“Wahai Ukasyah, Pukullah Aku”

“Wahai Ukasyah, Pukullah Aku”

0 104
“..Oleh karena itu kalau ada yang mempunyai hak untuk menuntutku, maka hendaklah ia bangun dan balaslah saya sebelum saya dituntut di hari kiamat.”

ALHIKMAH.CO–Sudah dua puluh tiga tahun, sejak gemetar hebat itu melanda di dalam gelapnya Gua Hira. Sudah dua puluh tiga tahun, sungguh berat penderitaan menyampaikan keberanan, bertaruh nyawa. Sejak kecil, begitu berat ujian, tanpa orang tua. Hidupnya dengan penuh ujian, ketika kalam ilahi itu turun. Kini, Islam telah sempurna.

Arafah, menjadi saksinya. Tak ada lagi wahyu yang akan turun. Tak ada lagi suasana haru, ketika ayat-ayat tentang akhirat itu turun. Tak ada harap lagi, ketika kalam ilahi tentang surga itu dibacakan. Tak ada lagi, tangisan saat ayat azab itu terlafal

Kini, usianya sudah lewat kepala enam. 10 tahun, begitu engkau cepat berlalu. Mekah, negeri nan dirindu, kini menjadi negeri tauhid. Haji pertama kali tertunaikan, dan mungkin jadi haji terakhir kali. Madinah, kota dengan cahaya itu menjadi tempat bumi berpijak. Dua Kota dengan sejuta kisah, perjuangan para sahabat besar. Khadijah, Thalhah, Ibnu Abbas, Umar, Ali, Utsman, Bilal, Abdurrahman bin Auf, hingga kini lebih dari seratus ribu orang

melantangkan kalimat tauhid itu. Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah. Dan Muhammad adalah Utusan Allah.
“Asyhadu an la ilaha ilallah…Asyhaduanla Muhammadan Rasulullah..” gema kalimat tauhid yang syahdu, kini tengah dikumandangkan, sang Muadzin, Bilal. Tak terasa, sudah sepuluh tahun, suara merdunya itu berkumandang di Madinah. Berkumpullah para sahabat. Berduyun-duyun, memenuhi seruan tauhid, menuju kemenangan. Muhajirin, Anshar, kaum yang saling mencintai, berada dalam satu shaf, dibelakan sang Imam, Rasulullah.

Usai salam, sang Imam naik ke mimbar kayunya. Tiba-tiba nabi bersabda,” Allhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak orang kepada jalan Allah dengan izinnya. Dan saya ini adalah sebagai saudara kandung kalian, yang kasih sayang pada kalian semua seperti seorang ayah. Oleh karena itu kalau ada yang mempunyai hak untuk menuntutku, maka hendaklah ia bangun dan balaslah saya sebelum saya dituntut di hari kiamat.”

Para sahabat terdiam. Kasih sayang seorang nabi kepada umatnya begitu tak terperi. Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba sang rasul mulia menyampaikan hal ini? Ya Rasulullah, siapa pula yang akan menuntutmu dengan segala keluhuranmu? Dengan segala kemuliaanmu, tak sanggup diri ini meminta balas, setelah engkau kecup kami dengan Islam.

Setelah kau tukar, begitu kenikmatan dunia, dengan surga Allah? Terlihat rasulullah kembali bersabda, tiga kali.
Sejurus, berdirilah seorang di antara para sahabat itu. Semua mata tertuju padanya. “Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah, kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak mau melakukan hal ini.” Kata seorang sahabat bernama Ukasyah. Para jamaah terheran-heran.

“Sesungguhnya dalam Perang Badar saya bersamamu ya Rasulullah, pada masa itu saya mengikuti unta anda dari belakang, setelah dekat saya pun turun menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha anda, tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu saya pun anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya ingin tahu sama anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta tersebut.” Ukasyah melanjutkan. Apa Jawaban Rasulullah? (halaman 2)

BERITA TERKAIT

0 4

0 92

0 132