The (Real) Next Generation

The (Real) Next Generation

1 85
pict. fb q-gen

Dunia Islam kian menggeliat dan secara masif ingin menunjukan tajinya di mata dunia Barat. Kesadaran beralquran, kiranya mulai menemukan titik terang dengan terlahirnya organisasi-organisasi pencinta Alquran. Dari sekian banyak itu, terseliplah nama Quranic Generation (Q-Gen) yang sampai saat ini tetap konsisten menanamkan nilai-nilai Alquran di hati para pemuda.

 “Kalau bisa dibilang, terbentuknya Quranic Generation ini berawal dari kegelisahan,” ungkap Ketua Q-Gen Pusat, Toni Heryanto saat berbincang-bincang dengan Alhikmah ketika perhelatan Tabligh Akbar yang digelar Q-Gen Bandung di Masjid Pusdai medio Januari 2014 lalu.

Para pendirinya adalah sekumpulan para jamaah Ustadz Bachtiar Nasir yang tergabung di Ar-Rahman Quranic Learning Center (AQL center) Jakarta. Mereka mengazamkan diri ingin membentuk sebuah komunitas yang dapat mengayomi kegiatan positif pemuda dengan Alquran.

Tak sekadar azam bersama, sebagai langkah awalnya, kegiatan pertama pun diluncurkan. Yaitu, Live Mapping pada Februari 2010 di Masjid Al-Latief, Jakarta Selatan. Kegiatan ini rupanya menambah kekuatan personal. Begitupun seterusnya, tiap minggu kegiatan-kegiatan serupa di masjid kian santer dilakukan. Hasilnya, para jamaah yang merasa satu visi dengan para pemuda pengajian tadi pun mulai bertambah, dan digelarlah kajian pertama tadabur quran saban Sabtu pagi di Masjid Al-Latief kala itu.

“Saya masih ingat, saat itu yang rutin ikut kajian tadabur itu sekitar dua puluh orang,” kata Toni mengenang.

Hasrat untuk melegalkan perkumpulan ini kian tak terbendung, ketika para pemuda tadi mengadakan acara bakti sosial penggalangan dana korban banjir di Kebayoran Baru-Jakarta. Dari situlah tercetus ide untuk menjadikan perkumpulan ini menjadi sebuah badan organisasi yang sah. Dengan harapan, wilayah pergerakan ini bukan sebatas di daerah Jakarta, tapi menusantara. Maka 25 Desember 2010 yang lalu, di Universitas Yarsi Jakarta Selatan, dalam konsep acara talk show, terbitlah nama Quranic Generation, sebagai sebuah komunitas yang terorganisir yang sama-sama memiliki kecintaan dalam mentadaburi quran.

Launching Q-Gen ini langsung mendapat respon yang luar biasa dari jamaah yang juga cinta Alquran dan memiliki kegelisahan yang sama. Bukan saja dari segi kuantitas peserta yang mencapai 1400-an jamaah, melainkan juga asal kedatangan para jamaah yang jauh dari luar pulang Jawa, misalnya dari Bali dan Makasar. Padahal pihak Q-Gen sendiri merasa tidak terlalu gencar mempromosikan Q-Gen, apalagi sampai ke Bali atau Makassar. Bak terembuskan angin di tengah teriknya mentari, hal inilah yang membuat pengurus awal Q-gen begitu optimis, bahwa pergerakan ini akan menggaung nantinya.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, maka di tahun-tahun pertamanya selain mengadakan kajian rutin, Q-Gen langsung tancap gas dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang besar lainnya, seperti Quranic Fun Camp dan Workshop Tadabur Quran di Masjid Bank Indonesia. Tentu saja hal ini dilakukan dalam rangka menjaring kuantitas yang lebih besar dan mengenalkan organisasi Q-Gen. Selain itu, hal yang utama adalah menyebarkan spirit tadabur Alquran di beragam kalangan, pemuda sebagai sasarannya.

Memasuki tahun 2012, ekspansi Q-Gen dimulai. Bandung menjadi kota pertama yang dituju, Masjid Istiqamah menjadi tempat awal yang dibidik Q-Gen untuk dibuat markas kedua. Dengan konsep talk show juga, animo pemuda Bandung pun tak kalah mengharu biru, di awal-awal ekspansinya di acara tersebut Q-Gen berhasil menjaring 500-an jamaah.

Syukur wal alhamdulillah, ternyata yang 500 itu wassallam,” ujar Abu Khansa, sapaan akrabnya sambil tersenyum.

Bukan tanpa usaha, kajian rutin di Masjid Istiqamah pun semaksimal mungkin diadakan, hanya saja memang kapasitas Q-Gen saat itu untuk membuka cabang masih perlu perancangan kembali. Akhirnya lamat-lamat satu persatu jamaah tergerus waktu hingga tak ada satupun yang bisa di follow up.

Menyerah? Tidak.. Spirit menyebarkan cinta Alquran masih berpendar di hati pengurus Q-Gen. Sebab mereka memahami perjuangannya sebagai ibadah. Atas modal itulah mereka mencoba melebarkan sayap di medan yang lain.

Mengapresiasi kedatangan jamaah ketika launching pertama kali ada yang datang dari Bali dan Makassar, maka atas nama bismillah, dibuatlah cabang dari kedua daerah tersebut, walaupun tak serempak.  Adalah Kota Bali sebagai pelabuhan pergerakan Q-Gen yang kedua. Alasannya sederhana, Ustadz Bachtiar Nasir pun memiliki jamaah di sana. Berbekal ikatan itulah dibentuklah cabang Q-Gen Bali pada 5 Juni 2012.

Saat diluncurkannya Q-Gen Bali, subhanallah antusiasme di sana lebih mengharukan lagi. Keminoritasan mereka tak memudarkan semangat mengaji quran. Tak kurang dari 200 orang yang rutin menghadiri dwipekanan kajian tadabur quran tiap Ahad paginya.

Seolah masih penasaran dengan Bandung, maka pengurus Q-Gen kembali membidik kota kembang. Kini Masjid Pusdai yang disambanginya. Dengan alasan, jangkauan Masjid Pusdai mempunyai kapasitas dan jangkauan yang lebih besar ketimbang yang sebelumnya. Maka 12 September 2012 diluncurkanlah Q-Gen Bandung. Dan benar, ribuan jamaah kembali memadati Masjid Pusdai dan tiap pekan Sabtunya sekitar 90 orang yang rutin menghadiri kajian tadabur quran.

Toni menambahkan, dewasa ini umat muslim masih terpaku pada membaca Alquran saja dengan target khatam. Tidak banyak yang sampai pada tataran menghayati maknanya, mendalami tafsirannya, dan mengaitkan dengan latar belakang turunnya ayat itu.

“Bukannya tidak boleh, tapi alangkah lebih baiknya bila membaca Alquran itu sekaligus mentadaburinya. Dengan begitu, alquran benar-benar akan menjadi pedoman dan penerang kehidupan kita. Konsep inilah yang sedang dibangun Q-gen, bahwa dengan mentadaburi Alquran, kita bisa mendapatkan lebih dari sekadar membaca. Inilah perjuangan kami, berawal dari sebuah keresahan berlanjut ke aksi nyata,” pungkas Toni. (Kevin/Alhikmah)

artikel Komunitas Quranic Generation ini dikutip dari tabloid alhikmah silaturahim komunitas edisi 92