Ummu Mahjan, Wanita Renta Marbot Masjid Nabi

Ummu Mahjan, Wanita Renta Marbot Masjid Nabi

0 188
pic: google

Wanita tua berkulit legam itu seorang yang sederhana. Namun sejarah telah mengukir namanya dengan tinta emas. Meski nama aslinya tak pernah dikenal hingga kini, namun pribadinya begitu lekat di hati Rasulullah.

ALHIKMAH.CO– Pembaca, bila usia telah senja, juga harta masih papa, apalah yang bisa diberikan? Sementara, tekad menjadi orang yang bermanfaat masih begitu gigih. Mungkin akan banyak yang berkata, ah sudahlah. Namun itu tidak berlaku bagi wanita mulia yang satu ini. Wanita Madinah itu hanya dikenal dengan sapaan Ummu Mahjan, begitulah terang Ibnu Sa’ad dalam Kitab ath-Thabaqat (VIII/414).

Cahaya Islam menyinarinya ketika ia sudah berusia lanjut. Namun, subhanallah, ia tak mau tertinggal dalam membela Islam. Ummu Mahjan menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat Islam. Beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Sebab putus asa adalah jalan yang tidak dikenal di hati orang-orang yang beriman.

Memang, ia tak bisa berbuat seperti laiknya para shahabiyah yang lain. Tak punya harta untuk diinfakkan, cum  tak memiliki tenaga untuk pergi ke medan jihad. Tapi ia tak pernah mau ketinggalan dalam beramal. Ia ingin dirinya dikenang oleh Rasulullah Saw. Maka dengan segenap semangat dan sisa tenaga yang dimiliki. Ia melakukan suatu pekerjaan yang tidak dilirik oleh orang lain, yaitu membersihkan Masjid Rasulullah Saw.

Begitulah, keimanan telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka ia senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Beliau senantiasa menjaga kebersihan Rumah Allah, sebab masjid memiliki peran yang sangat urgen di dalam Islam. Di sanalah berkumpulnya para pejuang agama. Masjid, ibarat pusat kehidupan yang sebanyak lima kali sehari digunakan sebagai wahana untuk bermusyawarah, saling memahami dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah universitas tarbiyah amaliyah yang mendasar dalam membina umat.

Wanita miskin itu begitu lekat dalam ingatan Rasulullah. Setiap hari wanita beruban itu bekerja keras membersihkan masjid. Sehingga Rumah Allah itu benar-benar menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah, bermusyawarah, dan menjadi lembaga pusat pendidikan mendasar. Ia terus menerus melakukan tugasnya hingga suatu malam, Sang Maha Pencipta memanggil Ummu Mahjan r.a, pulang.

Mengetahui wafatnya Ummu Mahjan, kemudian para sahabat membawa jenazahnya pada sepertiga malam yang awal kepada Rasulullah untuk disalatkan. Tapi mereka mendapati Rasulullah Saw., sedang tidur, para sahabat pun sungkan membangunkannya. Akhirnya, mereka menyalatkan dan menguburkan jenazah Ummu Mahjan di Baqi‘ul Gharqad tanpa Rasulullah.

Di suatu ketika, Rasulullah Saw., melihat sampah berserakan di masjid. Beliau merasa heran, ke mana Ummu Mahjan? Sakitkah ia?

Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat. “Aku kehilangan Ummu Mahjan. Sejak pagi tadi aku tak melihatnya,” demikian kata Rasulullah Saw.

“Maafkan kami ya Rasulullah! Kami belum sempat memberitahu engkau. Ummu Mahjan telah wafat tadi malam. Kami tak berani membangunkanmu. Setelah kami pelihara jenazahnya, kami kuburkan di pekuburan Baqi’ul Gharqad.”

Rasulullah Saw., termenung mendengarnya. Kesedihan terpancar dari raut mukanya. Kemudian beliau berkata, ”Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku? Apakah  kalian menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele? Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!”

Para sahabat menunjukkan kuburannya. Lalu Rasulullah Saw., menyalatkannya, kemudian bersabda: ”Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya”.

“Bila ada di antara kamu yang meninggal dunia, beritahu kepadaku, karena orang yang aku Salatkan di dunia, kelak akan menjadi syafaat di akhirat.”

Sesudah berkata demikian, Rasulullah Saw., turut memberitahu disebabkan pekerjaan Ummu Mahjan membersihkan masjid, maka Allah berkenan mendirikan rumah untuknya di Surga. Pernyataan tersebut diabadikan dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah, Barang siapa yang mengeluarkan kekotoran dari masjid, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga.

Demikian pembaca, kisah yang menggugah nurani. Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah, bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekecil apa pun.

Wanita tua berkulit hitam itu memang bukan seorang pahlawan, tetapi sejarah telah mengukir namanya dengan tinta emas. Meski nama aslinya tak pernah dikenal hingga kini, namun pribadinya begitu lekat di hati Rasulullah.

Ummu Mahjan adalah contoh dari orang yang mampu berbuat seadanya tetapi memeroleh kemuliaan dari ketekunan dan apa yang ia lakukan. Ia isi kehidupannya -hari demi hari dengan penuh keberkahan- sampai akhir hayatnya dengan sebuah pekerjaan yang tampak sepele tetapi berlimpah berkah.

Beliau menjadi contoh nyata bahwa suatu amal yang kecil bisa mengantarkan pelakunya hingga ke Surga. Sungguh Allah Swt., telah mengabulkan keinginannya untuk selalu dikenang, tidak hanya oleh Rasulullah Saw., tapi juga seluruh umat Islam yang membaca kisahnya hingga kini. Wallahu a’lam, semoga bermanfaat, pembaca. (Senandika/Alhikmah)