Ustaz Erick Yusuf Tak Sodorkan Konsep Dakwah Kuno pada Pemuda

Ustaz Erick Yusuf Tak Sodorkan Konsep Dakwah Kuno pada Pemuda

0 317

ALHIKMAHCO,– Tren musik, fashion, atau gadget sering disematkan pada kehidupan para pemuda kala ini. Ketiga hal ini tak jarang turut mengubah pola pergaulan dan cara berpikir yang kian bebas. Tak ayal, konsep keagamaan menjadi hal yang kerap dianggap kuno, dan sering kali dipisahkan.

Ustaz Erick Yusuf menjadi salah satu dari sedikit dai yang mampu berdakwah di kalangan pemuda, tanpa menyodorkan kesan ‘kuno’ dalam dakwahnya. Memang, menurutnya, untuk bisa berdakwah di kalangan remaja, seorang dai perlu banyak mempelajari permasalahan remaja saat ini, agar kemudian ia paham bagaimana jalan pikiran mereka.

“Ketika sudah memahami mereka, barulah insya Allah kita bisa masuk (untuk mendakwahi mereka),” ujar Ustaz Erick Yusuf, kala ditemui Alhikmah usai mengisi kajian di MT Garem-Garem, beberapa waktu lalu.

Dituturkan penulis buku “99 Celoteh Ustadz Erick Yusuf” ini, permasalahan remaja dari masa ke masa selalu sama. Pencarian jati diri, ikut tren, atau gengsi, selalu mewarnai permasalahan remaja kala ini. Yang membedakan adalah kemasan dan kadar permasalahannya. Semakin tinggi kadarnya, maka remaja akan semakin bingung dan tipis membedakan yang benar dan salah.

Sebab itu, menanggapi dinamika permasalahan remaja ini, Ustaz Erick Yusuf menyatakan perlunya keaktifan dalam mendakwahi para remaja ini, agar mereka memiliki pegangan hidup. Kendati banyak pula remaja yang mengusung aksi positif, ia berpendapat bahwa remaja sudah kehilangan figur teladan. Di celah tersebut, Ustaz Erick Yusuf hadir dan berdakwah dengan aktif.

Dakwah Kreatif

Slogan ‘dakwah kreatif’ menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya dakwah Ustaz Erick Yusuf. Dakwah kreatif, katanya,adalah cara mengajak orang pada kebaikan dengan gaya yang tidak monoton. Khususnya pada remaja, mendengarkan tausiyah di masjid merupakan gaya dakwah yang tak bisa diterapkan.

“Kita coba dengan cara lain, misalnya dengan olahraga, seni, atau sambil kumpul-kumpul,” katanya.

Beberapa kali, ia pun mengajak para remaja untuk bermain musik nasyid bersama di kegiatan Car Free Day. Menyitir QS Ibrahim: 4, dakwah bilisani qaumihi (dakwah sesuai lisan kaumnya) adalah pedoman Ustaz Erick Yusuf dalam menyeru para pemuda pada kebaikan. Dengan musik yang digemari remaja, ia menyelipkan lirik lagu islami dan nilai-nilai kebaikan lainnya.

Tak hanya itu, Ustaz Erick Yusuf membuat komunitas kreatif yang mengusung produktivitas, misalnya karya seni dari barang bekas. Hasil dari karya ini, bisa diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. Ia tak ketinggalan mengajak para pemuda membuat T-shirt dan meme dengan tulisan yang memuat nilai keislaman.

Ia mengumpamakan Wali Songo yang dahulu menggencarkan dakwahnya melalui wayang. Upaya memasukan nilai keislaman dalam budaya adalah salah satu dakwah kreatif para wali, katanya. Pengaruh dakwah para wali ini pun bahkan masih terasa sampai sekarang.

Dakwah kreatif ini pula yang mendekatkan dirinya dengan para pemuda. Pernah, ia datang ke sebuah SMA, dimana para siswanya merasa berjarak dengan dirinya, karena para siswa merasa takut dengan materi yang ia sampaikan. Ustaz Erick Yusuf baru dapat mencairkan suasana ketika ia mengajak mereka membuat forum bernyanyi atau rap  dengan tema keislaman.

“Kita memang perlu trik-trik tertentu untuk mendekat pada remaja,” cetusnya.

Ia menambahkan, dakwah pada para remaja harus mengutamakan aksi, baru kemudian teori. Justru dengan aksi, para remaja ini lebih mampu menyerap hikmah dari aksi positif tersebut. Jika terlebih dahulu dicekoki dengan teori, remaja umumnya urung mengikuti dakwahnya.

Dengan dakwah kreatif ini, ia ingin para remaja tidak apatis terhadap persoalan agama. Ustaz Erick Yusuf ingin mengenyahkan paradigma dan propaganda yang selama ini menyatakan bahwa agama kolot dan tidak asyik. Dengan pendekatan berbeda, agama justru bisa menjadi hal yang menarik untuk dipelajari.

“Kalau sedikit saja mereka mau membuka diri, mereka insya Allah akan aktif menggiatkan agama Allah,” pungkasnya. (Aghniya/Alhikmah)