Surat dari Sahabat di Medan Jihad

Surat dari Sahabat di Medan Jihad

0 184

Perumpamaan mujahid di jalan Allah bagaikan seorang yang berpuasa, shalat malam, berdzikir membaca ayat Allah, tidak pernah henti dari puasa dan shalatnya itu sampai pulangnya si mujahid di jalan Allah Ta’ala

Ulama besar penghuni dua tanah suci itu tak henti-hentinya beribadah kepada Allah. Teringat akan dosa-dosanya di masa lalu. Setiap malam, larut dalam tangis. Pagi hari, usai mempelajari ilmu, mencari nafkah, juga beribadah. Siang hari, duduk mengingat Rabbnya. Saat senja, mengeja kalam mengajar muridnya, hingga langit gelap, kening terkecup di hadapan Ka’bah. Tak ada waktu, kecuali seluruhnya digunakan Fudhail Bin Iyadh untuk beribadah.

Tak ada yang dapat mengalahkan kewara dan ibadahnya. Hingga suatu hari, datanglah secarik kertas. Kertas yang dikirim dari medan jihad. Secarik kertas berisi bait syair yang dibuat oleh Ulama Besar pemimpin jihad, Abdullah Ibnu Mubarak. Muhammad bin Ibrahim, murid Abdullah Ibnu Mubarak datang jauh-jauh, menyampaikan secarik kertas tersebut.

Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa surat itu diberikan pada tahun 170 H. Dengan penasaran, ahli ibadah ini membuka gulungan kertas yang ditujukan padanya. Ada apa gerangan? Seorang ulama terkenal, tempat menimba ilmu para ulama mengirimkan pesan untuk Fudhail Bin Iyadh? Dibacanya perlahan-lahan, syair itu…

Wahai ahli ibadah di dua tanah Haram …

Seandainya kau melihat kami, niscaya kau akan tahu bahwa engkau dan ibadahmu itu hanyalah main-main belaka ..

Orang yang membasahi pipinya dengan linangan air matanya … Sementara kami membasahi leher kami dengan darah-darah kami ..

Atau orang yang membuat lelah kuda perangnya dalam kesia-siaan … sementara kuda-kuda kami lelah payah di medan pertempuran ..

Aroma bagimu adalah wewangian yang semerbak, sementara wewangian kami …. adalah pasir dan debu-debu yang mengepul …

Telah datang kepada kita sabda sang nabi …. Perkataan yang jujur lagi benar dan tidak dusta …

Bahwa tidaklah sama debu-debu kuda di jalan Allah yang menempel di hidung seseorang dan kobaran asap dan api yang menyala-nyala

Inilah kitabullah yang berbicara di antara kita … orang mati syahid itu tidaklah mati, dan ini bukanlah kedustaan …”

Hati berdegup kencang. Seuntai syair, ditujukan untuk sang ahli ibadah. Saat itu, pengantar surat, Muhammad bin Ibrahim melihat mata Fudhail berkaca-kaca. Tak kuasa linangan air mata itu menetes deras. Tersedu-sedu, Fudhail menangis sejadi-jadinya.  Teringat perjuangan para syuhada, sedangkan dirinya ‘hanya’ duduk berlinang air mata, fokus beribadah. Ditambah Fudhail termasuk orang yang meriwayatkan keutamaan jihad. Setelah reda tangaisannya, ia berkata, “Abu Abdirrahman (Abdullah bin Al Mubarak) telah benar dan dia telah menasihatiku,”

Muhammad bin Ibrahim bertanya kepada sang Ulama ini,” “Apakah engkau termasuk yang menuliskan haditsnya?” Beliau menjawab: “Ya”, lalu dia bekata lagi, “Tulislah hadits ini, sebagai balasan untukmu yang membawakan surat Abu Abdirrahman untukku.” Lalu Al Fudhail bin ‘Iyadh mendiktekan kepada Muhammad bin Ibrahim:

Berkata kepada kami Manshur bin Al Mu’atamar, dari Abu Ash Shaalih, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apakah ada amal perbuatan yang sebanding dengan jihad fi sabilillah?, beliau menjawab, “Kalian tidak akan mampu.” Mereka bertanya hingga dua atau tiga kali, semuanya dijawab: “Kalian tidak akan mampu.”

Begitu yang ketiga kalinya, beliau bersabda “Perumpamaan mujahid di jalan Allah bagaikan seorang yang berpuasa, shalat malam, berdzikir membaca ayat Allah, tidak pernah henti dari puasa dan shalatnya itu sampai pulangnya si mujahid di jalan Allah Ta’ala.”

Setelah mendiktekannya,  Fudhail kembali menangis tersedu-sedu, sungguh, tak ada amalan yang lebih besar daripada berjihad fisabilillah. Wallahua’lam