Wafat, Umat Kehilangan Sosok Cendekiawan Muslimah Terbesar dalam Sejarah

Wafat, Umat Kehilangan Sosok Cendekiawan Muslimah Terbesar dalam Sejarah

ALHIKMAHCO,– Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Seorang tokoh muslimah terbesar di dunia Islam telah tutup usia. Adalah Shaykhah Bahiyyah bint Hāshim al-Quṭbiyyah al-Filāliyyah, salah satu dari cendekiawan besar tersisa dari generasi terdahulu, yang wafat di usianya yang ke-108 tahun. Ia adalah wanita yang menginspirasi, sekaligus kebanggaan umat Islam.

Yang membuatnya luar biasa adalah karena Shaykhah Bahiyyah merupakan tunanetra. Namun hal tersebut tidak menghalangi keinginan menggebunya dalam menuntut ilmu. Faktanya, ia menulis sendiri Al Quran dengan qiraat Warsh dalam tulisan Braille.

Shaykhah Bahiyyah lahir pada tahun 1908 di Meknas, Maroko. Ia menghafal Al Quran pada usia 14 tahun di bawah bimbingan al-Qadi Muhammad bin Ahamad al-Ismaili al-Alawi, dan telah mempelajari banyak ilmu keislaman dari guru-guru termasyhur di wilayahnya. Di usianya yang ke 18, ia menunaikan haji sekaligus menandai perjalanan menuntut ilmunya pada cendekiawan di tanah Hijaz.

Pada 1955, ia berkelana sampai Tunisia, dan menghabiskan waktu selama lima tahun bersekolah di Zaytunah University. Saat itu, ia menjadi satu-satunya wanita di kampus tersebut.

Di kampus tersebutlah, ia berguru pada cendekiawan besar abad ke-20, Shaykh al-Islam al-Tahir ibn Ashur (wafat pada 1973), dan menerima ijazah darinya. Setelah lulus dengan nilai yang amat baik, ia diminta bertahan di sana, namun ia memilih kembali ke negerinya.

Ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Guru-gurunya, berikut disiplin-disiplin ilmu yang ia pelajari, terdaftar panjang. Ia mempelajari tafsir dan sebagian hadits riwayat Imam Bukhari dengan al-Ḥajj Muḥammad al-Susi, lalu berlanjut menyempurnakannya pada al-Ḥajj bin Isa al-Khalṭi. Kemudian, ia mempelajari hadits riwayat Imam Muslim, sekaligus Ushul Fiqh pada Shaykh al-Zarihani.

Pun, gramatika bahasa Arab tak lupa ia kuasai. Teks-teks kitab Al Ajrumiyyah ia pelajari pada Ahmad bin Siddiq al-Meknasi, juga kitab Alfiyyah dari Ibnu Malik yang diajarkan Mawlay al-Tayyib al-Harif. Kajian Fikih juga ia tekuni pada dua gurunya, Mawlay Abdullah Jam’an dan Muhammad al-Arayishi.

Ia juga sempat menempa ilmu tauhid, Balaghah, dan ilmu lainnya pada dua guru yang terhormat, al-Tahir ibn Ashur dan Allamah Muhammad Taqi al-Din al-Hilali. Di Tunisia, ia pun sempat mempelajari Ilmu Hadits pada Ibn Khawjah, dan Sejarah pada Muhammad al-Aziz.

Di tengah aktivitasnya menuntut ilmu, ia telah berhasil menghafal Al Quran, Shahih Bukhari, dan Muwatta.

Shaykhah Bahiyyah hidup dalam kesederhanaan,dan jauh dari hiruk pikuk kemasyhuran. Namanya tak dikenal, sampai kecermelangannya ditemukan beberapa tahun kebelakang oleh cendekiawan ternama Shaykh Hasan Ali al-Kattani dan Shaykh Muhammad Daniel Muhajir. Sejak itu, banyak orang menimba ilmu padanya, dan mengagumi daya ingat wanita ini meski berusia 108 tahun.

Hal lainnya yang patut dihormati darinya adalah Shaykhah Bahiyyah selalu berpuasa dan rutin beribadah di Masjid Agung Meknas. Sudah tak aneh lagi, bagi orang-orang yang ingin menemuinya agar berkunjung ke masjid tersebut. Ia sangat getol melaksanakan puasa sunnah, dan tak pernah tertinggal melafalkan dzikir.

Dari bibirnya, hanya keluar dzikir kepada Allah, shalawat atas Nabi, doa untuk murid-muridnya, dan nasihat-nasihat yang bersumber pada Al Quran dan Sunnah. Murid-muridnya kerap menyaksikan ingatannya yang luar biasa, terutama dalam mengoreksi sanad dan matan hadits, saat mereka membaca kitab.

Di masa-masa terakhirnya, ia jatuh sakit dan tak lagi mampu pergi ke masjid. Kendati demikian, ia tetap membuka gerbangnya bagi murid-muridnya. Meski buta, ia selalu membolehkan muridnya men-capkan jarinya, dibanding harus menandatangani namanya.

Ia wafat pada 23 Mei 2016 lalu pada usia 108 tahun (atau 111 tahun dalam kalendar hijriyah). Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat, dan meningkatkan derajat Shaykhah Bahiyyah di sisi-Nya. (Aghniya/Alhikmah/Ilmfeed)