Ternyata Islam Memuliakan Anak Yatim, Lho!

Ternyata Islam Memuliakan Anak Yatim, Lho!

0 94

DALAM Islam anak yatim mempunyai kedudukan tersendiri daripada anak-anak lainnya. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang secara khusus menyerukan untuk memerhatikan dan menyayangi mereka. Misalnya di ayat berikut : …Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah:Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu..” (QS. al-Baqarah [2]: 220). [i]

Anak yatim adalah mereka yang sudah tidak memiliki orang tua lagi dan keluarga yang memeliharanya. Sebab itu, menyayangi dan berlemah lembut dengan anak yatim adalah suatu akhlak yang terpuji. karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang dari ayahnya yang telah tiada.[ii]

Barangsiapa yang tidak memiliki kepedulian terhadap nasib orang-orang miskin dan anak-anak yatim, serta menelantarkan mereka, sedang ia tergolong orang yang berkecukupan dan mampu, dikategorikan sebagai pendusta agama. Perhatikan ayat berikut: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. al-Ma’un [107]: 1-3).

Dalam usianya yang masih belia, tentu mereka belum mampu bekerja sendiri untuk memenuhi hidupnya sehari-hari. Itulah sebabnya mereka mendapat perhatian khusus dari Rasulullah SAW, sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut: Rasul SAW bersabda: saya dan orang yang menanggung (memelihara) anak yatim (dengan baik) ada surga bagaikan ini, seraya beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan beliau rentangkan kedua jarinya itu. (HR. Bukhari).

Walaupun demikian, hadits di atas menjadi pengecualian manakala orang yang mengasuh anak yatim tersebut tega memakan harta  dan rezeki yang diperuntukan bagi anak yatim. Sungguh perbuatan demikian amatlah terkutuk. Allah SWT berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. an-Nissa [4]: 10). [iii]

[i] Muhsin, (2003), Mari Mencintai Anak Yatim, Jakarta: Gema Insani Press, hlm. 2

[ii] Mahmud Syaltut, (1991), Metodologi Al-Qur’an, Solo: CV Ramadhani, hlm. 116

[iii] Moch Syamsi Hasan dan Ahmad Ma’ruf, (2002), Khotbah Jumat Sepanjang Masa, Surabaya: Karya Agung, hlm. 391-393