Serba-Serbi Zakat Harta dan Perdagangan

Serba-Serbi Zakat Harta dan Perdagangan

0 2

 

Seperti diulas dalam tulisan ‘Pada Mulanya Zakat Mal’, zakat mal menjadi panduan bagi zakat-zakat kontemporer di era sekarang. Ustaz Ahmad Sarwat Lc, MA dalam buku Seri Fiqh Kehidupan 4 : Zakat mengatakan bahwa jenis harta zakat yang umumnya lebih banyak disepakati oleh para ulama adalah zakat yang telah diijtihadkan dan ditulis oleh para ulama di masa klasik dulu.

“Dimana sepanjang 12 abad lamanya, segala jenis zakat itu telah diterima dan dijalankan oleh umat Islam,” kata ustaz Ahmad Sarwat. Menurutnya jenis zakat mal ada 6 jenis yaitu: zakat pertanian, zakat hewan ternak, zakat emas dan perak, zakat barang perniagaan, zakat rikaz, zakat ma’adin (tambang).

Berikut dalil 6 zakat mal yang dikutip dari buku Seri Fiqh Kehidupan 4 : Zakat tulisan ustaz Ahmad Sarwat, Lc, MA:

Zakat Pertanian

Dari  Ibnu  Umar  ra  berkata  bahwa  Rasulullah  SAW bersabda,”Tanaman yang disiram oleh langit atau mata air atau atsariyan, zakatnya adalah sepersepuluh. Dan tanaman yang disirami zakatnya setengah dari sepersepuluh”.(HR Jamaah )

Yang dimaksud dengan ‘atsariyan‘ adalah jenis tanaman yang hidup dengan air dari hujan atau dari tanaman lain dan tidak membutuhkan penyiraman atau pemeliharaan oleh manusia.

Dari  Jabir  bin  Abdilah  ra  dari  Nabi  SAW,” Tanaman  yang disirami   oleh   sungai   dan   mendung   (hujan)   zakatnya sepersepuluh.  Sedangkan  yang  disirami  dengan  ats-tsaniyah zakatnya setengah dari sepersepuluh. (HR. Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud)

Zakat Hewan Ternak

Dari Muazd bin Jabal radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW mengutusnya ke Yaman dan memerintahkan untuk mengambil zakat dari tiap 30 ekor sapi berupa seekor tabiah (Tabi’ah adalah sapi betina atau jantan yang sudah genap berusia 1 tahun dan masuk tahun ke-2. Sedangkan musinnah adalah sapi betina yang sudah genap berusia 2 tahun danmasuk tahun ke-3) , dari setiap 40 ekor sapi berupa seekor musinnah (HR. Ahmad Tirmizy Al-Hakim)

Zakat Emas dan Perak

Emas yang kurang dari 20 mitsqal dan perak yang kurang dari 200  dirham  tidak  ada  kewajiban  zakat  atasnya.  (HR.Ad-Daruquthny)

Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW  bersabda,”Perak  yang  kurang  dari  5  awaq  tidak  ada kewajiban zakatnya”. (HR. Bukhari)

 Zakat Barang Perniagaan

Dari   Samurah   radhiyallahuanhu   bahwa   Nabi   SAW memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari barang yang siapkan untuk jual beli. (HR. Abu Daud)

Kalimat “alladzi nu’ adu lil-bai’i” artinya adalah benda atau barang yang kami persiapkan untuk diperjual- belikan. Jadi zakat ini memang bukan zakat jual-beli itu sendiri, melainkan zakat yang dikenakan atas barang yang dipersiapkan untuk diperjual-belikan.

ada unta ada kewajiban zakat, pada kambing ada kewajiban zakat dan pada barang yang diperdagangkan ada kewajiban zakat. (HR. Ad-Daruquthuny)

Zakat Rikaz dan Maadin

Syariah Islam telah menetapkan bahwa zakat untuk rikaz adalah seperlima bagian, atau senilai 20 % dari total harta yang ditemukan. Seperti sabda Rasulullah : Zakat rikaz adalah seperlima (HR.Bukhari)

***

Enam zakat mal ini, menurut para ulama menjadi panduan hitung zakat kontemporer sekarang. Ulama besar Arab Saudi Syaikh Utsaimin dalam buku Fikih Zakat Kontemporer merinci tentang keenam zakat ini dengan serba-serbinya.

Terkait zakat emas dan perak, Syaikh Utsaimin menjelaskan tentang makna mitsqal di atas. “Pada prinsipnya emas dan perak itu wajib dizakati sehingga ada dalil yang mengkhususkan. Yang wajib dikeluarkan dari zakat emas dan perak itu adalah  2,5 % dan 2,5 % sama artinya seperempat puluh. Adapun teknik mengeluarkan zakat emas dan perak adalah Anda bagi harta yang Anda miliki dengan empat puluh, maka hasil dari pembagian itulah zakat yang harus dikeluarkan,” katanya.

Hal ini, menurut para ulama berlaku juga untuk uang karena merupakan nilai tukar. “Sehingga apabila seseorang memiliki uang kertas yang nilainya mencapai satu nishab dari emas atau perak, uang kertas itu wajib dizakati. Karena ia merupakan harta, bukan modal usaha. Ia merupakan alat tukar menukar barang yang dilakukan oleh sesama manusia. Dengan demikian, status uang kertas itu sama dengan dinar dan dirham yang bukan merupakan modal usaha sebagaimana diasumsikan oleh sebagian masyarakat,” katanya.

Pada edisi ini, Alhikmah lebih membahas bagaimana zakat mal khususnya zakat emas dan perak yang nanti akan dibahas di zakat profesi dan juga zakat perdagangan. Insya Allah pada edisi-edisi berikutnya akan dibahas pula tentang zakat pertanian dan peternakan lebih mendalam.

Dalam hal zakat perdagangan Syaikh Utsaimin menegaskan bahwa seluruh harta yang diniatkan sebagai modal usaha dan akhirnya digulirkan menjadi bisnis wajib dizakati.

“Semua macam harta apa saja yang dimaksudkan oleh pemiliknya untuk usaha, ia wajib dizakati, baik berupa tanah pekarangan, binatang, mobil, kain, bejana maupun lainnya. Yang penting, semua harta yang diproyeksikan seseorang untuk usaha dan meraup keuntungan, maka ia wajib dizakati,” katanya.

Syaikh mengutip dalil keumuman wajib zakat :“ Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta-minta).” (Q.S. Al-Ma’arij ayat 25-26)

(juga keumuman sabda Nabi dalam hadits Mu’adz bin Jabal ketika ia diutus (dakwah) ke Yaman, “ Beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah menetapkan zakat pada harta mereka yang dipungut dari orang-orang kaya dan disalurkan untuk orang-orang fakir diantara mereka.”

“Jadi, pada prinsipnya harta itu wajib dizakati, kecuali ada dalil yang merubahnya. Juga berdasarkan sabda Nabi SAW, ‘Segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya,” kata Syaikh Utsaimin.

Hal senada disampaikan pakar fikih alumnus Al Azhar dan Universitas Madinah, Dr. Ahmad Zain Annajah. Ia mengatakan ketika seorang sudah meniatkan untuk usaha, maka sejak saat itu hartanya baik modal maupun labanya dizakatkan setelah mencapai nishab dan haul.

“Misal seseorang memiliki modal 20 laptop. 1 laptop menjadi modal seharga 5 juta dan dijual 10 juta. Tahun depan laptop tersebut laku 10, berarti modal 20 laptop ditambah laba keuntungan 10 laptop, jika mencapai nishab yaitu 85 gram emas, maka dikeluarkan 2,5  %,” kata Dr. Zain.

Syaikh Utsaimin menegaskan bahwa para ulama bersepakat bahwa modal usaha wajib dizakati, tak hanya keuntungan atau labanya. “Sekiranya kami berpendapat bahwa modal usaha itu tidak wajib dizakati, niscaya banyak harta dari para pengusaha atau para pedagang itu gugur dari kewajiban zakat. Karena mayoritas harta para pedagang itu dipergunakan untuk usaha dan perdagangan, sehingga ia merupakan modal usaha,” katanya.

Zakat Barang Mewah

Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa barang-brang mewah seperti bejana, perabotan rumah, peralatan, mobil hingga tanah yang tidak dimanfaatkan tidak wajib dizakati.

“Seseorang tidak wajib menzakati bejana, perabotan-perabotan rumah tangga, peralatan –peralatan, mobil-mobil, tanah-tanah pekarangan dan lain yang dimiliki untuk dirinya sendiri bahkan sekalipun semua diproyeksikan untuk disewakan,” katanya.

Karena itu, menurut Syaikh Utsaimin, sekiranya seseorang memiliki banyak tanah pekarangan yang nilainya setara dengan berjuta-juta riyal, namun tanah-tanah itu tidak diperjual belikan, sekedar diproyeksikan untuk dimanfaatkan belaka, tanah-tanah tersebut tidak wajib dizakati sekalipun banyak.

“Yang wajib dizakati sebenarnya adalah hasil dari sewaan tanah-tanah itu apabila telah genap setahun terhitung semenjak dilakukan transaksi. Sehingga jika hasi sewaan tanah-tanah itu belum genap setahun, ia tidak wajib dizakati,” katanya.

Syaikh Utsaimin menyebut sabda Rasulullah “Seseorang muslim tidak wajib menzakati hamba sahaya, dan tidak pula kudanya.” Sebagai dalil bahwa harta yang digunakan untuk pribadi tidak dizakati.

“Sabda beliau ini mengindikasikan bahwa harta yang diperuntukan untuk kepentingan diri sendiri tidak wajib dizakati. Dalam artian seseorang yang memiliki tanah-tanah pekarangan yang diproyeksikan untuk dimanfaatkan itu tidak ada maksud lain selain untuk kepentingan diri sendiri. Karena ia tidak berniat menjualnya, tetapi ia bermaksud tanah-tanah itu dibiarkan untuk dimanfaatkan dan kembangkan , sehingga tidak wajin dizakati,” kata Syaikh Utsaimin.

Anggota Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis) Ustaz Fatahillah, Lc menyampaikan pandangan serupa. Zakat mal, menurutunya dikembalikan kepada prinsip awal dalam shahifah.

“Jika punya rumah mewah, punya kondominium misalnya, atau apartemen, kalau saya memang lebih cenderung itu tidak dizakati meskipun barangnya mewah. Namun orang tersebut bisa mengeluarkan infak sebagai bentuk kepedulian, karena syariat Islam menghormati kepemilikan harta-harta mewah itu. Maka kemudian ada koridor infak dan sedekah itu disitu,” kata ustaz Fatahillah.

Namun, pendapat berbeda disampaikan Dr. Ahmad Zain Annajah. Menurut Dr. Zain, tanah zaman sekarang sudah menjadi alat investasi laiknya emas, perak dan uang. Karenanya, tanah menjadi salah satu pilihan investasi laiknya emas. Karena emas wajib dizakati, begitupun tanah yang menjadi investasi jangka panjang.

“Karenanya ada yang berpendapat tanah dizakatkan, dihitung nilainya setelah sampai haul, lalu dikeluarkan zakatnya sesuai harga tanah saat itu. Karena, saat ini tanah juga merupakan alat investasi dan juga bisa ditukar dengan uang,” pungkasnya. []