SIMPATI ( Bagian Pertama )

SIMPATI ( Bagian Pertama )

1 62

Oleh:  Jahar*

 ”Jangan lupa datang ya …”suara seorang perempuan terdengar semangat dari seberang sana.

”Ya, Teh jangan kuatir. Saya insya Allah datang. Makasih ya udah percaya pada saya meskipun saya tidak aktif di senat,” ucap Anwar.

”Iya, pokoknya kamu kudu nunjukin bahwa meskipun kamu nggak aktif di senat kamu bisa berkontribusi menyelenggarakan suatu acara untuk kepentingan senat fakultas.”

Pembicaraan pun akhirnya diakhiri. Anwar menjawab salam dari seberang. Anwar merasa memiliki kebanggaan tersendiri. Dia ternyata bisa juga bergabung dengan orang-orang di senat fakultasnya dalam penyelenggaraan acara nanti di bulan Ramadhan. Dia tidak membayangkan akan bisa bergabung dengan mereka. Sebetulnya anwar sudah bercita-cita sebelum masuk kuliah bahwa dia akan aktif di organisasi jurusannya. Tetapi pada waktu orientasi jurusan, dia tidak bisa ikut karena waktu itu dia tidak bisa membayar biaya orientasi yang biayanya lebih dari seratus ribu. Dia pada waktu memiliki uang tetapi prioritasnya bukan untuk acara itu. Dia gunakan uang itu untuk keperluan hidup seharí-hari di awal perkuliahannya. Dia memang mesti banyak berhemat karena orang tuanya tidak memberinya bekal secara penuh. Malah dia harus mencari uang tambahan agar dia bisa bertahan hidup di Jakarta.

Anwar segera mematikan lampu kamar. Dia segera memejamkan mata karena besok akan mengikuti rapat pagi-pagi di kampus.

***

Anwar duduk sudah hampir setengah jam. Dia duduk di samping  Teh Gania. Dia berulang kali melihat jam dinding yang terpajang di dinding barat ruangan itu. Sebelumnya dia sudah membereskan ruangan itu, mengatur kursi-kursi agar rapat terasa nyaman. Dia melakukannya bersama Teh Gania, orang yang mengajaknya ikut dalam acara yang akan di selenggarakan nanti di bulan Ramadhan itu.

Menit-menit telah berlalu. Anwar sudah mulai merasa tidak sabar menunggu. Sementara yang hadir hanya baru dua orang, yaitu dirinya dan Teh Gania.

”Teh, jadi nggak sih rapatnya, kok pada nggak ada? ”

“Jadi … jadi tapi kayaknya ngaret. Saya sudah sms teman-teman. Mereka pada bilang masih di jalan. Sabar ya …”

Anwar mengganggukkan kepala. Dia berusaha mengikuti kata-kata Teh Gania, bersabar. Menunggu memang merupakan aktivitas yang paling membosankan. Menunggu satu detik seperti satu menit. Satu menit seperti  setengah jam. Satu jam seperti seminggu. Satu hari seperti bertahun-tahun, bahkan berabad-abad.

Barulah setelah satu jam kemudian, teman-teman sudah berkumpul dan rapat bisa dimulai. Rapat dibuka oleh Teh Gania. Dia mengawali rapat dengan alasan mengapa teman-teman dikumpulkan.

”Teman-teman, kita akan merencanakan suatu acara bakti sosial nanti di bulan Ramadhan. Program ini adalah program rutin yang di selenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Psikologi, yaitu bidang Kerohanian yang menjadi tanggung jawab saya. Untuk itu saya mengumpulkan teman-teman. Saya kira sebelum kita membicarakan mengenai program tersebut seperti apa, alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu kita memilih siapa ketua pelaksananya.”

Semua peserta rapat akhirnya sepakat untuk menentukan beberapa orang yang layak menjadi ketua pelaksana. Ada dua orang yang terpilih, yaitu Anwar dan Alan. Kemudian mereka berunding lagi siapa yang lebih layak diantara keduanya. Terpilihlah Alan sebagai ketuanya. Namun Alan ternyata tidak bersedia, lantaran dia punya tugas lain yang jika dia menjadi ketua tidak bisa fokus.

”Tapi meskipun saya tidak bersedia, saya bersedia membantu ketua yang nanti terpilih,” ucap Alan sambil tersenyum.

Akhirnya terpilihlah Anwar. Anwar sendiri merasa sangat berat. Selama di kampus, baru kali ini dia dipercaya menjadi ketua pelaksana. Setelah dia pikir-pikir, dia beranikan diri. Dia berpikir jika dulu dia pernah menjabat sebagi ketua MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) dan DKM (Dewan Kemamkmuran Masjid) sekolahnya dalam waktu yang bersamaan dia bisa menjalankan dengan cukup baik. Maka untuk urusan ini mengapa ia harus menolak sebelum mencoba.

Dengan dada yang berdebar-debar Anwar berkata, ”terima kasih banyak atas kepercayaan teman-teman. Konsekuensi teman-teman karena telah memilih saya, maka saya mengharapkan teman-teman turut serta menyukseskan acara nanti. Sungguh tanpa bantuan teman-teman saya tidak akan mampu berbuat apa-apa.”

Teh Gania selanjutnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Anwar. Anwar memimpin rapat. Dia membentuk kepengurusan. Sekretaris yang dia amanati adalah Dina. Sedangkan bendaharanya adalah Ida. Mereka adalah teman seangkatannya. Setelah seksi-seksi ditentukan, masing-masing dikelompokkan dan diberi waktu untuk membicarakan konsep masing-masing seksi dan mengajukan estimasi biaya yang diperlukan.

Dari hasil rapat itu, disepakati bahwa acara yang akan mereka laksanakan diberi nama ’Psikologi Berbagi Simpati’ Simpati di sini merupakan singkatan dari silaturrahim, persaudaraan, amal, dan empati. Masing-masing seksi menyerahkan anggaran biaya kepada sekretaris. Target proposal selesai minggu ini. Anwar meminta Dina untuk menyerahkan draft proposal kepadanya untuk diedit empat hari lagi.

***

Lima hari kemudian Anwar dan Dina bertemu di depan fakultas. Dina datang terlambat lebih dari setengah jam. Anwar kesal, tetapi mau tidak mau dia harus mulai belajar untuk bersabar karena seperti itu memang budaya mahasiswa Indonesia, termasuk budaya para dosennya yang dijadikan model oleh para mahasiswa.

Dina menyerahkan flasdisk kepada Anwar. Ada perasaan aneh yang menjalar pada diri Anwar. Dia  terlihat kaku dan grogi. Dia berharap Dina tidak mengetahuinya. Kalau mengetahuinya bisa berabe. Anwar memang kagum saat pertama kali bertemu dengan Dina. Anwar sama seperti lelaki normal lainnya yang tertarik pada kecantikan. Anwar menilai bahwa Dina itu adalah perempuan yang berbeda dengan teman-temannya. Dia bisa mengurus diri. Pakaian yang dikenakan Dina terlihat selalu menarik dan modelnya selalu berbeda dari kebanyakan. Dina berkulit hitam manis, berkacamata, berkerudung dan penampilannya modis.

”Anwar, aku sudah selesaikan proposalnya. Kalau ada yang kurang kamu tambahin aja ya,” ucap Dina ketika dia duduk di bangku depan fakultas.

Diam-diam Anwar menaruh hati padanya sejak semester pertama. Dan kini menginjak semester enam, rasa itu tidak berubah sedikit pun. Dia pernah berpikir ingin mengungkapkan perasaannya itu, tetapi selalu saja keberanian itu menguap. Dia sadar diri bahwa dia hanyalah mahasiswa sederhana yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Dia tidak berani mengungkapkan cinta lantaran berpikir mana ada yang mau perempuan sama mahasiswa yang miskin macam dia. Selain itu, meskipun Anwar belum mampu menghilangkan perasaan itu, dia menyadari bahwa penampilan Dina bertentangan dengan nuraninya. Dia menginginkan  perempuan yang benar-benar menutup aurat, bukan berkerudung tetapi masih kelihatan lekak-lekuk tubuhnya karena berpakaian ketat atau memakai celana jeans ketat seperti Dina.

”Anwar … Hei … Hei!” teriak Dina sambil menepuk pundak lelaki itu.

Anwar terperanjat. Matanya tertuju kepada Dina yang berada di sampingnya.

”Ya ada apa, Din?”

”Walah … dari tadi kamu kemana aja. Aku ngomong kamu nggak dengar ya, kamu ngalamun ya? Ngelamunin apa sih?”

”Maaf, Din? Iya kamu barusan bilang apa?”

”Ini flashdiknya. Kamu tinggal edit aja. Nama file-nya ‘proposal berbagi simpati’ ”

”Siip … makasih ya, Din.”

”Okey. Kalau gitu aku pergi dulu. Ada janji sama teman.”

”Ya aku juga ada tugas dari organisasi untuk jaga stand menyambut mahasiswa baru. Oya nanti kalau ada perlu aku hubungi kamu. Aku harap kalau nanti ketemu lagi jangan ngaret lagi.”

”Iya sorry ya kamu tadi lama nunggu. Habis tadi dari Ujungberung macetnya panjang banget. Aku jadi malu nih. Mudah-mudahan nanti nggak terulang lagi.”

Keduanya beranjak dari tempat itu dengan berlawanan arah. Dina ke jalan arah Selatan dan Anwar ke Utara. Beberapa menit kemudian, Dina melihat ke belakang menyaksikan punggung lelaki itu dari kejauhan. Dia menyunggingkan senyum. Sementara Anwar terus melangkah. Dia merasa sedang di perhatikan, tapi entah siapa. Dia berusaha mengusir perasaan itu dengan terus berjalan lurus tanpa menengok ke kiri atau kanan, atau bahkan ke belakang.

***

Anwar mondar-mandir di kamar. Dia mencari-cari Flasdisk milik Dina sebelum dia berangkat ke rental komputer. Dia mencari sudah hampir satu jam. Dia periksa barangkali disimpan di dekat tumpukan buku. Dia juga sudah memeriksanya di semua bagian tasnya. Tetapi Flasdisk itu tak kunjung diketemukan. Padahal dia menargetkan proposal itu besok akan dia serahkan kepada Alan untuk dilayout sebaik mungkin. Dia sedikit tenang ketika dia sudah menerima email dari Iyan, seksi dokumentasi yang bermurah hati untuk membuatkan logo. Tidak ada yang perlu dikoreksi. Logo sudah dianggap bagus dari segi pemilihan warna maupun lambang-lambangya.

Flasdisk itu tak jua diketemukan. Dia menyangka benda itu hilang. Dia ingat-ingat ketika pertama kali menerima flasdisk dari Dina. Dia memasukkan ke saku celana. Kemudian dia pergi menjaga stand selama tiga jam. Bisa jadi ketika menjaga stand dia mengeluarkan benda itu dan disimpan di meja. Karena sibuk melayani pengunjung stand yang berjubel, dia lupa memasukkan benda itu. Itulah yang dia ingat. Dia menelpon Dina dan mengatakan dengan sejujurnya.

Keesokan dia datang ke rumah Dina untuk mengambil data diantar oleh Iyan. Dina merasa kecewa atas kehilangan benda itu.

”Itu bagiku sangat bersejarah. Bukan sebatas benda,” kata Dina saat Anwar tiba di halaman rumah Dina. Dia membiarkan rambutnya tergerai. Tubuhnya dibalut kaos pendek ketat berwarna kuning gading dan celana pendek di atas lutut. Kulitnya bak pualam. Anwar dan Iyan terkesiap menyaksikannya.

Namun Anwar segera sadar bahwa pemandangan di hadapannya tidaklah berhak untuk dia nikmati. Dia segera menundukkan pandangan. Dia lihat Iyan masih melotot. Dia segera menyikut temannya. Iyan terkejut dan langsung menunduk.

”Iya … maaf. Sungguh saya tidak sengaja. Itu memang kelalaian saya,” ujar Anwar sambil mengiba.

”Sudahlah … maaf saya jadi sedikit emosi nih. Kamu tahu nggak benda sangat spesial bagiku karena itu adalah pemberian dari orang yang begitu spesial bagiku. Oya ayo masuk … masuk.”

Anwar dan Iyan masuk dan duduk di ruang tamu. Anwar berpikir orang spesial. Apa mungkin orang spesial itu adalah pacarnya, pikir Anwar. Anwar berpikir lagi, mengapa aku memikirkan itu, apa urusannya denganku. Memangnya aku ini, siapanya Dina? Anwar menyerahkan flasdisk yang dipinjam dari Alan kepada Dina. Dina masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian dia menyerahkan flasdisk itu kembali kepada Anwar.

”Tunggu sebentar ya … saya lupa belum menyuguhkan air pada kalian,” ucap Dina sambil sedikit berlari ke dapur.

”Din … Din … nggak usah repot-repot. Saya dan Iyan mau langsung pulang saja,” kata Anwar.

”Lho kok gitu sih. Nggak ah … kalian pokoknya jangan pulang dulu. Aku bakalan marah kalau kalian pulang.”

Iyan dan Anwar akhirnya duduk menunggu. Dina datang dari dapur membawa Teh manis dan kue kering dalam toples. Kedua lelaki itu mencicipinya. Dina  memandangi keduanya dengan tersenyum. Anwar berusaha sekuat tenaga menjaga perasaannya. Hatinya memang tidak bisa memungkiri bahwa dia tertarik pada perempuan yang ada di hadapannya, namun nuraninya berkata untuk tidak memperturutkannya, jangan kotori niat suci dengan perbuatan-perbuatan nista dan dapat mengundang murka Tuhan! Kamu harus belajar profesional. Bedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan.

Sementara Dina merasa bahwa dirinya memang perempuan yang suka disanjung. Jika ada lelaki yang menyanjungnya dia akan merasa menjadi perempuan yang beruntung. Tapi mengapa Anwar sama sekali tidak pernah memuji kecantikannya. Dia juga merasa aneh pada dirinya mengapa berharap pujian dari lelaki yang tidak pernah kedengaran gosip dia punya pacar. Dia tahu bahwa lelakinya itu berprinsip ’say no to dating

***

Menjelang rapat panitia yang kedua belum ada kemajuan yang berarti mengenai proposal. Semuanya molor dari target yang telah di tetapkan. Hal ini terjadi karena Alan tidak menepati janjinya. Anwar sangat kecewa mengapa untuk urusan yang prioritas temannya yang satu ini malah berleha-leha.

Saat Anwar ke kontrakan Alan, dia malah menunggu berjam-jam untuk mengetahui perkembangan mengenai proposal. Alan memang orangnya moody. Jika dia sedang malas, tidak ada satupun pekerjaannya yang beres. Tetapi Anwar tidak menerima alasan itu. Bagaimana pun ini menyangkut target bersama dan kepentingan bersama demi kemajuan senat di fakultasnya.

”Beginilah umat Islam mengapa dia aksinya selalu kalah cepat dengan umat lain. Mereka tidak bisa menghargai waktu meskipun Allah sudah banyak bersumpah atas nama waktu di dalam Al-Quran..”

”Kita bisa lihat secara nyata pada diri kita sendiri yang selalu mengulur-ngulur waktu. Andai saja kita mau menghargai waktu, aku yakin cover proposal akan selesai dalam satu atau dua jam, tidak akan menghabiskan waktu lebih dari seminggu. Tapi sekali lagi kita umat Islam tidak pernah menghargai waktu sehingga kita selalu ketinggalan dan dikalahkan oleh agama dan bangsa lain.”

Anwar keluar mengucap salam dengan muka cemberut dan menutup pintu sambil dibanting dengan keras. Sementara Alan menjawab salam hanya dalam hati. Dia tidak  menduga sahabatnya akan marah dan menyindir kelalainya dalam menjalankan tugas. (bersambung)

*Jajang Hartono, aktif menulis sastra. Dapat dihubungi langsung di  Jalan Mayjen Ishak Juarsa, Gang Pala 2 No. 112, Kelurahan Loji  Kecamatan Gunung Batu Kota Bogor.

BERITA TERKAIT

0 103