Suami yang Shaleh Itu…

Suami yang Shaleh Itu…

0 38

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.  (QS. An Nahl: 27)

Di pelataran Masjid Nabawi musim Haji 1426 Hijriyah, saat itu saya bersama istri dan rombongan haji dari Palembang tengah menatap kubah hijau yang menjadi salah satu bagian eksotis Masjid Nabawi. Sangat eksotis dan menggetarkan, karena disitulah posisi rumah Rasulullah Saw. Di area itulah Raudhoh terhampar, sepetak tanah yang di atasnya wahyu paling banyak turun, sepetak tanah yang akan kita jumpai di surga kelak, subhanallah.

Di suasana yang hening itulah tiba-tiba pandangan saya tertumpu pada serombongan jamaah haji Indonesia. Di antara mereka nampak seorang laki-laki yang dengan penuh kemesraan mendorong kursi roda. Di atas kursi roda itu, seorang wanita, istrinya, terlihat tersenyum melihat suasana keindahan Masjid Nabawi.

Saya segera menghampirinya dan mengucapkan salam. Dengan ramah, sepasang suami istri yang berasal dari Surabaya itu menyambut salam kami dan kami pun terlibat pembicaraan singkat tapi sangat intens. Pertemuan pun diakhiri dengan saling mendo’akan.

Saya menatap suami yang shaleh itu mendorong kursi roda, memutari Masjid Nabawi. Tidak terasa mata ini basah dan do’apun terucap: Ya Allah, muliakanlah keduanya dan jadikanlah keduanya pasangan yang selalu mencintai dan saling membahagiakan, hingga kelak mereka bertemu di dalam surga-Mu.

Disaat yang lain di sebuah ruang perawatan di salah satu rumah sakit di Bandung. Saya diundang untuk memberikan semangat kepada seorang ibu yang menderita kanker. Ibu dua orang anak itu telah menjalani Kemoterapi, sebuah proses yang akhirnya tidak mudah untuk diterima. Rambutnya rontok, indra pengecapnya hilang, dan sekujur tubuh terasa sakit.

Ketika saya berbincang dengan ibu itu, suaminya mendampirinya dengan penuh kasih. Menggenggam tanganya, dan sesekali juga menguatkan hati istrinya dengan kata-kata yang memberika semangat.

Jika itu sedang dilakukan suaminya, sang istri menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih, seakan mengucapkan ribuan kata terima kasih yang tak terucapkan atas kesetiaan suaminya, yang telah menemaninya menghadapi kanker, bertahun-tahun lamanya.

Ketika akhirnya saya pamit, suaminya menawarkan diri untuk mengantarkan, saya bersedia karena kebetulan tidak membawa kendaraan dan saya harus segera ke sebuah pengajian di daerah Sukaluyu di Bandung.

Di dalam mobil saya mendengar sejumlah curahan hati dari suami yang shaleh itu. Malam-malam ketika istrinya merasakan kesakitan yang sangat luar biasa adalah malam yang sangat mencekam baginya. Belum lagi saat-saat di mana ia pun harus menenangkan kedua anaknya yang dibayang-bayangi kematian ibunya yang bisa datang setiap saat.

”Saya hanya memohon kepada Allah agar saya kuat menghadapi semua in. Saya sangat sayang kepada istri dan anak-anak saya,” kata suami yang shaleh itu sambil menjabat erat tangan saya. Sesaat kemudian mobilnya menghilang di tengah kegelapan malam.

Allahu akbar, yang Maha Besar telah menghadirkan contoh kepada saya, suami-suami yang sholeh dan begitu tabah. Suami yang membuat saya cemburu, karena keshalehan dan ketabahannya.

“Robbanaa hablanaa min azwajinaa wazurriyatinaa qurroa taayuun waj’alnaa lil muttaqiina imaama.”

Ya Allah, bahagiakanlah kami, beserta pasangan kami dan anak-anak serta keturunan kami. Jadikanlah mereka pemimpin bagi kaum yang bertakwa. []