Undang Tokoh Syiah, Fakultas Ushuluddin UIN Bandung Klaim Ingin Harmoniskan Semua Aliran

Undang Tokoh Syiah, Fakultas Ushuluddin UIN Bandung Klaim Ingin Harmoniskan Semua Aliran

1 241

ALHIKMAHCO,– Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan rekomendasi mewaspadai Indonesia sejak tahun 1984, dan menerbitkan buku ‘Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Umat Islam Indonesia pun telah mengeluarkan beberapa keputusan mengenai bahaya Syiah, seperti NU dalam Qanun Asasi yang ditulis KH Hasyim Asy’ari, dll.

Berbeda pandangan, Iranian Corner bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung justru mengundang  tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam seminar nasional “Pemikiran Politik Imam Khomeini dan KH Abdurrahman Wahid”, Kamis (19/3/15) lalu. Ali Masrur Condro Gunawi, Direktur Iranian Corner UIN, menyatakan pihaknya ingin mengharmonisasikan pemikiran madzhab-madzhab besar.

“Saya ingin harmonisasi, agar gap antar madzhab tersebut tak semakin membesar,” terang Ali, yang juga dosen Fakultas Ushuludin, dihubungi melalui telepon, Jumat (20/3/15) pagi.

Menurutnya, madzhab-madzhab Islam selama ini kerap dikontradiksikan. Sehingga, dalam kajian ini, Ali berusaha mencari persamaan hal antar madzhab. Kajian ini pun, katanya, tidak menitikberatkan pada ajaran Syiahnya, tapi pada pemikiran politiknya.

“Pemikiran politiknya, apa yang bisa disumbangkan pada bangsa dan negara,” katanya.

Respon mahasiswa pun, lanjut Ali, cukup bagus. Ia menyatakan, sebuah universitas perlu terbuka terhadap berbagai pemikiran. Ini bukan kali pertama Fakultas Ushuludin mengadakan kajian. Terakhir, Ali pun mengadakan kajian mengenai Maulana Rumi. Menurut Ali, banyak hal yang perlu dijelaskan pada masyarakat melalui kajian ini agar tak menimbulkan kesalahpahaman.

Terkait UIN yang mengundang tokoh Syiah, Doktor jebolan UIN Bandung, penulis Buku ‘Mencari Titik Temu Syiah-Sunni’ Dr Saiful Islam memberikan pandangannya tentang alamaternya yang mengundang tokoh Syiah.

Menurutnya, UIN hanyalah salah satu dari tempat mencari ilmu, sehingga perkara ilmu tersebut benar atau salah, diserahkan pada si pencari ilmu. Walau dinilai mengundang aliran menyimpang, mahasiswa diharap bisa memilah mana ilmu yang benar.

“Upaya kita hanya mengerahkan berbagai cara untuk mengarahkan pada yang benar,” kata Dr. Saiful Islam.

Dalam kajian seminar nasional “Pemikiran Politik Imam Khomeini dan KH Abdurrahman Wahid” ini, Ahmad Ali Nurdin selaku Wakil Dekan I FISIP UIN, Seyed Ahmad Habibnezhad selaku deputi hukum di Iran, dan Jalaluddin Rakhmat yang selama ini dikenal sebagai tokoh Syiah Indonesia, menjadi pemateri kajian. (Aghniya/Alhikmah)