Sepenggal Kisah Ali bin Abi Thalib, Masa Kecil hingga Akhir Hayatnya

Sepenggal Kisah Ali bin Abi Thalib, Masa Kecil hingga Akhir Hayatnya

0 914

Oleh: Fadh Ahmad Arifan*

ALHIKMAH.CO,– Ali bin Abi Thalib adalah Menantu Rasulullah Saw yang telah memeluk Islam di usia 6 tahun.[1] Pada hari-hari pertama Rasululah berdakwah, Abu Thalib melihat putranya, Ali shalat dengan sembunyi-sembunyi di belakang Rasul.

Ini adalah untuk pertama kalinya Abu Thalib mengatahui bahwa Ali dimasa kecil telah mengikuti risalah Muhammad Saw. Ali tidak gentar ketika mengetahui bahwa ayahnya melihatnya sholat.

Usai shalat, Ali menghadap ayahnya dan berkata: “Wahai ayahku, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempercayai ajaran yang dibawanya dan mengikutinya.” Abu Thalib menjawab: “Sungguh ia mengajakmu kepada kebaikan, maka ikutilah dia”.[2]

Semua peperangan Ali ikuti, kecuali Perang Tabuk. Umar bin Khattab berkata tentang Ali: ia adalah orang yang paling pandai menghukum di antara kami semuanya.[3] Saat cukup umur, Ali menikah dengan Fatimah. Kala itu, Ali hanya punya 3 perbendaharaan: baju perang, sebilah pedang dan seekor unta.

Rasulullah ridha dengan maskawin yang diberikan Ali yakni baju perang. Disaksikan para sahabatnya, Rasulullah mengucapkan ijab qobul pernikahan Ali dan Fatimah, “Bahwasannya Allah Swt memerintahkan aku supaya menikahkan engkau dengan Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah mudahan engkau dapat menerima hal itu”.

Ya Rasul Allah, kuterima itu dengan baik”, jawab Ali bin Abi Thalib.[4] Dari pernikahan Ali dan siti Fatimah lahirlah Hasan dan Husein.

Sewaktu Rasulullah Saw wafat di pangkuan siti Aisyah, Ali bersama al-Fadhl (putranya Abbas) dan Usamah bin Zaid, memandikan dan memberi wewangian kepada jasad Rasulullah. Kemudian dikafani. Digalilah liang lahat untuk jasad Rasul. Yang menggali ialah Thalhah Zaid bin Sahal. Setelah itu dimakamkan persis di kamar tempat pembaringan beliau, di kamar Aisyah, yang kala itu masih berada di luar area Masjid Nabawi.[5]

Pasca pembunuhan yang menimpa Khalifah Usman, Kekacauan terjadi di Madinah selama 5 hari. Ali diangkat jadi pengganti oleh penduduk Madinah. Mulanya Ali menolak dan usul agar memilih Talhah bin Ubaidillah atau Zubair bin Awwam.[6] Thalhah sendiri seorang sahabat yang punya julukan “Assyahidul hayyi” atau syahid yang hidup sendiri. Julukan tersebut diberikan Rasul saat Perang Uhud. Sementara Zubair adalah keponakannya Khadijah.

Hampir seluruh perhatiannya dipusatkan kepada upaya penyelesaian konflik intern umat Islam.[7]  Beberapa kebijakan Ali setelah diangkat menjadi khalifah: Mengembalikan pemerintahan Islam seperti era amirul mukminin, Umar bin Khattab. Kemudian, semua tanah yang diambil Bani Umayyah pada masa Utsman, dikembalikan lagi menjadi milik negara. Ali juga tak ragu mengganti gubernur yang sewenang wenang salah satunya Muawiyyah di Syam. Karena perang saudara, Ali memindahkan ibukota dari Madinah ke Kuffah pada tahun 657 M.[8]

Tatkala Ali memecat beberapa gubernur, Muawiyyah makin gencar menuntut qisas bagi pembunuh Usman. Ali berusaha meredam tuntutan Muawiyyah dan berjanji mengabulkan tuntutan bila kondisi negara sudah normal. Tapi pada akhirnya meletus Perang Shiffin.[9] Saat terpojok, atas usulan Amr bin Ash, Muawiyyah menawarkan gencatan senjata dengan mengangkat Al-Quran.[10]

Usai gencatan senjata/Arbitrase dalam Perang Shiffin, muncul kelompok khawarij, mereka ini awalnya di pihak Ali, lalu mengutuk Ali karena memilih langkah Arbitrase padahal pihaknya telah unggul. Kaum Khawarij kemudian memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri.

Khawarij ini bisa disebut garis keras. Mereka punya pandangan bahwa jihad masuk rukun Islam yang keenam.[11] Di bidang politik, Khawarij punya pandangan khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat, baik Arab atau non-Arab. Bahkan perempuan boleh jadi pemimpin bila memang mampu dan memenuhi kriteria sebagai kepala negara.[12] Selain Khawarij, ada kelompok Syiah dan Murjiah.

Usai melancarkan siasat liciknya dalam Perang Shiffin, Muawiyyah menuju Mesir, karena negeri itu kaya akan hasil alamnya. Usai mesir dikuasainya, Muawiyyah menyusun kekuatan untuk taklukkan Hejaz, Yaman dan Bashrah. Orang yang sakit hati atas dibunuhnya Khalifah Usman, ia kumpulkan dan jadi pengikutnya. [13]

Akhir hidup khalifah Ali sungguh memilukan. Beliau wafat karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibn Muljam. Ali dibunuh saat memasuki Masjid untuk menunaikan sholat shubuh. Setelah wafatnya Ali, kepemimpinan umat diserahkan kepada Hasan bin Ali. Bila Ali didzalimi oleh khawarij, maka dikemudian hari, 2 putranya dikhianati kelompok Syiah. Wallahu’allam.

*Penulis adalah Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang

[1] Tim Penyusun, Leksikon islam jilid 1, (Pustaka azet, 1988), hal 35

[2] Khalid muhammad Khalid, Kehidupan para Khalifah Teladan, hal 329

[3] Hamka, Sejarah umat Islam, (Singapura: Pustaka nasional), hal 237

[4] H.M. Al-Hamid al-husain, Sejarah hidup Imam Ali, (Jakarta: Lembaga Penyelidikan islam, 1981).

[5] Quraish shihab, Membaca sirah Nabi Muhammad saw, (Jakarta: Lentera hati), hal 1120-1121

[6] M. Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban islam, (Yogyakarta: Pustaka book publisher), hal 106

[7] Didin Saefudin Buchori, Sejarah politik Islam, (Jakarta: Pustaka intermasa), hal 44

[8] M. Abdul karim, Op, cit. hal 107

[9] M. Sayyid al-wakil. Wajah dunia Islam, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar), hal 33

[10] M. Abdul karim, Op, cit. hal 107

[11] Antony black, Pemikiran politik Islam, (Jakarta: Serambi), hal 47-49

[12] M. Abdul karim, Op, cit. hal 108

[13] Hamka, Sejarah umat islam, Op, cit. hal 247