Sifat Qana’ah, Gapai Kebahagiaan Lebih Indah

Sifat Qana’ah, Gapai Kebahagiaan Lebih Indah

1 261

QANA’AH secara harfiah berarti rela, puas, senang. Sedangkan secara istilah adalah sikap berupa kerelaan hati dan merasa cukup atas apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.[i] Qana’ah juga dapat dimaknai sebagai keridhaan, tidak menentang qadha dan qadhar-Nya. Dengan kata lain, qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.[ii]

Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya”. (H.R.Muslim)

Qana’ah seharusnya merupakan sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan. Qana’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang Muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat tersebut akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits ini : “Dari Abu Hurairah r.a. bersabda Nabi SAW : “Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati”. ( H.R.Bukhari dan Muslim) [iii]

Di samping itu Qana’ah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah.

Qana’ah itu bersangkut paut dengan sikap hati atau sikap mental. Karena itu, untuk menumbuhkan sifat qana’ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat pemulaan mungkin merupakan sesuatu yang memberatkan, namun jika sifat ini sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya maka kebahagiaan di dunia akan dapat dinikmati, dan kebahagiaan di akhirat kelak akan dicapai. [iv]

[i] Muhammad Solikhin,(2009), Intisari Kitab Jailani, Yogyakarta: Mutiara Media, hlm. 324

[ii]Bahrul Ilmy,(2007), Pendidikan Agama Islam untuk SMK, Grafindo, hlm. 39

[iii] Taofik Yusmansyah, (2008), Akidah dan Akhlak untuk MTs Jilid 2, Grafindo, hlm. 35-36

[iv]Abdullah Nassih, (2006), Pesan untuk Pemuda Islam, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 30

pict. nurulhidayat.blogsp