Terbiasa pada Keburukan

Terbiasa pada Keburukan

0 117

Maukah kita terbiasa membanggakan keburukan, dan menertawakan kebaikan? Tak takutkah kita, jika kebiasaan membiasakan keburukan ini diteruskan akan membuat hati kita keras, dan menjauhkan kita dari Allah?

 

SEBUAH akun instagram yang popular di dunia maya mengunggah sebuah meme mengenai Halloween, baru-baru ini. Dalam meme tersebut, laki-laki dan wanita berpakaian minim dalam sebuah diskotik ‘terkena razia’ oleh beberapa orang berseragam bertuliskan ‘Badan Narkotika Nasional (BNN)’. Tulisan “Kostum Halloween Terseram” terpampang menjadi caption foto tersebut, seolah merujuk pada seragam yang dikenakan orang-orang berseragam BNN.

Jauh hari sebelumnya, sebuah majalah indies online menjadikan seorang gadis usia sekolah sebagai cover majalah mereka. Headline yang digunakan adalah “Ketahui 7 Cara Ampuh Menyontek”. Jika merenung sebentar, barangkali kita sepakat bahwa benang merah dari kedua hal di atas adalah maraknya kezhaliman yang dewasa ini dijadikan lelucon.

Entah benar lelucon atau bukan, namun unggahan semacam itu sangat bisa merusak pikiran-pikiran remaja saat ini. Tapi pernahkah terpikir, jika dua oknum pengunggah di atas sudah sedemikian bebasnya mengunggah hal-hal negatif (yang dikemas dengan humor), mungkin pulakah mereka juga terbiasa hidup dengan nilai-nilai bebas yang seperti itu? Namun yang pasti, menyebarkan hal-hal negatif bisa saja berpotensi menzalimi, karena akan berimbas juga  ’pada ‘kerusakan’.

Tentu kata zalim bukanlah kosa kata baru bagi kita. ia berasal dari bahasa Arab dengan akar kata Zhalama-Yazhlamu-Zhulman, yang artinya gelap. Secara istilah zalim diartikan sebagai wadl’u syai-a fi ghairi mahallihi, atau menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Jika merujuk pada terminologi ini, lelucon sambil-lalu sekalipun, jika diletakkan bukan pada tempatnya bisa jadi berimbas buruk pada orang lain secara moral.

Mungkin kedua contoh yang dihadirkan tadi pada awalnya tabu untuk dibicarakan. Namun seiring dengan semakin banyaknya kasus-kasus narkotika yang seakan menutup mata para oknum penegak hukum, atau para oknum guru yang membiarkan anak-anak didiknya menyontek agar lulus, ini menghasilkan paradigma

baru. Bahwa berbuat buruk, selama tidak ketahuan, adalah ‘keren’. Imbasnya, mereka tak lagi malu menyatakan dirinya berbuat negatif, meneriakkan “Aku berhasil menyontek di belakang guruku!” di akun-akun sosial media mereka.

Mari kita sedikit berkontemplasi. Dua kasus ini barangkali sama dengan kasus pemasangan tato di tubuh. Awalnya, menghiasi diri dengan tato adalah tabu, dianggap preman, bahkan para ulama sendiri berkoar-koar bahwa menghias diri dengan tato jauh dari kata manfaat. Lalu seiring zaman, kian banyak orang yang ‘mengenakan’ tato, dan pada akhirnya masyarakat tak lagi menganggap tato adalah hal aneh. Merasa hal itu adalah lazim, dan membuat warna garis baik dan buruk semakin bergradasi.

Adalah tugas kita, agar garis baik dan buruk itu tetap di tempatnya. Sebab jika garis itu lenyap, ibarat ilalang, hal-hal yang disebut sebagai keburukan, kezaliman, kebatilan, atau kefasikan akan tumbuh lebat sebagai gulma yang merugikan.

Allah sendiri telah mengingatkan dalam QS Al Baqarah ayat 142:

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula, padahal kamu semua mengetahuinya.”

Maka, masih maukah kita terbiasa membanggakan keburukan, dan menertawakan kebaikan? Tak takutkah kita, jika kebiasaan membiasakan keburukan ini diteruskan akan membuat hati kita keras, dan menjauhkan kita dari Allah?

Memang bukan hal mudah mengubah keburukan yang telah ‘tersistem’ dan berakar kuat di masyarakat. Namun jika tanpa tindakan, perubahan jelas tak akan datang. Yang perlu kita ingat, sejak semula, Allah telah menjadikan umatNya sebagai agen amar ma’ruf nahi munkar, yaitu agar umat mukmin mengajak pada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran. Jika melihat realitasnya kala ini, misi ini tentu perlu dilakukan oleh setiap individu.

Dengan cara apa? Menegaskan perintah Allah agar manusia ber-amar ma’ruf nahi munkar, Rasulullah sendiri menganjurkan umatnya agar mencegah kemunkaran dengan tiga cara: mengubah dengan tangannya (tindakan), jika tidak mampu maka dengan ucapannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Wallahu a’lam bish shawwab. (Aghniya Ilma Hasan/Alhikmah)

 

*Penulis merupakan wartawan Tabloid Alhikmah cum alumnus Jurnalistik UIN Bandung 2015