SIMPATI ( Bagian Akhir )

SIMPATI ( Bagian Akhir )

0 103

Oleh: Jahar*

Lanjutan Bagian Pertama

ALHIKMAH.CO–Rapat ke dua dan rapat-rapat selanjutnya berjalan seperti rapat pertama meski pun Anwar dalam setiap rapat berkali-kali mengingatkan teman-temannya untuk tepat waktu dan semangat. Dia menyemangati teman-temannya bahwa acara ini bukan saja sekadar untuk merampungkan program kerja senat, akan tetapi lebih dari itu acara itu adalah ibadah yang akan mereka petik pahalanya di akhirat jika mereka melakukannya dengan ikhlas.

Proposal yang sudah dicetak beberapa kali direvisi karena ada kekurangan. Revisi ini memakan waktu berhari-hari. Ketika sudah dicetak lagi proposal tersebut diserahkan ke fakultas untuk ditandatangani oleh dekan fakultas psikologi. Di sana proposal bermalam selama berhari-hari karena pihak fakultas meminta waktu untuk mengkaji terlebih dahulu proposal itu. Hal ini berimbas pada telatnya pengajuan proposal ke berbagai instansi dan periusahaan yang akan menjadi sponsor. Biasanya proposal sampai ke lembaga atau perusahaan akan diproses selama sebulan, sementara acara yang akan diselenggarakan tinggal tiga minggu lagi. Anwar mulai kuatir apakah acaranya akan berjalan sesuai target. Apa pun yang akan terjadi dia sudah pasrahkan semuanya. Dia sudah berusaha untuk memantau juga menjaga semangat teman-temannya.

***

Satu hari sebelum acara semua panitia berkumpul di sekretariat senat. Masing-masing melaporkan tugas-tugas dan tanggung jawab yang mereka emban. Dana acara  yang terkumpul boleh dikatakan cukup. Beberapa lembaga memberikan sumbangan yang tidak mengikat. Pihak fakultas dan dosen-dosen juga ikut menyumbang untuk acara tersebut. Dari dosen dan teman-teman jurusan ada yang menyumbangkan pakaian bekas yang masih layak pakai.

Sore itu seluruh panitia berkumpul menyelesaikan tugas masing-masing yang belum beres.  Sebagian panitia yang tidak ada pekerjaan ikut membantu membungkus hadiah dan bingkisan dengan kertas kado. Anwar juga ikut dalam kerumunan dan kesibukan teman-temannya. Dia merasa lega dan bahagia menyaksikan itu semua.

***

Pukul dua siang. Suara alunan nasyid menggema dari aula universitas. Di aula itu kursi yang tersusun rapi dipenuhi oleh puluhan anak yatim dari beberapa asrama anak yatim di kota Bandung. Selain anak yatim, di aula itu dipenuhi oleh mahasiswa psikologi.

Grup nasyid yang vokalisnya merupakan salah satu mahasiswa psikologi semester dua itu menampilkan beberapa buah lagu. Lagu yang mereka nyanyikan yaitu Para PencariMu, Neo Shalawat, Semesta Bertasbih, dan lagu-lagu terkenal lainnya. Audiens cukup terhibur dengan penampilan mereka.  Setelah itu acara dilanjutkan dengan games-games yang dipandu oleh pembawa acara. Beberapa menit menjelang shalat asar, audiens dipersilahkan istirahat dan melaksanakan shalat Asar. Para mahasiswa berbaur dengan anak-anak ketika mereka berangkat ke  masjid. Mereka berangkat ke masjid dengan bergandengan tangan.

Setengah jam kemudian, aula kembali ramai. Nasyid kembali mengalun. Pembawa acara menyampaikan acara berikutnya. Dia memanggil seorang penceramah muda yang lagi naik daun di Kota Bandung. Lelaki muda itu bernama ustadz Luthfi. Penceramah muda itu naik ke pentas dan menyapa audiens dengan ramah.

Ustadz Luthfi menyampaikan dengan lugas. Terkadang diiringi dengan banyolan dan kisah-kisah yang penuh insiprasi dari kalangan para nabi dan tabi’in. Dia menyebutkan sosok Abu Bakar, Ustman Bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan banyak lagi untuk mencontohkan orang-orang yang berjuang untuk kemuliaan agama dengan jiwa, raga, harta dan nyawanya.  Dia mengutip ayat yang berhubungan dengan sedekah.

”Adik-adik yang manis dan para mahasiswa yang keren, di balik sedekah itu banyak terdapat keajaiban. Allah telah mengungkapkannya dalam Kalam-Nya yang Agung.”

Mubaligh itu membacakan Surat Al-Baqarah ayat 261 sampai 265 dengan suara yang merdu, indah, kadang rendah, tinggi, atau melengking, membuat orang yang mendengarnya seperti tersihir. Suara itu membuat kagum dan mampu mengobati kegalauan hati dan jiwa. Usai menyenandungkan ayat-ayat itu, dia langsung menyebutkan terjemahan dan menjelaskan maksudnya.

“Perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seumpama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan perasaan si penerima. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis pun memadai. dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.”

Anak-anak dan mahasiswa mendengarkan dengan antusias. Sebagian dari mereka mengangguk-anggukkan kepala. Sebagian lagi memerhatikan mubaligh tanpa berkedip. Teh Gania termasuk orang yang memerhatikan tanpa berkedip. Dia mendengarkan sambil senyam-senyum. Anwar melirik ke arah Teh Gania. Teh Gania melambaikan tangan kepadanya dari arah yang jauh. Kemudian perempuan itu mengirimkan sms kepada Anwar.

”Tidak kecewa aku jadikan aku memilih kamu menjadi ketuplak[1]. By the way, ustadz yang satu ini lumayan juga. Mau dong! Kalau belum menikah, aku rela jadi istrinya. Kalau pun sudah menikah, aku rela jadi istri keduanya. Serius lho!”

Anwar tersenyum membaca sms itu. Dia tidak membalasnya. Dia fokus mendengarkan penjelasan dari penceramah muda itu. Dari kejauhan dia melihat Teh Gania tersenyum memandangi wajah lelaki yang sedang menerangkan keajaiban sedekah itu.

Kebahagian dan keceriaan itu semakin lengkap ketika adzan berkumandang dari masjid universitas terdengar. Semua orang yang berada di aula berbuka dengan sop buah. Sop buah itu membuat kerongkongan mereka begitu segar dan tenaga mereka kembali pulih. Mereka kemudian shalat di masjid universitas dan kembali lagi ke aula untuk makan bersama. Mereka makan sambil berfoto-foto.

***

Anwar pergi Istana Plaza dengan naik angkutan damri. Dia berangkat setelah shalat asar. Perjalanan dari Cibiru memerlukan waktu sekitar setengah jam. Sore itu jalan ramai. Banyak anak muda yang sedang ngabuburit sehingga jalan sedikit macet. Karenaya Anwar menghabiskan waktu di damri selama satu jam. Dia sebetulnya ingin memanfaatkan waktu dengan membaca buku yang dibawanya dalam kantong. Tetapi kondisinya tidak memungkinkan. Dia pernah mencoba membaca di angkutan damri non-ac, ternyata tidak bisa fokus karena jalanan yang tidak rata. Dia malah akhirnya pusing setelah baru membaca satu atau dua halaman. Dia berpikir mungkin beda lagi ketika dia naik damri yang ber-ac. Ceritanya mungkin akan berbeda.

Di tempat itu Anwar tidak berlama-lama. Dia menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit. Dia membeli dua buah flasdisk. Satu untuk mengganti  flasdisk milik Dina. Satu lagi untuk dirinya. Flasdisk miliknya sudah tidak bisa digunakan lagi sehingga harus membeli lagi. Flasdisk itu berwarna putih dengan tutup masing-masing berwarna biru dan pink. Yang berwarna biru untuk dirinya dan yang pink untuk Dina. Dia sengaja memilih warna itu supaya Dina merasa terhibur. Dia berharap warna yang dipilihnya itu akan disukainya. Flasdisk yang dia hilangkan juga warnanya putih dengan tali seperti resleting berwarna pink. Dia membayangkan wajah Dina yang sumbringah ketika menerima benda elektronik itu.

Keesokan harinya dia menemui Dina di tempat biasa, di depan fakultas psikologi. Anwar sudah janjian melalui sms.

Dina dan Anwar duduk dibangku yang terbuat dari tembok. Dina memandangi Anwar, sementara Anwar menundukkan pandangan. Mereka duduk berjarak. Anwar tidak berani duduk berduaan seperti itu. Dia merasa mata setiap orang tertuju kepadanya. Dia merasa diperhatikan. Ada mata yang tidak kelihatan yang lebih tajam dari mata orang-orang. Itulah penglihatan yang Maha Kuasa yang melihat segalanya tanpa batas. Dia melihat segala yang lahir maupun yang batin. Begitupun dirinya saat ini tengah disaksikan oleh-Nya.

Anwar bangkit dari duduknya. Dia bermaksud berada di tempat itu dengan tidak  berlama-lama. Dia takut pahala puasanya akan berkurang. Sementara Dina merasa ada yang aneh dengan Anwar. Dia merasa Anwar menyukainya meskipun lelaki kurus itu tidak  pernah mengungkapkannya. Dia tahu dari cara dia bersikap padanya. Tiba-tiba perempuan itu merasa tersanjung. Dia tiba-tiba merasa seperti berasa di angkasa, di atas arakan awan-awan yang putih dan sebuah jalan warna-warni yang begitu indah seumpama pelangi. Dia pun merasa sedang duduk dia atas bulan sabit dengan memakai gaun putih dan memiliki dua sayap indah berwarna putih.

”Mmm … Din, maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini. Ini flasdisknya. Maaf ya terlalu lama soalnya kemarin sibuk ngurusin acara,” ucap Anwar sambil menyerahkan benda yang masih dikemas itu tanpa melihat ke arah perempuan itu.

Dina menerima flasdisk itu agak lambat, seperti gerakan slow motion di film. Tangan dina yang halus menerima benda itu dan hampir menyentuh tangan Anwar. Anwar buru-buru menariknya supaya tidak bersentuhan. Tetapi usaha sia-sia. Tangan jemari Dina yang halus dan kuku-kukuknya yang memakai cutek dan terawat dengan bersih menyentuh telapak tangannya dan menimbulkan perasaan yang tidak biasa. Jantungnya berdebar-debar. Mukanya memerah. Sementara Dina tersenyum dan dalam hati dia berteriak segirang-girangnya.

Anwar beristighfar berkali-kali dalam hati.

”Maaf, Din. Saya duluan meninggalkan tempat ini.”

”O gitu ya. Ya sayang, padahal saya masih ingin di sini. Nggak ada teman ngobrol.”

”Wah, maaf saya tidak bisa menemani.”

”Makasih, flasdisknya bagus. Aku suka warnanya.”

”Oya … saya hanya berusaha mengganti dengan barang yang semirip mungkin dengan barang sebelumnya.”

Sejatinya bukan itu jawaban yang diharapkan Dina. Dia mengharapkan jawaban, bahwa warna itu adalah simbol dari perasaan diantara mereka berdua.

Anwar meninggalkan tempat itu. Dina memandangi lelaki itu tanpa berkedip. Tiba-tibanya jantungnya berdebar-debar. Perempuan itu ingin sekali berteriak mengatakan kepada lelaki yang makin menjauh dari hadapannya, hei … tunggu jangan dulu pulang. Aku ingin berbicara lebih lama denganmu dan menghabiskan hari ini bersamamu.      (TAMAT)

[1] Ketua pelaksana

*Jajang Hartono, aktif menulis sastra. Dapat dihubungi langsung di  Jalan Mayjen Ishak Juarsa, Gang Pala 2 No. 112, Kelurahan Loji  Kecamatan Gunung Batu Kota Bogor.

BERITA TERKAIT

1 62