Ujian Bertubi-tubi, Kesabarannya Tak Kenal Henti

Ujian Bertubi-tubi, Kesabarannya Tak Kenal Henti

0 130

Beberapa hari setelah keluar tahanan, Pak Alim mengundang teman-temannya untuk syukuran, istilah yang sering pula kita gunakan. Beliau mengutus putranya untuk menyebarkan undangan. Namun ujian Allah belum usai. Ketika mengedarkan undangan untuk acara ayahnya, putra tercinta itu tertabrak truk dan meninggal.

ALHIKMAH.CO–Siang hari yang cerah di kota Jogja. Saya memarkir motor di halaman rumah seorang dosen. Bersamaan dengan itu, nampak sebuah mobil kijang milik aparat militer baru saja parkir. Usai salam, saya masuk dan diterima di ruang tamu. Saat itu dua orang aparat militer yang turun dari mobil juga tengah memasuki ruang tamu. Dan untuk beberapa waktu, nyonya rumah nampak berbicara hampir tiada putus dengan para tentara. Saya tak mendapat kesempatan bicara sepatah kata pun.

Sebagai seorang mahasiswa yang juga menjadi reporter sebuah majalah, situasi ini sangat menyiksa. Berkali-kali saya ingin ikut nimbrung, tapi selalu dipotong dan dihentikan oleh nyonya rumah. Sampai kemudian dua orang tentara militer itu pamit. Barulah kemudian Nyonya Sahirul Alim ini mengajak saya berbincang. Itu pun ternyata tidak lama. Malah mirip-mirip interogasi.

“Maaf ya, Dik. Adik dari mana?” tanya beliau sambil mempersilakan saya minum teh manis panas khas Jogja.

“Saya dari Bandung, Bu. Saya kuliah di Unpad dan mendapat amanah dari sebuah majalah untuk mewawancarai Bapak. Tahun lalu saya tinggal di Jogja. Jadi saya sering mengikuti ceramah-ceramah Bapak, baik di kampus ataupun masjid lain. Bagaimana kabar Bapak, Bu?” tanya saya dengan hati-hati.

“Maaf ya, Dik. Sebaiknya Adik segera kembali ke Bandung sekarang juga. Jangan menunggu malam. Pak Alim ditahan di Semarang. Tuduhannya mengada-ada. Beliau dianggap sebagi otak peledakan Candi Borobudur. Entahlah, yang jelas, beliau dianiaya dan semua yang bersentuhan dengan Pak Alim harus ikut dicurigai. Adik lihat sendiri tadi bagaimana tentara bertanya yang engga-engga yang saya tidak mengerti,” kata Bu Alim dengan tetap tegar.

“Saran saya, Adik segera pulang ke Bandung sebelum aparat militer mencari-cari alasan untuk menghubungkan Adik dengan Pak Alim yang dipenjara.”

“Baik, Bu. Kalau itu baik menurut Ibu, saya mohon pamit saja,” kata saya sambil bergegas menuju motor yang saya pinjam dari seorang teman.

Di kereta menuju Bandung, saya merenungkan kejadian siang hari yang mengherankan itu. Oh, saya jadi mengerti mengapa Bu Alim tidak membiarkan saya berkomentar dan ikut nimbrung dalam pembicaraan dengan dua tentara tadi. “Agar mereka tidak mengembangkan dugaan hubungan saya dengan Pak Alim,” pikir saya. Dugaan, praduga atau sekadar indikasi samar-samar pada zaman itu bisa berubah menjadi bukti yang cukup untuk diambilkan tindakan. Bu Alim, wanita bersahaja yang cerdas, membebaskan saya dari kemungkinan ikut-ikutan berurusan dengan rezim yang represif dan otoriter.

Belasan tahun kemudian, ketika reformasi bergulir, saya mendengar banyak tahanan politik dibebaskan karena mereka memang ditahan tanpa proses pengadilan yang jelas atau bahkan ada yang ditahan tanpa proses pengadilan. Tahanannya berpindah-pindah. Surat bukti penahanan hanya dikeluarkan dari instansi terakhir yang menerima. Tapi Pak Alim masih dalam tahanan. Beliau tidak memperoleh diskon-diskon istimewa seperti yang dinikmati para tahanan dari kalangan tertentu.

Sampai suatu ketika, saya mendengar Pak Alim dibebaskan karena mendapat perhatian khusus dari Presiden Habibie. Mungkin ada yang memberi tahu Pak Habibie bahwa masih tersisa seorang tahanan yang tak jelas apa salahnya. Tahanan itu bernama Ir. Sahirul Salim, MSc., seorang Ahli Teknologi Kimia Senior di UGM yang juga seorang Hafidz Qur’an. Pak Habibie yang ilmuwan itu lantas mengeluarkan Pak Alim dari tahanan. Tapi lihatlah kondisi Pak Alim saat itu. Kepala dan kakinya menderita luka permanen, bonyok-bonyok karena mendapat siksaan di luar peri kemanusiaan.

Beberapa hari setelah keluar tahanan, Pak Alim mengundang teman-temannya untuk syukuran, istilah yang sering pula kita gunakan. Beliau mengutus putranya untuk menyebarkan undangan. Namun ujian Allah belum usai. Ketika mengedarkan undangan untuk acara ayahnya, putra tercinta itu tertabrak truk dan meninggal.

Esoknya semua kerabat dan sahabat mengantar ke pemakaman lalu berkumpul di rumah Pak Alim. Ketika para tamu masih berkumpul, Pak Alim mohon izin. “Maaf, Sahabat-sahabat sekalian. Malam ini saya ada jadwal pengajian. Sudah saya janjikan. Jadi tidak enak kalau tidak datang. Saya mohon diizinkan untuk melaksanakan amanah pengajian,” kata Pak Alim.

Allaahu akbar. Betapa tabahnya engkau, Pak Alim. Tanpa dendam dan putus asa, engkau laksanakan semua amanah dan tanggung jawab dakwah meski kebebasan dan kemerdekaan telah dirampas selama belasan tahun.

 

“Dan sungguh, Kami akan benar-benar menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar diantara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad, 47:31)

BERITA TERKAIT

0 4

0 34