Terkenal di Langit, Tak Dikenal di Bumi

Terkenal di Langit, Tak Dikenal di Bumi

0 138
pic iqbalardimansyah blog

Namanya yang sering disebut-sebut Rasulullah SAW. sebagai orang yang sangat mengenal, dekat dengan Allah dan penduduk langit, menjadikan para sahabat penasaran dan ingin sekali mengetahui siapa itu Uwais Al Qarni

Uwais bin Amir bin Juz bin Muraad, berasal dari daerah Qarn, Yaman. Karenanya, lebih dikenal dengan sebutan Uwais Al Qarni. Tidak ada yang tahu persis kapan Uwais al Qarni lahir. Yang pasti, semenjak kecil, getir kehidupan sudah harus ia jalani. Kemiskinan akut mendera kehidupannya.

Berdua! Ya.., hanya berdua. Di sepetak gubuk, bersama sang ibu yang sudah renta, tanpa kehadiran seorang ayah di sisinya. Terlebih sanak saudara.

Alhamdulillah, Allah berkenan menambatkan iman Islam di dadanya. Kekayaan yang tak ternilai, yang ia yakini sebagai jalan kebenaran satu-satunya. Itulah yang menguatkan dirinya, melewati hari-hari yang berat, melawan kepapaan.

Pakaian sehari-hari miliknya hanya dua helai; satu untuk menutup tubuhnya, satu lagi sebagai selendang. Terkadang, pakaian  yang ia kenakan, hanya cukup untuk menutup auratnya. Tak heran, saban menjelang shalat Jumat, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai penggembala ini kerap kebingungan, mencari penutup tubuh yang pantas untuk dikenakan.

Meski begitu, pantang bagi seorang Uwais untuk mengiba, meminta-minta. Sebaliknya, ia gemar bersedekah. Jerih payahnya sebagai gembala, ia gunakan untuk menyambung hidup dan merawat sang ibu yang tengah didera sakit dan lumpuh.

Lantaran itu, walau hidup bersamaan pada zaman Rasulullah, Uwais belum pernah bertemu Nabi akhir zaman itu. Ia sibuk menjaga dan merawat ibunya. Satu waktu, keinginan untuk bersua kekasih Allah, Muhammad Rasulullah, membuncah di dadanya. Keinginan yang tak lagi tertahankan. Maka Uwais pun menghadap sang ibunda, lalu mengutarakan niatnya untuk pergi ke Madinah, menemui sang Nabi akhir zaman.

Meski berat, demi melihat tekad sang buah hati, ibunda pun akhirnya merestui kepergian Uwais dengan syarat; setelah bertemu baginda Rasul, agar segera pulang. Mendapat restu sang ibunda, Uwais sumringah. Bersegera ia persiapkan perbekalan seadanya.

Risiko ratusan kilometer perjalanan kaki dari tempat tinggalnya ke Madinah, tak mampu menyurutkan niat Uwais untuk menemui Sang teladan umat. Ya, perjalanan kaki, lantaran tak ada kendaraan yang ia miliki.

Sekian lama perjalanan ia tempuh, tibalah Uwais di depan rumah Rasulullah. Haru bercampur bahagia menyeruak dalam dada. Terbayang dalam benaknya, tak lama lagi kesempatan itu akan tiba. Kesempatan untuk bersitatap langsung dengan junjungan umat tercinta.

Namun, rupanya Allah berkehendak lain. Rasulullah sedang tidak berada di Madinah. Ia tengah memimpin misi jihad bersama para sahabat. Mendengar itu, Uwais teringat sang Ibunda. Sebagai manusia biasa, tentu ada sedikit kecewa dalam dada. Namun ia sadar, itu semua adalah kehendakNya. Tak menunggu lama, Uwais segera kembali putar haluan menuju arah pulang. Perjalanan panjang dan melelahkan kembali ia tempuh, demi baktinya pada sang Ibu.

Keutamaan Uwais

Sepulangnya Rasul dari medan jihad, Aisyah mengabarkan kedatangan seorang lelaki bernama Uwais dari Yaman, yang ingin bertemu beliau. Mendengar itu, Rasulullah kemudian bersabda kepada Umar ra dan Ali ra ; “Wahai Umar, wahai Ali! Apabila kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah kepadanya agar kiranya ia memintakan ampunan untuk kalian, maka Allah akan mengampuni kalian berdua.”

Dialah Uwais Al Qarni, yang doanya pasti dipenuhi oleh Allah. Sampai-sampai Umar dan Ali yang dijamin masuk surga pun memintakan doa untuk diri mereka kepada Uwais. Namanya yang sering disebut-sebut Rasulullah sebagai orang yang sangat mengenal,dekat dengan Allah dan penduduk langit, menjadikan para sahabat penasarandan ingin sekali mengetahui siapa itu Uwais Al Qarni.

Setiap kali ada kafilah dari Yaman yang datang ke Madinah, setiap itu pula Umar bin Khattab selalu menanyakan apakah di antara yang datang itu ada yang bernama Uwais bin Amir. Hingga suatu waktu, dikisahkan Umar bertanya kepada kafilah yang datang dari Yaman.

”Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?”,

mereka menjawab,”Ya”.

Lalu Umar berjalan menghampiri Uwais dan bertanya, ”Engkau Uwais bin Amir?”

Orang itu menjawab, ”Ya”

Umar berkata, ”Dari suku Murad dan Qarn?”

Dia menjawab, ”Ya”

Umar bertanya, ”Apakah engkau dahulu mempunyai penyakit belang (kusta), lalu Allah menyembuhkanmu dari penyakit itu kecuali sebentuk dirham yang tersisa?”

Uwais menjawab,”Ya”

Umar bertanya lagi,”Apakah engkau mempunyai seorang ibu?”

Dia menjawab,”Ya”

Umar bin Khaththab mengatakan, ”Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ’Akan datang pada kalian Uwais bin Amir, dari penduduk Yaman, dari Murad dan Qarn. Dahulu ia mempunyai penyakit kusta lalu sembuh. Kecuali sebentuk dirham yang masih tersisa, ia mempunyai seorang ibu. Ia sangat menghormatinya. Seandainya ia bersumpah, ia pasti akan memenuhinya. Jika engkau bisa, kiranya dia memintakan ampunan untukmu, maka lakukanlah.”

Maka mintakanlah ampunan untukku, wahai Uwais!

Lalu Uwais memintakan ampunan untuk Umar. Kemudian Umar berkata kepadanya,”Kemanakah engkau hendak pergi?”

Uwais menjawab,”Saya ingin pergi ke Kuffah.”

Umar mengatakan,”Tidakkah sebaiknya aku menulis surat untuk kau bawa kepada penguasanya?

Uwais menjawab,”Saya berada di tengahtengah kebanyakan orang, itu lebih saya cintai.”

Umar bertanya lagi kepada Uwais, ”Siapa yang engkau tinggalkan di Yaman?” Ia menjawab, ”Saya meninggalkan ibuku.”

Kemudian Umar meminta kembali dengan sangat kepada Uwais agar sudi memintakan ampunan kepada Allah untuknya.

Uwais balik bertanya, ”Apakah orang sepertiku memintakan ampunan untuk orang sepertimu, wahai Amirul Mukminin?”

Umar mengulang-ngulang Permintaannya. Uwais pun memintakan ampunan untuknya dan mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah Umar bin Khaththab.”

Umar berkata kepada Uwais,”sejak hari ini, engkau adalah saudaraku dan janganlah engkau berpisah dariku!” (HR Muslim)

Ketika sudah dikenal sebagai sosok yang disabdakan Rasul sebagai orang mulia, tak pernah sebersit pun terlintas dalam benak Uwais niat untuk memanfaatkan hal itu. Apalagi untuk membalas orang-orang yang kerap memaki dan menghinanya. Ia lebih memilih fokus beribadah kepada Allah, dan juga membantu orang lain. Padahal ia sendiri termasuk kalangan yang tidak mampu. Dialah Uwais al Qarni. Sosok yang selalu menolak pemberian pakaian dari orang lain.

Ia khawatir ketika mengenakan pakaian bagus, disangka meminta atau mencuri. Izzahnya demikian terjaga. Pagi hingga petang ia habiskan dengan puasa sembari mencari nafkah, malamnya ia lalui dengan sujud ke hadapan KhalikNya. Ia habiskan umurnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada fakir miskin.

Di kisahkan oleh seorang tabi’in, Rabi bin Khutsaim bahwa Ia menemukan Uwais setelah shalat Subuh sedang duduk di masjid. Lalu saat Rabi shalat Zuhur, Uwais masih pada tempatnya mengerjakan shalat Zuhur,kemudian duduk kembali.

Lalu pada shalatAshar, Magrib, dan Isya juga demikian. Setelahshalat Isya Uwais shalat hingga waktu Subuh. Setelah Subuh Uwais duduk sambil mengingat Allah dan tertidur. Tiba-tiba Uwais terbangun dan berkata “‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.’”Inilah seorang mulia yang sangat mengenal Rabbnya.

Saat Uwais wafat, terjadi hal – hal di luar nalar. Lubang kuburnya telah ada, dan sudah ada yang menggalikan. Secara tiba- tiba, banyak sekali orang berpakaian putih datang dan berusaha menguburkannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang selalu mengasingkan diri. Belum lagi wangi yang semerbak sepanjang prosesi pemakamannya.

Lebih aneh lagi, usai pemakaman, kuburannya tiba-tiba menghilang. Sungguh nyata sabda Rasulullah Saw; “Tidak dikenal penghuni bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila bersumpah atas nama Allah maka ia pasti memenuhi sumpahnya. (HR Muslim)  (M. Rizki Lesus, ed; hbs)