Sikap Kita Terhadap Generasi Sahabat dan Setelahnya  (1)

Sikap Kita Terhadap Generasi Sahabat dan Setelahnya  (1)

0 38

ALHIKMAH.CO–Sebagai generasi yang sanggup mawas diri (siapa saya dan siapa sahabat), maka layak kiranya kita perhatikan firman Allah Ta’ala berikut ini, yang artinya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (sesudah muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a,Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang . ” (Qs. 59: 10)

Di samping selalu berdo’a seperti digambarkan ayat di atas, maka kita seharusnya berusaha dengan sepenuh daya yang ada untuk menempuh cara/manhaj/jalan/metodologi yang telah ditempuh sahabat di dalam beragama dan inilah hakikat mencintai mereka.

Jika tidak demikian berarti kita akan tergolong ke dalam lingkaran ahlul bid’ah wal furqah, lawan dari ahlus sunnah wal jama’ah. Mari kita perhatikan firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang beriman (mu’min). Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan Kami masukkan ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. 4:1I5).

Ancaman ini ditujukan kepada siapa saja yang berani menentang Rasul yakni menyelisihi Sunnah beliau dan mengikuti jalan bukan jalannya orang-orang mu’min. Sabilul mu’minin pada ayat ini tafsirnya adalah jalannya para shahabat, sebagaimana penafsiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam muqoddimah kitab Naqdul Mantiq dan lain-lain.

Ketika turun ayat 115 Surat An Nisaa ini, tidak ada orang mu’min yang lain di permukaan bumi ini selain para shahabat, kemudian orang-orang mu’min sesudah mereka dapat masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama dari kalangan para shahabat []. (muhri/alhikmahco)

Rujukan: Bara’atus Shahabah min an-Nifaq, Mundzir Al-Asad, Aqidah Al-Aimmah Al-Arba’ah, Abdul Muhsin At-Turky, NII dalam timbangan Aqidah, Suroso Abdussalam, Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Kitabut Tauhid, Syaikh Al-Fauzan, Tafsir Ibnu Katsir. (Suroso Abdussalam)

Bersambung ke 2

Komentar ditutup.