Serupa Semesta, Pertanda Ini Bergerak dan tak Terganti

Serupa Semesta, Pertanda Ini Bergerak dan tak Terganti

0 95
pict: amalmadanibatam.blogspot.com

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Mari kita berbincang soal pertanda yang hakiki. Sebuah petunjuk abadi yang dapat melingkung di setiap zaman. Serupa “hadiah”, kado cinta ini adalah lentera kehidupan.

Pertanda itu adalah sebuah kitab. Ia adalah tiang dan eksistensi, penjaga dan pemelihara, undang-undang dan manhaj. Ia adalah bekal perjalanan, referensi dari sebuah tugas kehidupan. Ia adalah Al Qur’an.

Meski kini, kitab itu sudah purna dan terbundel, mudah didapati, akan tetapi banyak yang merasakan jarak-jarak kesenjangan dengannya. Sebuah jurang yang panjangnya tak bisa lagi dikali dengan depa. Atau ada dinding pemisah yang tebal, sebab ia hanya dijadikan sekumpulan bacaan indeks yang hampa.

Apalagi, bila kita tidak menghadirkannya sebagai sebuah visi. Bahwa ia diturunkan untuk digunakan segenap umat manusia tanpa kecuali. Sebagai solusi menghadapi ragam persoalan riil dalam kehidupan. Wajar, bila pertanda ini kemudian kerap dianggap sebuah ilusi.

Padahal Al Quran ini turun dengan kemukjizatannya. Bahwasannya ia hadir di tengah-tengah kita, tak lain sebagai jawaban atas problematika dari satu realitas serta fase tertentu. Ia ‘seakan-akan’ turun secara berangsur, menyelesaikan satu persatu persoalan melawan konsep kejahiliyahan di manapun berkuasa.

Sebagaimana yang Allah Ta’ala tunjukkan pada generasi awal sejarah peradaban Islam di zaman Rasulullah Saw. Tatkala mereka menghadapi beragam masalah, baik saat di Mekkah atau Madinah, juga jazirah Arab secara keseluruhan. Al Quran turun secara berangsur-angsur untuk menghadapi peliknya problematika syahwat dan hawa nafsu.

Seperti itulah Al Quran menuntun generasi terbaik itu selangkah demi selangkah, meretas solusi problematika jahiliyah. Ketika di antara mereka terpeleset, Al Quran menuntun bagaimana caranya bertaubat. Dengan menjalani Al Qur’an mereka seperti meniti anak tangga.

Kiranya kita sama-sama tahu, kalamullah ini mempunyai daya adaptif yang responsif terhadap dinamika zaman. Ketika Allah menjadikan generasi pertama sebagai sebuah bukti yang amat membanggakan, bukanlah karena faktor lain. Melainkan karena mereka menjadikan Al Quran sebagai sebuah sistem hidup, yang tak bisa dilepaskan dari jantung mereka sendiri.

Hanya dengan cara pandang ini, kita bisa menyaksikan Al Quran hidup dan berpengaruh. Tegaslah kedudukannya, bahwa ia bukanlah bacaan yang hanya dibaca dengan tartil. Bukan pula penggalan sejarah yang seolah cerita di masa lalu, yang berhenti pengaruh dan interaksinya dengan kehidupan di masa kini.

Sesungguhnya saudaraku, Al Quran ini sebuah hakikat yang punya eksistensi ‘permanen’, Seperti alam raya. Semesta ini adalah pertanda Allah yang terlihat dan Al Quran adalah firman Allah yang dapat dibaca. Keduanya sama-sama bukti pemiliknya sebagai Khalik (pencipta).

Selain itu, alam raya dan Al Quran adalah dua eksistensi yang diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaannya. Semesta raya, dengan segala aturan yang mengikatnya selalu bergerak dan menjalankan peran yang diberikan Sang Khalik, hingga Ia menentukan batas akhirnya.

Demikian juga Al Quran yang memerankan peranannya. Firman ini tidak pernah berubah  sejak dibuat hingga diturunkan, fungsinya pun tetap diperuntukkan untuk manusia, tidak berganti dalam perhitungan waktu tertentu. Karena manusia pun, sejak dulu juga tidak pernah berubah menjadi makhluk lain yang tidak digariskan. Sehingga, Al Quran ini kuasa mengarahkan hidup manusia hari ini dan esok. Ia dan semesta, sama-sama pertanda yang bergerak dan tak terganti.

Maka, termasuk perkataan yang menggelikan bila ada pernyataan, bahwa semesta yang sudah berumur ini dianggap kuno dan lapuk. Sehingga sudah sepatutnya diganti dengan semesta raya yang baru. Demikian juga, sama-sama terasa menggelikan bila pendapat tadi diberlakukan pada Al Quran. Bahwa firman Allah ini tidak lagi relevan dengan dinamika zaman, sepatutnya ada perevisian dalam bab rukun-rukun ibadah dan konsep tauhid! Wallahu’alam []

Penulis adalah Jurnalis Alhikmah cum alumnus UIN Bandung angkatn 2008