Sifat-sifat Rasul Allah

Sifat-sifat Rasul Allah

0 138
PICT_Islamic Architecture

MENGENAL Rasul perlu mengenal juga sifat-sifatnya. Sifat Nabi pada hakikatnya sama saja seperti manusia, hanya saja rasul memiliki beberapa sifat dasar yang agung, di antaranya adalah: [1]

  1. Benar (shiddiq), maksudnya para rasul dan Muhammad SAW mempunyai sifat shidq yang membawa kebenaran, sehingga apa yang disampaikannya dapat diterima. Sifat shidq berarti mengikuti Islam sebagai sumber kebenaran. Allah berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” az-Zumar [39]: 33).
  2. Terpercaya (amanah), secara umum, amanah dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab terhadap apa yang dibawanya, menepati janji, dan melaksanakan perintah. Nabi dan Rasul adalah Manusia yang selalu memegang amanah apapun yang Allah berikan sekalipun berat untuk disampaikan. Sekalipun nyawa menjadi taruhannya, Nabi dan Rasul akan tetap memegang amanah yang diembannya. Amanah yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul adalah risalah dan syari’at Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda : sampaikanlah amanat kepada orang yang memberi amanat kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianantimu (HR. Ahmad).
  3. Menyampaikan (tabliqh),salah satu rahasia tersebarnya Islam hingga pelosok dan zaman ini, karena sifat tabligh yang dimiliki Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Setiap muslim menyadari akan kewajiban menyebarkan Islam dimana saja dan kapan saja. Allah berfirman : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. al-Maidah [5]: 67). [2]
  4. Cerdas (fathanah) yaitu para Rasul memiliki kemampuan berfikir yang tinggi. Kecerdasan Muhammad SAW dilihat dari bagaimana rasul menyusun strategi perang, cara memutuskan hukum, sehingga tidak ada yang berselisih karenannya. [3]

[1] Muhammad Chirzin, (1997), Konsep dan Hikmah Aqidah Islam, hlm : 86

[2] Irwan Prayitno (2005), Kepribadian Muslim, Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, hlm. 277-280

[3] Jasiman, (2005), Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, Solo: Auliyya Press, hlm. 108

Komentar ditutup.