Tinjauan Sains Islam, Berobat dengan Sesuatu yang Haram

Tinjauan Sains Islam, Berobat dengan Sesuatu yang Haram

0 137
binfar.kemkes.go.id

DIRIWAYATKAN dari Ummu Darda’, dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit sekaligus obatnya dan menjadikan setiap penyakit memiliki obat. Karena itu, berobatlah dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.(HR. Abu Dawud dan Thabrani)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah melarang berobat dengan obat yang buruk.” Abu Isa berkata, Maksud obat yang buruk itu racun.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Menurut Ibnul Qayim, obat semacam itu diharamkan karena keburukannya. Dan umat Islam jangan mengonsumsinya. “Karenanya tak pantas bagi mereka untuk mencari kesembuhan dengan mengonsumsi obat seperti itu. Karena akan mengakibatkan munculnya penyakit lain yang lebih berbahaya, terutama pada organ vital di dalam tubuh,” kata Ibnul Qayim. Dengan kata lain, walau bermanfaat, risiko mengonsumsi obat yang haram jauh lebih besar. Efek negatifnya melebihi khasiatnya.

Selain itu, pada tahap berikutnya akan menjadi kebiasaan. Berobat tak lagi untuk mendapatkan kesehatan melainkan untuk kenikmatan semata. Padahal Allah telah menutup semua jalan menuju barang haram tersebut.

Obat yang baik dan halal itulah yang bermanfaat bagi penyembuhan penyakit. Efek sampingnya kecil, bahkan nyaris nihil. Adapun obat-obat yang haram, di antaranya khamar telah ditolak dunia medis sejak lama. Bahkan dihapus total dari kamus kedokteran.

Dalam Kitab Al Mughni al Muhtaj, beberapa ulama Mazhab Syafi’i membatasi haramnya pengobatan dengan khamar. Menurut mereka berobat dengan khamar hukumnya haram jika itu murni dan tidak bercampur dengan bahan lain. Dan jika bahan yang lain ini bisa merusak sifat khamar, maka khamar campuran ini diperbolehkan. Tapi dengan syarat, harus berdasar resep dokter muslim yang adil. Mengonsumsinya pun sedikit saja, tidak sampai memabukkan. Atau obat yang boleh diminum itu ketika tidak ada lagi rasa, warna, dan bau khamar di dalamnya.

Maksud bahan yang dapat merusak khamar adalah bahan obat yang mengubah konsentrasi khamar saat dicampurkan. Atas dasar ini untuk meminum obat yang mengandul alkohol disyaratkan tiga hal berikut;

  1. Pasien terpaksa mengonsumsi obat itu, karena tidak ada obat halal lain yang khasiatnya sama dengan obat yang mengandung alkohol,
  2. Dosisnya tidak menyebabkan mabuk,
  3. Pengaruh bahan campuran itu melebihi khamar.

Di antara contoh pengobatan dengan barang haram adalah penggunaan obat bius dalam operasi bedah atau untuk mengurangi rasa nyeri yang sangat. Atau penggunaan emas di kedokteran gigi. Demikian pula penggunaan beberapa hormon yang diambil dari enzim babi, dan penggunaan organ mayat dalam praktik transplantasi.

Hadits-hadits yang dipaparkan di muka, menegaskan larangan berobat dengan sesuatu yang haram. Larangan Rasulullah yang bersifat mutlak itu mendorong adanya kesepakatan para ulama mujtahid untuk menyimpulkan keharaman obat tersebut.

Namun, ada beberapa kondisi yang terkadang memaksa seorang dokter memberikan resep obat haram untuk menyelamatkan nyawa pasien. Lantas bagaimana hukumnya?

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al Baqarah [2]: 173)

Lihat juga ; Q.S Al Anam [6]: 119 dan  Q.S Al Maidah [5]: 3.

Ayat-ayat di atas menyatakan Allah membuat pengecualian beberapa kondisi pengharaman makanan. Dia menyebutkan secara mutlak mengindikasikan dibolehkannya mengonsumsi makanan tersebut dalam kondisi darurat, seperti untuk menghilangkan lapar yang sangat atau mengobati penyakit.

Atas dasar itu, seorang dokter jika mengkhawatirkan keselamatan pasien, sementara tidak ada obat halal yang dapat menyembuhkan penyakitnya, maka pasien itu dibolehkan meminum obat haram itu. Wallahu’alam []

source : Buku Pintar Sains dalam Al Qur’an karya Dr. Nadiyyah Thayyarah