Tak Ada Kawan dan Lawan Abadi dalam Politik, yang Ada Hanya Kepentingan!

Tak Ada Kawan dan Lawan Abadi dalam Politik, yang Ada Hanya Kepentingan!

0 2266
bimbingan.org

Oleh: Muhammad Guntur P*

“Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik, yang Ada Hanyalah Kepentingan atau Keluarga”

ALHIKMAH.CO–Beberapa pasang mata mengamati dua orang yang sedang asik berdiskusi di tengah-tengah ramainya kedai sore tadi. Diskusi yang mereka bawakan tidak terlalu berbobot namun penuh dengan asumsi, mereka bukan seorang politisi, bukan seorang pengamat, bukan pula seorang kritikus, mereka hanya seorang mahasiswa biasa yang tengah asik terbawa nuansa diskusi.

Alur diskusi mengarah pada grand design kehidupan mereka beberapa tahun mendatang, ada yang berbicara mengenai bisnis, ada yang berbicara mengenai pendidikan, ada yang berbicara mengenai konstruksi bangsa, bahkan mereka berbicara mengenai perpolitikan. Sekali lagi mereka bukan seorang pakar yang terkemuka, bukan seorang praktisi, ahli, sarjana, atau apapun itu, mereka hanya mahasiswa biasa yang peduli terhadap kondisi bangsa yang semakin lama semakin pincang.

Malam semakin larut, diskusi semakin menarik hingga kedai yang mereka diami mulai riuh oleh bisingnya orang-orang yang berdatangang, hingga suatu kondisi diskusi mereka merujuk pada satu tema “perjuangan” dalam hal perpolitikan. Ada satu adigium menarik yang terlontar dari salah seorang “Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik”. Sebuah adigium yang sering kita dengarkan dalam perpolitikan meskipun akhiran dari adigium tersebut tidak disebutkan—yang ada hanyalah kepentingan.

Sejarah

Adigium popular diatas terlahir bukan tanpa sebab dan bukan tanpa alasan. Adigium tersebut lahir setelah melewati proses yang begitu panjang dalam kehidupan, ia telah mengalami manis pahitnya perjalanan perpolitikan juga telah merasakan ganasnya perpolitikan. Kita bisa berkaca dari salah satu sejarah yang masih hangat dalam Pilpres (Pemilihan Presiden) RI 2014-2019. Terbukti, keberatan partai Gerindra atas majunya Joko Widodo (Jokowi) sebagai Calon Presiden (Capres) dari PDIP seolah menguji keampuhan adigium tersebut.

Kita tahu kesepakatan Batutulis yang menurut versi Gerindra dilanggar oleh PDIP sangat menimbulkan kecaman dari berbagai belah pihak. Hal tersebut menyangkut seberapa kuat kepentingan politik yang dimainkan oleh elite politik. Argumen PDIP menegaskan bahwasanya perjanjian Batutulis berakhir ketika berakhirnya duet maut Megawati-Prabowo dalam Pilpres 2009 juga ada benarnya. Dengan demikian tidak ada keharusan PDIP mendukung pencalonan Prabowo dari kubu Gerindra. Disisi lain Gerindra tidak sepak dengan argument PDIP tersebut.

Semua sudah mahfum bahwa politik sangat erat kaitannya dengan perebutan kekuasaan, kapan waktunya, dan bagaimana caranya. Ketika sudah berbicara mengenai kapan dan bagaimana, etika politik perlu diperhitungkan, sehingga pencalonan Jokowi sangat diperhitungkan oleh kubu PDIP tanpa menghiraukan perjanjian Batutulis versi Gerindra. Karena kita tahu, apabila Jokowi mencalonkan diri 5 tahun mendatang, mungkin bargaining Jokowo sebagai The Next RI-1 akan berkurang ataupun bertambah, itu persoalan spekulasi berpolitik.

Artinya kita dapat menyimpulkan bahwa benar adigium tersebut terlahir bukan tanpa sebab, tapi lahir dengan proses yang begitu panjang dan penuh dengan fakta-fakta yang menguatkan—“Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik, yang Ada Hanyalah Kepentingan”. Namun pertanyaannya, apakah adigium tersebut layak dijadikan cerminan kondisi perpolitikan kita di Indonesia?

Politik

Politik menurut teori klasik Aristoteles adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kita fahami betul bahwa frame politik di mata warga Indonesia (golongan menengah kebawah) sangatlah kotor, bahkan politik dijadikan barang haram bagi mereka. Sedangkan jika kita kembalikan pada definisi awal menurut teori klasik Aristoteles, politik merupakan sebuah alat yang memiliki tujuan mulia yaitu untuk “kebaikan bersama”. Tentunya melihat fenomena tersebut, pastilah ada miss conception atau kesalahan dalam praktek perpolitikan di Indonesia.

Jika kita tinjau definisi diatas mengenai Politik, salah satu kuncinya adalah kata “usaha”. Usaha menurut KBBI merupakan kata benda yang berarti mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Artinya usaha bisa dianalogikan sebagai metoda atau media untuk mencapai suatu maksud yang dimaksudkan. Sedangkan dalam penggeraknya pastilah terdapat sebuah subjek yang mengomandoi arah usaha tersebut.

Jika seperti itu, kita bisa analogikan bahwasanya usaha merupakan media, sedangkan tujuan utamanya akan bisa dicapai apabila media tersebut ada yang mengomandoi atau ada yang menggerakan, karena usaha tak memiliki kehendak untuk bergerak dengan sendirinya. Jika usaha berupa media yang harus dikomandoi sehingga menampakan sebuah cerminan dari hasil, maka kita bisa menganalogikan usaha tesebut sebagai sebuah gelas yang bening (politik=gelas yang bening). Frame politik kotor yang dikemukakan diatas dapat terlihat apabila gelas yang bening tersebut diisi dengan sesuatu yang kotor, atau yang mengomandoi media tersebut adalah orang-orang yang kotor, sehingga akan tercipta sebuah cerminan bahwa medianya kotor (politik kotor) yang menghasilkan tujuan yang kotor, bisa dianalogikan sebagai warna yang pekat karena isi dalam gelaspun pekat. Sehingga jelaslah tidak ada yang salah dalam politik karena dia hanyalah sebuah media atau benda, yang salah hanyalah para “penunggang politik” atau subjek penggerak politik.

Kembali lagi pada adigium diatas “Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik, yang Ada Hanyalah Kepentingan” dan pertanyaan diatas “Apakah adigium tersebut layak menjadi cerminan kondisi perpolitikan kita di Indonesia?”. Jawabannya tentu “TIDAK LAYAK”, analisis Frame Politik Indonesia diatas menegaskan bahwa yang membuat politik terlihat kotor adalah subjek penggerak politik yang ada didalamnya bukan politik itu sendiri. Subjek penggerak tersebut terlihat kotor ataupun bersih disebabkan kalimat terakhir adigium diatas, yakni “yang Ada Hanyalah Kepentingan”. Kepentingan tersebut hanya memiliki dua jenis, yaitu kepentingan baik dan kepentingan buruk. Tentu saja kepentingan baik (untuk kemaslahatan bersama) tak perlu kita bahas karena jelas akan menciptakan kultur perpolitikan yang bersih. Sedangkan kepentingan yang buruk (tidak memaslahatkan umat) akan menyebabkan kultur perpolitikan yang kotor.

Fenomena diatas menyebutkan bahwasanya masyarakat (golongan menengah kebawah) kebanyakan memandang politik sebagai hal yang kotor bahkan haram untuk didekati, artinya kepentingan yang sedang kita bicarakan, terlihat di mata masyarakat adalah kepentingan yang buruk, bukan kepentingan yang baik. Karena fakta menyebutkan seperti itu, masyarakat memndang politik itu kotor. Sehingga jelaslah bahwa adigium diatas tidak dapat mencirikan sebagai tujuan perpolitikan Indonesia karena dinilai tidak memaslahatkan masyarakat kebanyakan. Sehingga diperlukan transformasi adigium dari yang asalnya “Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik, yang Ada Hanyalah Kepentingan” menjadi “Tak Ada Teman Abadi Dalam Politik, Tak Ada Lawan Abadi Dalam Politik, yang Ada Hanyalah Keluarga”.

Keluarga Dalam Perpolitikan Untuk Kemaslahatan Bersama

“Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan” (Departemen Kesehatan RI)

Jika kita analisis kembali terkait dengan makna keluarga yang dikemukakan dalam definisi diatas menyebutkan bahwasanya dalam keluarga saling “ketergantungan” satu sama lain. Ketergantungan disini erat kaitannya dengan “kepentingan”. Hanya saja, kepentingan dalam berkeluarga disini merupakan kepentingan bersama bukan kepentingan antar golongan seperti yang dikemukakan dalam analisis adigium awal diatas. Artinya, apabila kepentingan yang hendak dicapai merupakan kepentingan bersama yaitu keluarga tersebut, maka jelaslah tidak akan ada penjatuhan, politik kepentingan, berebut kekuasaan, pertumpahan darah antar golongan ini dengan golongan itu, yang ada hanyalah fokus untuk mencapai sebuah tujuan dari perpolitikan pada umumnya yaitu “Kepentingan Bersama”.

Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I) dalam bukunya yang berjudul Tatanan Berkeluarga Dalam Islam, bahwa Keluarga adalah miniatur sebuah bangsa, rapuh dan runtuhnya keluarga merupakan indikator lemah dan hancurnya sebuah bangsa.

Begitupun yang tertulis dalam dalam Al-Qur’an Surat Al-Imran Ayat 103 yang menyebutkan“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk”.

yang lebih besar yang mesti kita pikirkan bersama dibandingkan hanya sekedar membicarakan kepentingan suatu golongan. Hal besar tersebut adalah “Kepentingan Bersama” yang digagas dalam sebuah keluarga (subjek penggerak/orang) yang berada dalam suatu media yang sama (Politik) untuk mencapai suatu tujuan bersama yaitu kemaslahatan umat. Sekian…

M Guntur P

Muhammad Guntur P, penulis saat ini menjadi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Departemen Pendidikan Fisika, Menteri Dalam Negeri BEM REMA UPI 2015