyah, Untuk Peradaban Ilmu

Wakaf di Era Dinasti Abbasiyah, Untuk Peradaban Ilmu

0 43

 

ALHIKMAH.CO–Menengok ke belakang, masa berabad lalu, Islam menjelma sebagai adikuasa dunia yang disegani. Wilayah kekuasaan Islam terbentang luas, mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tembok Besar Cina di Timur. Dalam 500 tahun kekuasaan, dinasti Abbasiyah berhasil menjadikan dunia Islam sebagai penguasa peradaban di jagad raya. Baghdad,ibu kota Abbasiyah menjadi pusat kebudayaan dunia. Penyokong perkembangan aktivitas keilmuan dan seni.

Bagaimanakah kesejahteraan itu terpelihara? Syahdan, berbagai praktek filantropi Islam terlaksana dengan baik, termasuk wakaf. Lembaga wakaf menjadi sumber keuangan bagi sarana-sarana peradaban. Aktivitas ekonomi satu ini tak hanya mempunyai tujuan ibadah, namun jugakemaslahatan bersama.

Dan, ketika ekonomi Islam itu terdorong dengan baik, pemerintahan Abbasiyah tidak segan membelanjakan uangnya untuk kesejahteraan umat, seperti pelaksanaan pendidikan Islam. Apalagi, ini ditopang pula oleh pemimpin Islam yang mencintai Islam dan ilmu pengetahuan, seperti Harun al Rasyid dan al Ma’mun.

Pun, karena banyak sumber pendanaan berasal dari wakaf, khalifah Al Ma’mun berpendapat akan perlunya pembentukan badn wakaf. Ia adalah individu pertama yang mengemukakan ide pembentukan badan-badan wakaf untuk pembiayaan pendidikan. Misalnya,Bait Al Hikmah yang merupakan perguruan tinggi yang didanai oleh badan wakaf yang dipelopori oleh Khalifah Al Ma’mun di Baghdad.

Bait Al Hikmah adalah salah satu aset wakaf yang tersohor di masa Abbasiyah. Sebuah perpustakaan megah, yang didirikan untuk menghargai ilmu pengetahuan. Di Bait Al Hikmah, segala macam ilmu pengetahuan dikaji, diteliti dan dikembangkan oleh para ilmuwan. Studi yang berkembang pesat di lembaga itu antara lain: matematika, astronomi, kedokteran, zoologi, serta geografi. Dan semuanya ditopang oleh dana infak dan wakaf masyarakat Islam saat itu.

Sejatinya Bait Al-Hikmahdidirikan pada era kekuasaan Khalifah Harun Ar Rasyid. Namun, lembaga yang awalnya berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penerjemahan yang berada di Baghdad itu berkembang pesat di era Kekhalifahan Al-Ma’mun. Pengganti Harun Ar-Rasyid itu mengembangkan Bait Al-Hikmah menjadi sebuah perguruan tinggi virtual pada zamannya. Lembaga pengetahuan itu pun menjelma menjadi tempat para ilmuwan Muslim melakukan penelitian dan menimba ilmu.

Dengan wakaf, aset-aset peradaban itu semakin maju. Pada era kepemimpinan Al-Ma’mun, Bait Al Hikmah pun dilengkapi dengan observatorium. Sejarah mencatat, pada era itu tak ada pusat studi di belahan dunia mana pun yang mampu menandingi dan menyaingi kehebatan Bait Al Hikmah.

Ia mendorong para ilmuwan Muslim untuk melakirkan inovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Baghdad pun menjelma menjadi pusat pengembangan intelektual pada era itu. Selama kepemimpinannya, Bait Al Hikmah telah melahirkan sederet ilmuwan muslim terkemuka di dunia.

Dengan insentif dan gaji yang sangat tinggi, para ilmuwan dilecut semangatnya untuk menerjemahkan beragam teks ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa seperti Yunani, Suriah, dan Sansekerta. Demi perkembangan ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mengirim seorang utusan khusus ke Bizantium untuk mengumpulkan beragam munuskrip termasyhur yang ada di kerajaan itu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Pada era kepemimpinannya, beragam peralatan observasi astronomi telah digunakan secara besar-besaran. Proyek penelitian astronomi pun dilakukan di Baghdad di zaman itu. Serangkaian proyek dalam bidang astronomi itu menjadi cikal bakal berdirinya universitas modern atau Madrasah di Baghdad.

Perpustakaan Bait Al Hikmah yang didirikan Khalifah Harun Ar-Rasyid disulapnya menjadi sebuah universitas virtual yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan Muslim yang melegenda. Khalifah yang sangat cinta dengan ilmu pengetahuan itu mengundang para ilmuwan dari beragam agama untuk datang ke Bait Al-Hikmah. Semua tak lepas dari sumbangsih wakaf.

Al Ma’mun menilai, peranan wakaf amat besar dalam menunjang keberlangsungan pelaksanaan pendidikan. Sebab menurutnya, melalui wakaf, umat Islam mendapat fasilitas dalam menuntut ilmu. Syariatnya dengan wakaf, pendidikan Islam tidak akan menghabiskan banyak biaya besar sehingga miskin atau kaya mendapat kesempatan belajar yang sama.

Ia pun berpendapat, keberlangsungan kegiatan keilmuan tidak saja tergantung pada subsidi negara dan kedermawanan para pemimpin, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama negara menanggung biaya pelaksanaan pendidikan.

Prakarsa Al Ma’mun ini kemudian meluas pada para penggantinya dan pembesar-pembesar negara, sehingga badan wakaf yang permanen dipandang sebagai suatu keharusan dalam mendirikan suatu lembaga ilmiah. Selanjutnya wakaf-wakaf ini berkembang perentukannya untuk orang-orang, atau kelompok studi yang menyediakan dirinya untuk kesibukan-kesibukan ilmiah di berbagai masjid.

Pada masa kepemimpinannya, al-Ma’mun sering mengumpulkan para fukaha dari berbagai penjuru negeri. Beliau memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam masalah fiqih, ilmu bahasa arab, dan sejarah umat manusia. Saat beliau menjelang dewasa, al-Ma’mun banyak bergelut dengan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu yang pernah berkembang di Yunani sehingga membuatnya menjadi seorang pakar ilmu pengetahuan.(agh/dbs)