Syarat Mutlak Seorang Pejuang Palestina, Bocah Mungil Ini Hafal Al Quran

Syarat Mutlak Seorang Pejuang Palestina, Bocah Mungil Ini Hafal Al Quran

0 411

Mahmud Ahmad Salamah

Namanya tercatat sebagai penghafal Qur’an termuda. Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya memberikan penghargaan khusus kepada bocah yatim ini.

Tiada hari yang begitu kelabu bagi Mahmud Ahmad Salamah saat mendengar wafatnya sang ayah di tanah para syuhada, Gaza, Palestina. Bocah SD ini memang ingin berjuang membebaskan negerinya. Berbondong-bondong sahabat kecilnya bercita-cita syahid, di tanah kelahirannya. Berjuang bermodalkan setenteng senjata, dan keyakinan akan pertolongan Allah.

Tak ada yang meragukan, para syuhada Palestina bagaimana mereka berjuang. Dengan Al Quran sebagai sahabat, tak gentar mereka melawan penjajah Zionis Israel. Hafal seluruh isi Al Quran merupakan syarat mutlak agar bisa bergabung bersama para pejuang pembebasan Palestina di Gaza. Itulah cita-cita Mahmud Ahmad Salamah, sang bocah. Usianya memang baru seujung jagung, tapi tekadnya begitu kuat.

Dan kabar itu benar-benar membuatnya murung. Sang Ayah, kini telah tiada. Padahal selama ini sang ayahlah yang membimbingnya untuk menghafalkan Al Quran. Hafalannya berhenti sejenak, tak bertambah.

Namun, itu tak berlangsung lama. Tak boleh dirinya menyerah begitu saja. Cita-cita besar, melanjutkan perjuangan ayahnya terus berkobar, membangkitkan. Akhirnya, dengan tekad yang mantap, bocah kelas 3 SD itu berjanji akan terus menghafalkan Al Quran.

Kecintaan Mahmud kepada Al Quran memang tak terjadi tiba-tiba. Orang tuanya telah memperkenalkannya sedari ia belum lahir. “Kakekku sangat mendorongku untuk agar menghafal Al Quran. Ayah dan Ibu pun selalu memotivasi untuk terus menghafal Al Quran. Dulu, setiap hari Jumat, ayah selalu membawaku ke Mesjid Ar rahmah untuk melaksanakan shalat Jumat. Setelah selesai shalat, aku mengikuti program menghafal Al Quran. Aku menyukai kegiatan menghafal Al Quran sejak kecil. Aku sangat bersyukur kepada Allah,” kenang Mahmud Ahmad.

Setelah ayahnya wafat, Mahmud bertekad melanjutkan perjuangan ayahnya. Ibunya sangat mendukung dan terus memotivasi Mahmud untuk menghafal Qur’an. Hari-hari menghafal kembali Al Quran itu dimulai akhir desember 2007, saat ia duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Dengan motivasinya yang kuat, Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Mahmud Ahmad dapat menyelesaikan hafalan Qurannya pada bulan agustus 2008. Subhanallah!

Masjid Abu Dzar Al Ghifari menjadi saksi kebesaran Allah. Namanya tercatat sebagai penghafal Qur’an termuda. Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya memberikan penghargaan khusus kepada bocah yatim ini. Tapi, hafalan Mahmud harus tetap diuji, Akhirnya, ia harus mengikuti ujian Hafal Qur’an. Dengan keseriusannya pula, ia mendapatkan ijazah resmi Hifzh Al Qur’an oleh para Ulama Dewan Penguji Al Quran.

Mahmud menceritakan, bagaimana ia dapat menghafal Al Quran secepat itu. 9 Bulan memang waktu yang sangat cepat.”Aku menghafal dengan bertahap. Aku mulai menghafal dengan surat-surat pendek, sehingga itu membuatku mudah dalam menghafal. Pada saat menghafal surat-surat panjang, aku menemui beberapa kesulitan, namun kemudian aku terbiasa dengan hafalan tersebut. Akhirnya, hal itu menjadi mudah bagiku.”

Mahmud Salamah sendiri menghafal Al Quran dengan bimbingan gurunya, Syekh Bilal Al Ghurabali. Ibunya menceritakan bahwa Syekh Bilal merupakan kunci penting Mahmud untuk terus menyelesaikan hafalannya. Sementara itu, Syekh Bilal mengatakan,” Sejak awal, aku sangat kagum dan terperangah dengan kecerdasan, kecepatan, dan kemauannya yang sangat kuat untuk menghafal Al Quran. Aku menganggapnya sebagai anakku sendiri. Dan saat itu, aku berharap ia menjadi seorang hafizh Al Quran yang baik. Aku merasa perlu memberikan perhatian khusus kepadanya, Dan, ternyata dalam waktu 6 bulan pertama, ia dapat menghafal 7 juz dengan baik dan benar. Setelah itu, pada bulan musim-musim panas, ia berhasil menambah hafalannya 23 Juz, sehingga ia berhasil menyelesaikan seluruh hafalannya, 30 Juz.”

Sebenarnya, kecerdasan Mahmud Ahmad telah diketahui sejak kecil. Pada usia 4 tahun, Mahmud telah dapat membaca Al Quran pada halaman berapapun, tanpa bimbingan guru, dan bacaannya baik dan benar. Mulai sejak saat itu pula, Mahmud mulai menghafalkan Al Quran dibawah bimbingan kedua orang tuanya.

Kini, cita-cita Mahmud menjadi pejuang pembebasan negeri Palestina sudah di depan mata. Dengan Al Quran, ia membela Gaza, dan suatu saat nanti Al Quran akan menjadi pembelanya.Wallahu a’lam