Sidrotun Naim, Saintis Muslimah Kelas Dunia Asli Indonesia

Sidrotun Naim, Saintis Muslimah Kelas Dunia Asli Indonesia

0 263

Entah berapa banyak penghargaan yang didapatkan oleh Sidrotun Naim, baik skala lokal, hingga internasional. Mulai dari penghargaan Presiden SBY, Menristek, Perusahaan-perusahaan ternama, hingga badan PBB UNESCO pun pernah ia raih. Yang terakhir Oktober 2014, Asturias Award bidang Sains dari Kerajaan Spanyol.

ALHIKMAH.CO–Malam semakin hangat, semakin syahdu, semakin meriah Kota Madrid Spanyol bermandikan cahaya. Di luar, ribuan masyarakat  berkumpul bak merayakan festival. Hari ini bukan hari biasa, sebab Raja Felipe dan Ratu Letizia akan memberikan penghargaan tertinggi Kerajaan Spanyol. Penghargaan bergengsi seprestisius Nobel. Penghargaan beken bernama Prince of Asturias Award.

Di dalam bangunan tua itu, dalam suasana sakral, di atas karpet biru, di tengah-tengah tiga tingkat balkon yang riuh dan mewah dan mengkilap. Sejak tahun 1981, satu persatu tokoh dunia hadir di sana, menjejakkan kaki di karpet biru, sebut saja: Nelson Mandela, Bill Gates, Stephen Hawking, Yaser Arrafat, Muhammad Yunus, dan sederet nama tokoh kelas dunia lainnya.

Dan kini, penghujung Oktober 2014, seorang berbaju biru, berparas Indonesia, berbalut jilbab dan rok menginjakkan kakinya di sana. Bersama empat kawannya mewakili Yayasan Fullbright, dipanggil oleh sang Raja. Hatinya berdegup kencang, matanya semakin berkaca-kaca, bergemuruh dadanya melihat bendera Indonesia berkibar di hadapannya.

“Saya ini padahal siapa?” dalam hatinya, sambil ia lihat kawan-kawannya sudah menangis haru. Yang lebih membuatnya bergetar bahwa sebenarnya, dirinya ialah seorang muslimah yang sedang berdiri tegak di sana, untuk memperoleh penghargaan bergengsi dunia di bidang Sains. ‘Tanpa saya bicara, saya sudah menyimbolkan bahwa saya perempuan, dan saya seorang muslimah,” kenang Sidrotun Naim, Ph.D mengisahkan pengalaman beberapa waktu silam kepada Alhikmah di kediamannya di Kiara Condong Bandung, sepenggal November silam.

Sidrotun Naim mewakili Fullbright, sebuah yayasan pendidikan yang berkiprah selama 70 tahun, dan dirinya mewakili Fullbright Asia. “Saya pun mendapat penghargaan karena dedikasi pendidikan dan mempopuelrkan sains dengan bahasa yang mudah dipahami…Tak pernah terabayangkan akan mendapat banyak penghargaan,” kenang Naim, sapaan akrab muslimah berusia 35 tahun ini.

Diakuinya, berdiri di karpet biru itu merupakan berkah dari penelitiannya tentang udang. Kisahnya bermula ketika ia memutuskan untuk kuliah di ITB jurusan biologi tahun 1997. “Waktu itu saya ingin jadi dokter, biar beda aja sama kakak-kakak saya. Cuma waktu zaman itu, belum ada HP atau Telepon, Saya suka baca surat kakak saya yang di Bandung, minta kirimin uang, dll. Akhirnya Bapak saya kadang berhutang, atau jual barang di rumah sedikit demi sedikit,” kenang putri ke-7 dari 11 bersaudara ini.

Melihat ayahnya yang Guru Agama di Solo dan Ibunya yang Ibu Rumah tangga dirasa Naim dirinya agak memaksakan diri jika ia tetap ngotot ke kedokteran. “Akhirnya saya masuk Biologi ITB. Tiga kakak saya di Bandung. Yang di Informatika ITB bilang kalau sudah masuk ITB banyak beasiswa, dan benar. Setelah saya masuk saya nggak bayar kuliah. Tinggal saya numpang di kakak. Dengan ke Bandung. secara tidak langsung saya meringankan beban orang tua,” kata Naim.

Di ITB, dengan minatnya bidang Bilologi,  Naim pun aktif menghidupkan unit di Masjid Salman ITB, Bioter (Biologi Terapan), juga mengajar di unit Salman Karisma. Saat tingkat akhir, PT Freeport mengadakan reklamasi, perjanjian ulang dengan RI, dan saat itu dosen pembimbingnya ditunjuk sebagai ahli dalam reklamasi tersebut.

“Saat itu pembimbing saya bilang, gimana kalau kamu saja yang ke Freeport. Y owes, saya akhirnya ke sana,” kata muslimah asal Solo. Diakuinya, saat itu ia hanya mengikuti ‘aliran’ kehidupan yang sudah dirancang sang Maha. Dalam perjalan ke Freeport Naim baru menyadari, bahwa laut di Indonesia begitu luas. HALAMAN SELANJUTNYA ( Dari Negeri Kangguru ke Serambi Mekah) (rl/alhikmahco)