Sukses Dunia Akhirat, Tiada Kata Berputus Asa!

Sukses Dunia Akhirat, Tiada Kata Berputus Asa!

0 219

DALAM mengamalkan amalan takhali (menghias diri dengan sifat-sifat yang baik) tidak terlepas dari godaan penyakit hati dan sifat-sifat buruk yang ada dalam dirinya. menurut Sayyid Sabiq dalam bukunya Tauhid menyebutkan, jumlah penyakit hati dan sifat buruk manusia itu ada 35 jenis, salah satunya adalah sikap berputus asa. Melalui lubang berputus asa itulah, setan memasukan jarum berbisanya ke dalam hati manusia agar hancur kehidupannya. [i]

Putus asa ini merupakan kebalikan dari sifat sabar. Putus asa adalah ciri kelemahan mental, atau ketidakmampuan seseorang menanggung derita atas musibah. Dalam beberapa ayat,  al-Qur’an menegaskan bahwa sikap itu hanya dimiliki oleh orang-orang kafir. Allah SWT berfirman: “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum (orang-orang) yang kafir,” (QS. Yusuf [12]: 87). [ii]

Seorang Muslim tidak patut memiliki sikap pesimis dan putus asa, karena keduanya sama-sama melalaikan anugerah Allah SWT. sikap ini hanya akan membawa pada kemudharatan dan kerugian, karena kehidupannya selalu dirundung angan-angan yang tidak tersampaikan.[iii] Dalam keterangan lain juga, sikap berputus asa ini merupakan sikap orang-orang yang sesat. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut: Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” QS. al-Hijr [15]: 56).

Putus asa merupakan cermin hati yang kosong dari iman. Sebab, bekal untuk menghadapi cobaan adalah iman. Jika keimanan dalam hati tidak ada, manusia akan sangat mudah terbawa nafsu dan godaan setan. Jika iman telah hilang, maka kekuataan di dalam hidup pun akan hilang. Kehidupan inilah yang akan menyebabkan manusia hidup dalam kesesatan, kegelapan, dan berputus asa. Sikap berputus asa ini ditandai dengan berburuk sangka terhadap ketentuan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Maka janganlah sekali kali seseorang di antara kalian mati, kecuali dia berperasangka baik terhadap Allah. (H.R Muslim)[iv]

[i] Wawan Setya, (2006), Cermin hati, Solo: Tiga Serangkai, hlm. 60

[ii] Hamzah Ya’Qub, (1983), Etika Islam, Bandung : CV Diponegoro, cet. 2 hlm, hlm. 122-123

[iii] Taufiq Yusmansyah, (2006), Akidah dan AKhlak JIlid 2, Grafindo, hlm. 44

[iv] Arif Munanda Rismanto, (2007), Doa Menghadapi Musibah, Bandung: Mizan, hlm. 109