Sifat Hina Ini Penyebab Kerendahan dan Kemunduran Diri

Sifat Hina Ini Penyebab Kerendahan dan Kemunduran Diri

0 188

Kebalikan dari sifat syaja’ah (berani) adalah al-jubn, sifat pengecut yang termasuk dalam rangkaian akhlakul mazmumah. Sifat ini selalu menimbulkan keragu-raguan sebelum memulai suatu langkah. Seringkali sikap pengecut inilah yang memunculkan sikap menyerah sebelum berjuang. Karena itu, sifat ini dipandang sebagai sifat yang hina dan akan membawa manusia kepada kerendahan dan kemunduran.[i] Sebab, Allah membenci orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan mereka-mereka yang memiliki sifat tercela di dalamnya.

Sikap pengecut ini merupakan tabiat manusia yang timbul dari perasaan takut. Namun takut, memang sudah menjadi sifat dasar manusia. Dalam sebuah riwayat dikatakan, keberanian dan sifat pengecut merupakan tabiat manusia, maka akan dijumpai orang yang rela berperang membela orang yang tidak dikenalnya karena Allah, dan juga akan engkau dapati seseorang yang berlari dari membela ayahnya. (HR. Baihaqi). [ii]

Takut sendiri terbagi menjadi dua, ada rasa takut yang wajar, sehingga orang yang tengah diliputi rasa takut itu berhati-hati dalam tindakannya. Namun, ada juga rasa takut yang berlebihan. Cemas yang tiada beralasan inilah yang merupakan penjelmaan dari sifat pengecut. Misalnya tidak mau berdagang karena takut rugi. [iii]

Pengecut ini merupakan sifat rendah di mana seseorang takut terhadap sesuatu yang semestinya tidak ditakuti.[iv] Karena itu sifat pengecut merupakan sejelek-jeleknya sifat pada diri seseorang. Rasulullah SAW pernah bersabda seperti ini : sejelek-jeleknya sifat pada diri seseorang adalah kekikiran yang penuh keluh kesah, dan sifat pengecut yang keterlaluan. (HR. Abu Dawud). Atau dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, manusia yang paling jelek adalah yang bersifat amat kikir dan pengecut. (HR. Ahmad)[v]

Banyak faktor yang bisa menimbulkan sifat pengecut, salah satunya adalah berlebih-lebihan dalam ibadah dan pembebannan terhadap jiwa dengan hal-hal yang menyusahkan dapat menghilangkan keinginan dan lunturnya semangat jihad. [vi] Senada dengan hal tersebut, Syeikh Al-izz bin Abdu Salam mengatakan, sifat lemah (tidak memiliki daya juang) juga merupakan faktor dari timbulnya sifat pengecut. Allah SWT sendiri membenci orang-orang yang memiliki sifat pengecut, apalagi ketika seseorang tersebut lari dari medan jihad. [vii]

[i] Hamzah Ya’qub, (1983), Etika Islam, Bandung : CV Diponegoro, cet. 2 hlm.114

[ii] Qayim al Jauziyyah, (2006), Jihad Sepanjang Zaman, Solo: Pustaka Arafah, hlm. 81

[iii] Hamzah Ya’qub, op.cit, hlm. 115

[iv] Rasyidin, (2008), Falsafah Pendidikan Islam, Bandung: Citapustaka Media Perintis, hlm. 70

[v] Qayim al Jauziyyah, op.cit, hlm. 81

[vi] Salim bin Ied al-Hilal, (2005), Riyadhus Salihin Jilid 1, Jakarta: Pustaka Imam syafi’I, hlm. 383

[vii] Qayim al Jauziyyah, op.cit, hlm. 81