Suka Duka Ramadhan Para Pengungsi di Eropa : dari Kelaparan hingga Rindu...

Suka Duka Ramadhan Para Pengungsi di Eropa : dari Kelaparan hingga Rindu Kampung Halaman

0 88
Pengungsi berbagi hidangan takjil susu di kota Polikastro dekat perbatasan Yunani Macedonia (AA)

BULAN Ramadhan tentu sangat berkesan bagi kita. Apalagi saat masa kecil dulu. Selain penuh kenangan, Ramadhan juga menyisakan nikmat di lidah dengan segudang menu hidangan takjil yang tersedia.

Suasana yang begitu menyenangkan dan menggembirakan. Namun, apa yang kita rasakan dirasakan oleh saudara-saudara kita di seberang sana? Bagaimana dengan Ramadhan saudara kita di Palestina? Suriah? Afrika? Atau di pengungsian?

Berikut cerita Ramadhan para pengungsi muslim di Yunani. Ramadhan yang begitu bersahaja, begitu sederhana. Cerita tentang pemuda muslim bernama Sara yang akhirnya bisa menjejakkan kami di Tanah Eropa. Bagaimana kisahnya?

Sara, pemuda muslim asal Afghanistan itu sedang duduk termenung. Ia tidak akan bisa berbuka puasa dengan Bolani tahun ini. Bolani adalah makanan tradisional Afghanistan yang terbuat dari tepung dan berisi berbagai jenis sayuran.

“Di Afghanistan, kami biasa makan Bolani dan kami makan dengan tomat, kentang dan jus buah, dan sebagainya. Itu semua begitu lezat,” katanya penuh kerinduan.

“Tapi di sini kita harus makan makanan diberikan mereka kepada kita,” tambahnya dengan wajah murung.

Sara, pemuda berusia 17 tahun dari Kabul ini, tinggal bersama orang tuanya dan lima saudara di Elionas, kamp dekat Athena. Ia menceritakan kisahnya saat sedang berbuka puasa dengan keluarganya.

Bagi 50.000 pengungsi muslim yang saat ini terperangkap di Yunani, Ramadhan tahun ini pasti akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Ramadhan kini akan lebih sulit.

Hari-hari di Mediterania lebih panjang daripada di wilayah lain. Di Yunani matahari terbit di pukul 04:00 dan terbenam pukul 09:00 malam. Hal ini berarti muslim di Yunani akan berpuasa selama 17 jam.

Tenda – tenda pengungsi terbuat dari bahan kanvas atau neon nylon: sangat panas. Tentu saja tidak ada AC. Bagi mereka, tidur di bekas kabin sudah sangat beruntung. Bahkan ketika waktu buka puasa tiba, mereka hanya mendapatkan makaroni pasta yang dimasak dengan buruk.

Atau spaghetti dengan sedikit protein dan beberapa sayuran. Keduanya tidak memikat selera. Jika beruntung, mereka akan mendapat nasi putih hangat dengan sepotong kecil ayam gristly, keju, dan croissant. Bahkan beberapa pengungsi hanya bisa mendapat 1,5 liter air minum kemasan per hari.

Keluarga Sara melarikan diri dari Afghanistan karena ayahnya diancam. Mereka telah di Yunani selama tiga bulan dan semakin frustrasi akibat kurangnya informasi tentang nasib hidup di wilayah Eropa.

“Tapi mungkin Ramadhan akan membuat hal-hal lebih baik, kita akan lebih dekat dengan Allah dalam beberapa cara,” katanya kepada Middleeasteye di Victoria Square, Athena.

Para relawan mendistribusikan makanan buka puasa pukul 20:45 waktu setempat.  Seringkali muncul ketegangan dalam antrian pengungsi yang belum menerima jatah mereka.  Orang-orang juga mengeluh kurangnya air.

Tidak Ada Kurma Atau Susu

Sahur akan dibagikan kepada pengungsi pukul 02:00 waktu setempat.

“Tidak ada makanan khusus Ramadhan,” seorang warga Suriah, mengatakan dengan wajah sedih. “Tidak ada kurma atau susu, hanya keju, roti, kentang, kentang dan kentang.”

Kurma dan susu atau yoghurt dimakan untuk berbuka puasa di Suriah. Ditanya soal apa yang ingin dimakannya, dia menjawab, “Saya ingin makanan saat Ramadhan tahun lalu, yang saya inginkan sekarang adalah Moloukhia dan beras,” ungkapnya. Molukhia adalah hidangan sayuran tradisional Mesir.

“Saya lebih suka makan Kuneyfeh Nabulsiya makanan manis yang terbuat dari gandum, sirup, dan parutan keju lembut di atasnya, – dan es krim dengan pistachio dari Bakdash,” ungkap Samir.

Dia menghabiskan hari-harinya di sini, berpikir tentang keluarganya, yang semuanya berada di Lebanon. “Saya khawatir tentang mereka. Saya telah di sini selama tiga bulan dan yang kita inginkan adalah kebebasan.”

pengungsi2

Rombongan relawan tiba di tengah perbicangan dengan Samir. Memberikan teh dan gula yang didistribusikan dari troli. “Kami berusaha untuk memberi kurma dan permen untuk Ramadhan,” salah satu dari mereka mengatakan kepada MEE.

“Dan kami telah mengatur makanan untuk sahur sebelum matahari terbit. Masalah yang kami miliki adalah bahwa orang harus menunggu lama untuk mengantri makanan. Bahkan jika kami mulai dari pukul 08:45, beberapa orang tidak akan mendapatkan makanan mereka sampai pukul 09:30,” jelasnya.

Pengungsi di sana mengatakan ada sekitar 150 orang di kamp yang tidak berpuasa, kebanyakan dari mereka adalah sakit atau lanjut usia.

Di kamp lainnya, warga justru memasak makanan mereka sendiri. Meskipun persediaan air minim dan  tidak ada atau listrik, mereka menyiapkan makanan mereka sendiri untuk Ramadhan. Hala, misalnya, perempuan asal Latakia Suriah ini, tinggal di kamp Ritsona, utara Athena, dengan suami dan anaknya. Ia bersikeras memasak menggunakan bahan-bahan yang tersedia.

“Kami memiliki daun anggur, dan mungkin aku akan membuat maqloubaa. Kami ingin makan dengan baik,” lanjutnya sambil tersenyum kecil.

A’ieda, 26, dari Aleppo Suriah juga lebih senang memasak dibandingkan makan makanan dari relawan. Menurutnya, makanan dari relawan tidak enak. Dia menjelaskan dengan senang bagaimana dia akan mempersiapkan kentang, makhdous – terong Mini – dan mahshi – kebab sayuran – untuk suami dan empat anaknya.

“Kami memiliki kompor kecil dan saya akan memasak untuk Ramadhan. Kami akan makan makanan yang baik,” katanya.

Namun demikian, beberapa bahan dan sumber daya memasak yang tersedia dapat membuat Ramadhan tahun ini lebih baik dibandingkan di Aleppo.

A’ieda sendiri meninggalkan Aleppo enam bulan yang lalu. “Tahun lalu Ramadhan di Aleppo itu sangat sulit. Tidak ada uang dan tidak ada pekerjaan. Kami tidak bisa makan banyak karena semuanya telah menjadi begitu mahal.”

Organisasi bantuan telah memperingatkan pekerja untuk menghormati pengungsi yang sedang berpuasa. Save the Children, misalnya, lembaga itu telah menerbitkan pedoman khusus bekerja selama Ramadhan untuk stafnya. Menurut aturan yang ditetapkan, para pekerja tidak boleh merokok, makan atau minum di depan orang dan makanan dan minuman harus dikonsumsi di luar perkemahan.

“Dengan orang dewasa dan anak-anak yang sedang berpuasa, penting untuk merencanakan kegiatan yang tidak memerlukan banyak upaya fisik,” demikian bunyi dari peraturan itu. “Harap diingat juga, bahwa tenaga orang berpuasa akan tinggi di pagi hari tapi akan mencapai tingkat terendah pada sore hari.”

Di kamp-kamp Karamanli, Frakaport, dan Iliadis dekat Thessaloniki, koordinator medis dari Suriah American Medical Society (SAMS) telah bekerja dengan para pemimpin kamp militer sehingga makanan bisa disampaikan sebelum dan setelah matahari terbenam.

“Menjadi bagian dari liburan Ramadhan adalah sesuatu yang baru bagi sebagian besar relawan di kamp-kamp Yunani,” kata Katerina Nickolopoulos, berbicara atas nama SAMS.

Organisasi ini juga mempekerjakan penerjemah, banyak dari mereka yang berbahasa Arab. Mereka membantu memastikan bahwa “pengungsi merasa bahwa keprihatinan mereka didengar, dan akan diteruskan kepada militer/manajer kamp,” tambah Katerina.

Di Piraeus, pasca buka puasa. Sekelompok gadis Afghanistan telah mengumpulkan jatah buah mereka ke nampan, semangka dan aprikot. Sekelompok anak laki-laki pergi berenang di pelabuhan. Lainnya menendang bola di sekitar dermaga.

pengungsi3

Musik Afghanistan tiba-tiba terdengar syahdu dari speaker dari salah satu mobil relawan, dan anak-anak remaja menari dengan riang. Untuk sesaat, semua frustrasi tentang kurangnya makanan bergizi, kurangnya informasi tentang masa depan mereka, terlupakan.

Tetapi suasana meriah tidak berlangsung lama. Perkelahian pecah – diduga terjadi antara dua warga  Suriah – tenda nilon robek. “Hal ini terjadi setiap malam,” desah Samim (27 thn) dari Afghanistan.

Tidak ada yang tampaknya tidur hingga dini hari, balita berkeliaran,  orang tua duduk diam, bermain kartu. Pengungsi menunggu jatah makan sahur pukul 02:00 yang diharapkan.

“Orang-orang tidak tidur di sini,” kata Samim. “Bukan hanya karena Ramadhan. Orang di sini khawatir atau sedih. Mereka lapar. Mereka tidak bisa tidur. ” [dini/ed.rl/middleeasteye/alhikmahco]

http://www.middleeasteye.net/news/first-iftar-ramdan-leaves-refugees-greece-hungry-home-2077013688