Seperti ini Adab dalam Menyambut Tamu

Seperti ini Adab dalam Menyambut Tamu

0 190
pict. from thestraightway.info

MENERIMA tamu adalah menyambut dengan cara penyambutan yang wajar, dengan  maksud menyenangkan atau memuliakan tamu. Rasulullah SAW berpesan, “Barang siapa mengaku iman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya, (Riwayat Bukhari). Dengan demikian, menyambut tamu merupakan salah satu implementasi keimanan.

Memuliakan tamu merupakan sebuah kewajiban bagi tuan rumah. Kewajiban menjamu tamu yang ditentukan oleh Islam hanyalah sebatas kemampuan tuan rumah (tidak memberatkan). Bagi tuan rumah yang mampu, hendaknya menyediakan jamuan yang pantas. Sedangkan bagi yang kurang mampu, menyesuaikan dengan kesanggupannya. Jika hanya mampu memberikan air putih maka itupun sudah cukup. Apabila air putih tidak ada, cukuplah menjamu tamunya dengan senyum dan sikap yang ramah[i]

Islam memberi batasan kepada tuan rumah untuk memuliakan tamu sampai tiga hari. Sebab, dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas pemilik rumah. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: “Bertamu itu adalah tiga hari, dan suguhannya siang dan malam. (H.R Muslim). Sesuai dengan hak tamu, kewajiban memuliakan tamu adalah tiga hari, selebihnya merupakan sedekah bagi tuan rumah. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut, “Menghormati tamu itu sampai tiga hari. Adapun selebihnya merupakan sedekah baginya,.” (H.R Muttafaqu Alaihi).  [ii]

Selain memberikan hidangan, Islam juga menganjurkan agar tuan rumah menerima kedatangan tamu dengan sikap yang baik. Misalnya dengan wajah yang cerah, tersenyum, dan sebagainya. Sekali-kali jangan acuh, berburuk sangka, apalagi memalingkan muka dan tidak mau memandangnya. Memalingkan muka atau tidak melihat kepada tamu berarti suatu sikap sombong yang harus dijauhi sejauh-jauhnya. Sebab Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tamu itu datang dengan rizkinya dan pergi dengan membawa dosa-dosa kaum (yang memuliakannya), dikarenakan Allah melebur dosa-dosa mereka “. (H.R. Abu Syaikh)[iii]

[i] Adnan Hasan Salih Baharits, (2007) Mendidik Anak laki-laki, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 193

[ii] Zaki al-Din, (2008), Ringkasan Sahih Muslim, Bandung: Mizan, hlm. 580

[iii]Imam Nawawi, dkk, Syarah Hadits Arbain, Solo: Pustaka Arafah, hlm. 196

Komentar ditutup.