Target Al-Qur’an Kita

Target Al-Qur’an Kita

0 104

Ingatan saya melompat ke masa silam. Di ITB, saat itu tak ada yang tak kenal KH Abdul Latief Aziz. Beliau adalah guru agama pertama di ITB, bahkan sebelum Masjid Salman ITB berdiri. Ya, KH Abdul Latief Aziz adalah salah satu perintis Masjid Salman dan sudah mengajar di sana.

Ada yang unik saat beliau mengajar agama. Setiap hari pertama bertemu mahasiswa dalam mata kuliah agama, beliau selalu meminta mahasiswanya menuliskan Al Fatihah.

“Latin ustadz?” kata salah satu mahasiswa.

“Iya” kata KH Abdul Latief

Maka, mahasiswa pun menulis Al Fatihan dengan tulisan latin. Itu pun belum tentu benar semua, karena ada panjang pendek dan lain sebagainya. Sudah selesai menulis latin, kini sang Kiai meminta mahasiswanya menulis dengan bahasa Arab. ‘Coba tuliskan Al Fatihah dengan  bahasa Arab,” kata KH Latief Aziz. Maka, sulitnya bukan kepayang.

Pembaca, jika permintaan ini dilontarkan ke kita, apakah kita bisa menuliskannya dengan benar?

Inilah kita, kita mengaku seorang muslim, namun perhatian kita ke Al-Qur’an sampai di mana? Begitulah sepenggal kisah allahuyarham Abdul Latief Aziz mengingatkan akan pentingnya kedekatan dengan Al Quran.

Makin baik pengetahuan Qur’an kita, makin baik pula agama kita. Semakin mendalami Quran, semakin pula kita takjub. Beberapa halnya  sangat unik, seperti jumlah kata yang berpadanan, antonym dan lainnya.

Jumlah kata iblis sama dengan malaikat, 88 kali muncul. Jumlah kata syahr (bulan) 12 kali muncul. Kata yaum (hari) 365 kali muncul. Makin kurang pengetahuan kita tentang Qur’an, makin kurang baik pula agama kita. Di mana kita?

Ketika kita punya target-target pencapaian dunia dalam diri kita, its ok, itu bagus. Tahun sekian berapa miliar, tahun sekian berapa miliar. Tahun ini menjadi manager, tahun depan menjadi apa, 10 tahun lagi menjadi GM, dan semua itu kita targetkan, dan itu bagus. Tapi, di mana Quran? Di mana Kita dan di mana Al Quran?

Apakah kita punya target terhadap Al Quran? Atau kita selama ini tidak punya target Al Quran kita? Berapa sekarang ayat Al Quran? Coba apakah kita tahu berapa? Apa benar 6.666 ayat? Atau berapa? Bahkan ayat pun kita tidak tahu berapa.

Sekarang coba buka excel, masukkan 114 surat. Masukkan Al Fatihah 7 surat, Al baqarah 286, Ali Imran 200, dan seterusnya. Berapa dijumlahkan semuanya? Ya, ada 6.236 ayat, walau masih ada perbedaan di kalangan ulama karena ada beberapa ayat yang  diperselisihkan.

Lalu, dari 6.236 ayat Quran berapa hafalan kita? Sampai 3.000? 1.000? 5.00? 100 ? Berapa? Adakah target kita terhadap Qur’an? Padahal, pengetahuan kita terhadap Qur’an membuat pemahaman kita terhadap agama ini semakin baik, karena Qur’an adalah sumber agama kita.

Kadang, maaf, kita sudah merasa beragama dengan sangat baik, namun Qur’an kita cuekin. Nggak ada target, dan kita kedodoran dengan Qur’an ini. Apa makna Al Fatihah yang selalu kita baca saat shalat? Apakah kita meresapinya?

Apa itu Ar Rahman? Apa itu Ar Rahim? Dengan memahami Al Qur’an, bahkan shalat kita bisa menjadi nikmat. Pemahaman terhadap Al Quran adalah salah satu ukuran dalam beragama. Dan semoga, kita mulai merenung kembali, di mana Quran di tengah kehidupan kita?

“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar’ (QS. Al Isra: 9)