True Story: Darah dan Air Mata untuk Sang Putri Tercinta

True Story: Darah dan Air Mata untuk Sang Putri Tercinta

0 194
orang tua dari (alm) Eli

Ia percaya, usaha  dan doa akan membawa anaknya menjadi lebih baik. Sebab ia berdoa pada yang Maha Penggenggam Nyawa. Mudah bagiNya untuk menghidupkan dan mematikan, apalagi sekadar menambah umur beberapa angka.

 

PEMBACA, apa jadinya hidup, bila ternyata buah hati tersayang kita harus mengidap penyakit yang saat ini belum ditemukan obatnya? Tentu hal itu akan membuat hati orang tua manapun cemas bukan kepalang. Sebagaimana yang dialami oleh keluarga Oman Suryadi, di mana anak pertama mereka, Eli Darmayanti divonis Thalasemia.

Kepada Alhikmah, Pak Oman, demikian sapaan akrabnya, berceritera bagaimana suka duka, perjuangan dan pengorbanan mengurus Eli agar bisa bertahan hidup, lebih lama dari yang divoniskan.

“Tahun 1985 di Rumah Sakit Hasan Sadikin, saya begitu terpukul setelah mengetahui anak saya, Eli Darmayanti mengidap Thalasemia di usia yang terlalu dini, 4 bulan,” ujar Pak Oman mengawali cerita.

Sebelumnya, lanjut Pak Oman, dokter hanya menduga Eli mengidap Bronkitis. Namun semua penilaian itu berubah setelah sepekan kemudian hemoglobin (hb)-nya semakin menurun dan itu drastis. Juga wajah pucat, rambut jadi pirang, dan dari hidung keluar lendir yang tidak biasa.

Pak Oman terdiam, berpikir sejenak. Thalasemia? Apa itu? Firasatnya berkata bahwa penyakit itu lebih bahaya dari Bronkitis. Dokter menjelaskan, bahwa Thalasemia adalah penyakit penumpukan zat besi pada organ tubuh manusia, sehingga mengakibatkan cacat fisik pada penderitanya. Untuk kasus Eli, penyakit ini menumpuk di jantung, dan untuk obatnya belum ditemukan di belahan dunia manapun.

Melihat kondisi anaknya saja sudah sedemikian memilukan, apalagi mendengar untaian penjelasan sang dokter, seolah bumi runtuh seketika. Kaki Pak Oman seakan tiba-tiba lumpuh. Tidak kuat rasanya menahan air mata. Dokter mengelus pundak Pak Oman, mencoba menenangkannya.

“Lantas apa yang harus saya lakukan agar bisa menatap Eli lebih lama?” lanjut Pak Oman ketika itu.

Ternyata tidak mudah, pembaca. Eli membutuhkan donor darah tiap bulannya. Ya, secara syariatnya, dengan rutin cuci darah itu bisa membuat Eli bertahan hingga 10 tahun ke depan. Walaupun prosentase Eli tetap hidup kemungkinannya kecil, serta tak mudah juga mendapatkan donor darah saban bulannya, tak serta merta membuat Pak Oman berputus asa. Ia percaya, usaha  dan doa akan membawa anaknya menjadi lebih baik. Sebab ia berdoa pada yang Maha Penggenggam Nyawa. Mudah bagiNya untuk menghidupkan dan mematikan, apalagi sekadar menambah umur beberapa angka.

Subhanallah, setelah bulan berganti tahun, tak terasa Eli Darmayanti tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, lugu, dan pintar. Eli sekolah di SMAN 1 Bandung, seperti gadis seusianya, ia bermain, berkumpul, bersenda gurau tanpa peduli kalau ditubuhnya masih terdapat penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawanya.

Setiap hari setiap bulan, Pak Oman perjuangkan pikiran dan tenaganya untuk kesembuhan Eli. Bekerja di Hotel Priyangan Bandung saat itu memang sangat menguras waktu, sehingga kerap kali ia kewalahan membagi waktu antara bekerja dan membawa Eli ke rumah sakit. Bagi Pak Oman, tidak ada alasan untuk Eli tidak bisa kembali sehat dan ceria sebagaimana anak seusianya. Ia laik untuk sembuh dan mempunyai masa depan yang cerah.

Suatu ketika, saat sedang berkumpul di rumah, Eli mengerang kesakitan. Perutnya melilit sedemikian rupa. Apa yang terjadi? Belum pernah ia mengeluh seperti ini, tanya Oman. Memang Eli kerap kali muntah-muntah karena Hb-nya menurun. Namun untuk yang ini, kembali firasat Pak Oman merasakan hal yang tak diinginkan.

Tanpa alas kaki, Oman terpogoh membawa Eli ke rumah sakit dengan motornya. Melihat kondisi Eli yang semakin pucat, setelah diperiksa dari Unit Gawat Darurat (UGD), Eli pun dipindahkan ke ruang Insentive Care Unit (ICU) untuk proses penanganan yang lebih lanjut.

Pak Oman menunggu di depan ruangan ICU sambil terus meremas-remas kedua tangannya. Ia berdoa. “Ya Allah sembuhkan Eli, ambil saja nyawa saya asalkan Eli bisa sembuh,” doanya sambil bercucuran air mata. Tak berselang lama, 15 menit berlalu, dokter pun keluar dari ruang ICU. Pak Oman tak tahu apa yang terjadi, hanya satu kalimat yang diharapkannya, anaknya baik-baik saja.

Namun ternyata tidak. Ia malah mendapatkan dua pilihan dari sang dokter. Pertama, Eli harus melakukan operasi fentilator jantung agar ia bisa bernafas dengan mudah, hanya saja tingkat keberhasilannya sangat tipis. Atau kedua, Oman pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sontak, Pak Oman kembali mengucurkan air matanya ketika dokter memberikan dua pilihan pahit yang menurutnya sama-sama sulit.

Oman merasa inilah titik di mana dirinya ada di posisi terbawah, terpuruk, dan bingung harus berbuat apa. Ia berteriak sekencangnya tanpa memikirkan orang di sekitar, ia menangis, ia menjerit “YA ALLAH TOLONG SEMBUHKAN ANAK SAYA, AMBIL SAJA NYAWA SAYA SEBAGAI PENGGANTINYA, YA ALLAH, AMBIL!!” jeritnya sambil memukul-mukul dirinya sendiri.