Summer School ITB Bahas Bambu sebagai New Technology Incultural Heritage

Summer School ITB Bahas Bambu sebagai New Technology Incultural Heritage

0 1

ALHIKMAH,– Gelaran Summer Course bertajuk Understanding New Technologies in Cultural Heritage turut mengundang dosen dan mahasiswa mancanegara untuk ikut mengembangkan keilmuan baru. Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, dari tanggal 16 September 2018 – 26 September 2018 mendatang ini, menampilkan New Technology yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Summer Course ini merupakan bagian dari program World Class University yang mengangkat ilmu-ilmu yang tergolong baru di luar kurikulum kampus. Karenanya, pembahasannya pun berkaitan dengan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi atau solusi untuk problem masa depan. Untuk tahun ini, kami mengusung tema New Technology pada Benda-Benda Cagar Budaya,” jelas Dr. Pindi Setiawan selaku Ketua Program Summer School, di gedung CADL, ITB, Bandung, Rabu (19/09/2018).

Dalam upaya mengambil peran dalam perkembangan ilmu untuk dunia yang lebih baik, lanjut Dr. Pindi, peserta Summer Course diajak mengenal berbagai teknologi terkait cagar budaya terutama pada konteks pendokumentasian dan konservasi. Karenanya, Lumbung Bambu besutan Sinergi Foundation ini dipilih.

“Dalam diskusi bersama gubernur beberapa waktu lalu, beliau meminta usul teknologi untuk Jawa Barat, yang lain mengusulkan handphone lah, mobil lah, kalau saya langsung terbayang bambu. Sebab kita sudah punya modal sosial dan modal budaya, tinggal penerapannya saja dalam teknologi,” tutur Dr. Pindi.

Dinisiasi Agustus 2017 silam, Lumbung Bambu hadir sebagai upaya konservasi wilayah rawan bencana dan pelestarian jenis bambu di daerah Selaawi. Satu tahun perkembangannya, sekira 10.000 bibit dari 30 jenis bambu.

“Saat ini, kami tengah memasuki tahap kedua dari pengembangan bambu di Selaawi, dengan membuat produk-produk turunannya. Dalam upaya menerapkan gaya hidup eco green lifestyle di perkotaan, kami mencoba menghadirkan teknik konvensional dalam bentuk vas gantung. Karena seluruhnya bambu, kami menggunakan beberapa jenis diantaranya Bambu Cendani, Bambu Haur Putih Kalimantan, Bambu Haur Cucuk, Bambu Betung Hijau, dan Bambu Amper Hijau,” jelas Idham Mustopa selaku tim Pengembangan Program Lumbung Bambu.

Selain itu, pria yang akrab disapa Kang Idham ini juga menjelaskan, bambu dapat dimanfaatkan untuk mempercantik display produk tradisional. “Kami juga berkolaborasi bersama pengrajin minuman jahe merah, dengan membuatkan packaging bambunya.”

Kang Idham melanjutkan, mentransformasi bambu menjadi produk bernilai ekonomi seperti ini juga salah satu ikhtiar dalam memberdayakan warga Selaawi. “Berasal dari wakaf produktif, harapannya, kebaikan dari program ini dapat terus mengalir. Karena, selain menaikkan kesejahteraan masyarakat sekitar, pun bentuk kepedulian kita terhadap bumi. Mengingat, bambu memberikan banyak manfaat kepada alam dan dapat hidup hingga ratusan tahun.”

Dengan mengikuti forum-forum internasional seperti ini, kata Kang Idham, diharapkan masyarakat dunia semakin aware dengan gerakan go green sekaligus pemberdayaan masyarakat. “Dengan prinsip ‘Membumikan Bambu dan Mem-bambu-kan Bumi’, konteksnya bukan lagi hanya Indonesia tapi seluruh dunia. Inilah peluang bagi kami untuk memperkenalkan New Technology Incultural Heritage kepada civitas akademik yang berasal dari luar Indonesia,” tutupnya. []