Umar, Pemimpin Besar Berjubah Tambal Sulam

Umar, Pemimpin Besar Berjubah Tambal Sulam

2 267
“Semoga Allah membalas kebaikanmu hai anak muda. Sungguh engkau lebih pantas menjadi khalifah daripada Umar..” 

ALHIKMAH.CO–Tidak ada khalifah yang demikian mencintai kesederhanaan selain Umar bin Khattab. Ialah tempat di mana kaum papa dan jelata menyandingkan harap dan kehidupannya. Tubuhnya tegap. Pelbagai peperangan telah ia lewati. Bahkan, disebut-sebut bahwa Umarlah salah satu ahli strategi terbaik.

Namun, ketika menghadapi rakyat dan soal ilmu agama, Umar tidak akan berhenti mencucurkan air matanya. Umar adalah khalifah, pemimpin yang justru memiliki kesederhanaan daripada rakyat yang dipimpinnya sendiri. Terkadang Umar tidur di atas jerami di rumahnya atau di atas gundukan pasir di bawah pohon kurma. Tak ada kata gengsi atau malu karena amanah yang dia emban.

Ia makan apa saja yang ada, sekadar dapat menopang hidupnya. Makanannya tidak lebih dari seiris daging kering atau sekerat roti yang diolesi minyak campur garam. Pernah suatu saat, Umar menangis, lantaran takut rakyatnya ada yang kelaparan. Ia berujar, “Aku tidak akan puas makan dan minum selama masih ada rakyatku yang kelaparan.”

Sejak didaulat menjadi Khalifah, matanya seperti tak henti menyucurkan bening airnya. Memikirkan, jika ada jalan rusak dan kambing terperosok karenanya, apa yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah, kelak?

Umar hanya merasa bahagia apabila ada rakyatnya yang tidak segan berbicara dan mengutarakan isi hatinya. Seperti saat ia melihat seorang wanita tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk lantaran membawa beban berat di punggungnya. Khalifah Umar mendekati, lantas membawakan bebannya. Beliau tersenyum saat didengarnya perempuan tua itu mengucapkan terima kasih seraya berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu hai anak muda. Sungguh engkau lebih pantas menjadi khalifah daripada Umar..”

Itulah Amirul mu’minin Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu anhu yang memiliki tubuh tinggi besar. Beliau adalah pemimpin dengan wilayah yang sangat luas. Penakluk imperium Romawi dan Persia. Sosok yang sangat disegani oleh raja-raja dunia.

Tapi lihatlah kesederhanannya, ia mengenakan jubah yang tambalannya tidak kurang dari 21 buah. Dengan tangan kirinya memegang tinta dan tangan kanannya memegang kertas dan pena, diketuk-ketuk pintu rumah warganya. Ia meminta kepada para istri yang suaminya sedang berada di garis depan medan jihad, atau berada di perbatasan negeri, agar mereka mendiktekan kepadanya isi surat dan pesan kepada suami-suami mereka, ketika petugas kurir sudah siap berangkat mengantarkan surat-surat itu.

 Sang Khalifah pun mengetuk pintu-pintu mereka untuk suatu keperluan lainnya, “Sebutlah kebutuhan-kebutuhan Anda. Siapa yang akan membeli sesuatu ke pasar katakan kepadaku atau kirimkanlah pembantu dan saya akan pergi ke pasar bersamanya, sebab saya khawatir mereka tertipu sewaktu berbelanja.”

Setiba di pasar, ia sendiri yang berbelanja dan membeli semua kebutuhan yang sudah dipesan, lalu memasukkan kedalam keranjang dengan tangannya sendiri. Ialah Khalifah Umar yang hampir setiap saat ‘blusukan’ ke sudut-sudut kota, hingga penjuru negeri, memperhatikan kondisi rakyatnya.

Tatkala Khalifah Umar kembali ke Madinah dari Negeri Syam, ia keluar sendirian untuk melihat kondisi warga negeri. Ia melewati seorang wanita tua di rumahnya yang sederhana, lalu ia menghampiri.

“Siapa lagi ini? Apa saja yang diperbuat Umar?” tanya perempuan itu.
“Ia baru datang dari Syam dalam keadaan selamat” jawab Umar.

“Tidak begitu,” jawab si wanita tua ketus.

“Memangnya kenapa?” tanya Umar kaget.

“Demi Allah, ia belum memberikan apapun kepadaku sejak dia diangkat menjadi Amirul Mukminin,” sahut wanita itu.

“Tapi Umar tidak tahu kondisimu karena engkau tinggal di sini, tempat yang dia tidak mengetahuinya,” Umar menjelaskan.

“Subhanallah… Demi Allah, aku tidak menyangka ada seorang yang diangkat untuk mengurus persoalan kaum Muslimin tapi tidak tahu apa yang terjadi pada rakyatnya,” sergah wanita tua itu.

Sontak Umar pun menangis dan berkata dalam hati, “Celaka Umar, semua orang lebih pintar dari-mu, hingga orang tua renta ini. Ya Umar..” Khalifah Umar berkata, “Wahai ibu, berapa engkau akan menjual kezaliman Umar padamu kepadaku, aku ingin melepaskannya dari neraka,”

“Engkau jangan bercanda, semoga Allah merahmatimu,” sahut wanita tua.

“Aku tidak bercanda,” tegas Umar.

Akhirnya terjadi kesepakatan dimana Umar “membeli” kezaliman itu dari wanita tua dengan harga 20 dinar emas. Ketika transaksi itu tengah berlangsung tiba-tiba Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas`ud muncul. Mereka memberi salam,

Asaalamu`alaika ya amiral mu’minin”. Mendengar salam itu sepontan wanita tua itu meletakkan tangannya di kepala sambil berkata, “Aduh… celaka aku, aku telah memaki amirul mu’minin di depannya.”

“Tidak mengapa ibu, semoga Allah merahmatimu” kata Umar menenangkannya.

Khalifah Umar meminta sepotong kain untuk menulis kesepakatan ini, tapi tidak ada, sehingga ia merobek sedikit bajunya, lalu ia menuliskan:

Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah harga pembelian Umar dari Fulanah atas kezaliman padanya semenjak diangkat menjadi khalifah hingga hari ini seharga 20 dinar “. Lalu Umar berkata kepada wanita tua itu,” Ketika pengadilan di Mahsyar nanti tiba, jangan lupa bahwa Umar telah lepas dari beban ini, disaksikan oleh Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud”. Oleh Umar tulisan itu diberikan kepada putranya sambil berpesan: “Jika ayah mati nanti, selipkan sobekan kain ini di kafanku, untuk aku bawa menghadap Rabb-ku nanti ”