Shalat Dhuha, Sedekah, dan Kemudahan Rezeki

Shalat Dhuha, Sedekah, dan Kemudahan Rezeki

3 360

Adakah manusia yang tak pernah menerima cobaan dalam hidupnya? Jika ada apakah hidupnya akan demikian bahagia? Belum tentu pembaca. Setidaknya saya memiliki keyakinan kalau dalam setiap cobaan yang diberikan terselip secercah kebahagiaan.

ALHIKMAH.CO–Pada mulanya saya kira cobaan itu tidaklah datang demikian beruntun. Di mulai dengan olengnya kapal usaha kami. Kebangkrutan membayangi hari-hari kami. Usaha yang dulu dibangun sedemikian rupa mendadak berada di ujung tanduk. Hutang kepada orang lain rasanya dalam bayangan kami tak mungkin akan terbayar lagi. Adakah yang lebih menyakitkan jika setiap hari ada yang menggedor rumah dengan maksud menagih hutang?

Itu belum seberapa. Cobaan datang berimpitan dengan penyakit yang Allah timpakan kepada salah seorang anggota keluarga kami. Ia sakit dan kami tak bisa membelikannya obat. Jangankan obat, untuk mengganjal perut kami saja setiap hari kami ketar ketir.

Ahh, tapi kami enggan membagi kesusahan ini pada orang lain. Kami tunjukkan kalau kehidupan kami biasa-biasa saja. Tidak ada yang berubah. Kami tak mau belas kasihan dari orang lain kecuali dari Allah semata.

Maka semenjak saat itu, kami niatkan apabila malam telah sampai dipengujung untuk bangun. Menangis dan mengadu akan semua kesusahan yang kami miliki saat ini. Di saat-saat seperti itu saya selalu bertanya, adakah kesusahan ini adalah kifarat atas dosa-dosa kami di masa yang lalu?

Allah akan mengambil harta yang bukan hak kita dengan berbagai cara, misalnya kebangkrutan dan kesakitan. Itu saya rasakan. Mungkinkah ini cara Allah membersihkan diri saya dan keluarga? Semoga saja, karena jika diingat dosa-dosa yang pernah saya lakukan begitu terhampar luas.Astagfirullah.

Kemiskinan itu selalu dekat dengan kekufuran, itu kata orang. Kami berusaha untuk menjauhi stigma tersebut. Dengan kesusahan yang kami alami kami malah mencoba dekat kepada-Nya. Bukankah Allah dekat dengan orang-orang yang kesusahan? Miskin tak berarti tidak bisa beribadah.

Jika selama ini kami terlena oleh harta, mungkin inilah saatnya kami terlena oleh sang Mahapencipta. Kami terus berusaha ber-husnudzon, Allah akan mengubah nasib kami jika kami mau mengubahnya. Dan memang kami ingin mengubah nasib tersebut. Menjadi baik dan lebih baik lagi.

Pertama yang kami lakukan adalah meminta maaf kepada orang-orang yang meminjamkan uang kepada kami. Kami jelaskan kalau kami belum bisa membayarnya cepat-cepat. Malu? Pastinya itu juga kami rasakan. Tapi kami percaya Allah akan melunakkan hati para pemberi pinjaman itu. Caranya? dengan shalat dhuha.

Konon, menurut salah seorang ustadz, sedekah akan bisa melunasi hutang kita. Namun dengan apa kami bisa bersedekah? Harta tak punya sama sekali. Walaupun begitu kami tak mau kalah begitu saja. Tak punya harta, kami ganti dengan shalat dhuha. Seluruh keluarga saya wajibkan untuk shalat dhuha setiap hari sebagai ganti bersedekah. Kami sedekahkan waktu kepada Allah SWT. Berharap Ia mendengar dan mau memberikan jalan keluar pada kesusahan yang sedang kami alami.

Hasilnya? Memang butuh waktu lama. Tapi kami rasa sedikit demi sedikit ada perubahan yang dirasakan. Para pemberi hutang itu mengerti dengan keadaan kami. Memang pada mulanya mereka marah, tapi apa daya kami tak memiliki sepeser pun uang untuk membayar hutang. Mereka bisa melihat sendiri. Lantas pada akhirnya cuma bilang “Silakan nanti dibayar jika sudah ada rejeki,”

Hal ini tentu saja menggembirakan hati kami. Permasalahan hutang sedikit tertangguhkan, kini upaya kami untuk membangun kembali perekonomian keluarga yang hancur. Sedikit demi sedikit kami mulai menghubungi beberapa relasi. Mengajak bekerja sama dengan catatan bahwa kami hanya bisa menyumbangkan tenaga bukan modal materi karena tidak memiliki.

Mereka menyetujuinya. Perlahan kami mulai berbisnis dengan teman-teman tersebut. Siapakah yang menggerakkan hati mereka untuk membantu kami kecuali Allah? Shalat dhuha selalu kami jalankan. Setiap keuntungan yang kami peroleh, setelah dipotong berbagai keperluan kami azzamkan untuk disedekahkan. Entahlah, setiap diri ini bersedekah hati ini menjadi lebih tenang. Hidup terasa lebih optimis, keyakinan bahwa Allah akan menjaga dari segala kesulitan semakin tebal.

Berbilang waktu kami selalu menerapkan hal tersebut. Shalat dhuha, sedekah, dan munajat di sela kehidupan kami. Lantas tanpa sadar hutang kami yang segunung itu lunas. Kami benar-benar tidak sadar bahwa kami bisa membayar hutang-hutang tersebut sedemikian rupa. Allah begitu memudahkan rejeki yang mengalir pada keluarga kami. Sampai saat ini. Selain membayar hutang, kehidupan keluarga kami berjalan harmonis, anggota keluarga yang sakit mulai sembuh, perekonomian keluarga membaik. Semua itu adalah anugerah tak terhingga dari Allah. Subhanallah. Jika kita mau membuka pintu rahmat-Nya segala kenikmatan akan datang seketika. Asal tahu kuncinya, di antaranya shalat dhuha dan sedekah. Insya Allah.

          (Seperti disampaikan oleh ibu DS, pembaca Alhikmah di Jawa Tengah. Ia pun sempat menyedekahkan sebagian hartanya untuk Alhikmah, dengan niat demi kemajuan dakwah via media)


LIKE & SHARE berita ini untuk berbagi inspirasi