Wajibnya Mencintai Sahabat Nabi

Wajibnya Mencintai Sahabat Nabi

0 42

ALHIKMAH.CO– Mencintai sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam secara tepat dan proposional adalah suatu tuntutan syar’i. Artinya cinta terhadap para sahabat Nabi Radhiallaahu anhum merupakan sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

Untuk merealisasikan cinta tersebut, maka kita perlu mengenal diri sahabat dan kedudukan mereka; Bagaimana penilaian Allah Ta’ala dan Rasul-Nya atas diri mereka; Bagaimanakah perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sehubungan dengan sikap muslim terhadap sahabat.

Dan bagaimana sikap sekelompok pihak yang mengatasnamakan Islam tetapi mencaci-maki sahabat, perlu kiranya diketengahkan di dalam tulisan yang singkat ini, insya Allah.

Siapa Sahabat itu

Mundzir Al As’ad di dalam kitabnya ‘Baraa’atush Shahabah Minan Nifaq’ mengetengah kan perkataan Syaikh Muhammad Abu Syuhbah bahwa, menurut definisi para ulama dan ahli hadits, sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di dalam keadaan mu’min dan meninggal di dalam keimanan.

Maka bagi yang murtad dan meninggal di atas kemurtadan batal sebutannya sebagai sahabat. Bagi yang bertaubat dan kembali kepada Islam, menurut pendapat yang lebih benar kembali pula disebut sebagai sahabat. Bagi yang menyatakan keislaman dan menyimpan kekufuran seperti orang munafik, maka dia bukan termasuk sahabat. Allah dan Rasul-Nya telah menjamin terungkapnya kemunafikan mereka.

Masih di dalam kitab yang sama –Mundzir Al As’ad- mengutarakan bahwa, menurut pendapat jumhur bagi yang lebih lama bersahabat dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mendengar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam , berperang bersama beliau atau berkurban dengan jiwa dan hartanya untuk membela Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mereka lebih berhak untuk dimuliakan dan didahulukan daripada yang lain. Orang yang tidak mendengar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka haditsnya adalah mursal (ditinjau) dari segi riwayatnya, sekalipun ia mempunyai kemuliaan sebagai sahabat.

Ahli Sunnah telah sepakat bahwa-sanya para sahabat adalah adil. Artinya, mereka tidak pernah sengaja untuk mendustakan atau mengkhianati Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, baik dengan lisan maupun perbuatan. Mereka memiliki ilmu dien yang dalam, iman dan taqwa yang tangguh, akhlaq yang mulia dan keberanian yang luar biasa di dalam membela Al Islam dan kaum muslimin. Maksud adil di sini bukan berarti maksum (terjaga) dari salah dan lupa. Akan tetapi kebaikan mereka yang banyak dapat menutupi kekurangan yang manusiawi. (muhri/alhikmahco)

Rujukan: Bara’atus Shahabah min an-Nifaq, Mundzir Al-Asad, Aqidah Al-Aimmah Al-Arba’ah, Abdul Muhsin At-Turky, NII dalam timbangan Aqidah, Suroso Abdussalam, Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Kitabut Tauhid, Syaikh Al-Fauzan, Tafsir Ibnu Katsir. (Suroso Abdussalam)