Soroti Buku Ajar Bermuatan Radikalisme, Komite III DPD Akan Panggil Mendikbud

Soroti Buku Ajar Bermuatan Radikalisme, Komite III DPD Akan Panggil Mendikbud

0 84

ALHIKMAH.CO,– Menindaklanjuti buku ajar SMA yang bermuatan unsur radikalisme, Komite III DPD berencana akan silaturahim dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Pertemuan ini untuk menyoroti bagaimana proses dan mekanisme yang dijalankan Kementerian mulai dari penyusunan dan penerbitan buku ajar hingga sampai ke tangan siswa.

“Kita (red_Komite III DPD) ingin, lolosnya buku ajar yang punya potensi merusak ini menjadi yang terakhir. Kementerian harus punya pengawasan yang ketat sebelum buku ajar sampai ke tangan siswa. Kami juga mau mendalami apa rencana Kementerian untuk meningkatkan kapasitas para guru penyusun buku ajar,” jelas Wakil Ketua Komite III DPD di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta (24/03).

Selama ini, lanjut Fahira, dirinya sering mendapat laporan bahwa banyak buku ajar di sekolah-sekolah disusun oleh penulis yang tidak punya keahlian yang mendalam terhadap materi yang ditulisnya. Kondisi ini ditambah dengan masih adanya penerbit yang tidak concern terhadap kompetensi penulis dan kualitas isi buku, apakah layak dibaca siswa atau tidak.

“Ini diperparah dengan longgarnya pengawasan kementerian dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang mengesahkan buku-buku teks pelajaran. Saya melihat masih ada prinsip ‘kejar tayang’ dalam penyusunan buku ajar. Inilah yang membuat konten-konten yang berbahaya bisa lolos,” ungkap Fahira lagi.

Ketua Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) ini mengingatkan semua pemangku kebijakan di bidang pendidikan, terutama pihak sekolah tidak bermain-main dalam proses pengadaan buku ajar apalagi menjadikan program penyediaan buku pelajaran sebagai proyek jangka panjang demi kepentingan pribadi.

“Kementerian harus tegas jika masih ada praktik-praktik seperti ini. Dunia pendidikan kita harus bebas dari mental-mental para pencari untung yang merusak wajah dan kualitas dunia pendidikan kita. Harus ada sanksi tegas agar ada efek jera,” tutup Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri (ABADI) ini. (pnurullah/alhikmah/rilis)