Sepenggal Curahan Hati yang Tak Disentuh

Sepenggal Curahan Hati yang Tak Disentuh

0 105

RATUSAN jamaah duduk berdempetan memenuhi sudut masjid. Bahkan, halaman yang biasanya dijadikan parkir kendaraan, disulap menjadi tempat duduk dadakan dengan hamparan karpet biru. Memang luas masjidnya tak seberapa, namun namanya kesohor di kalangan anak muda, para aktivis dakwah.

Pada malam itu, kajian menghadirkan sosok yang luar biasa. Da’i internasional pendiri kuliah Islam online, yang kini memiliki ribuan mahasiswa di belahan dunia. Prestasi dakwahnya cukup gemilang, membuat banyak orang berdecak kagum, apalagi untuk ukuran seorang mualaf.

Dipandu seorang penerjemah alumnus pasca sarjana di salah satu kampus terbaik, sang da’i mulai berkisah ihwal pengalaman hidupnya mencari jati diri. Menemukan cahaya Islam.

Lahir dalam sebuah keluarga Kristen, ia tumbuh menjadi Kristiani yang taat. Saban akhir pekan rajin pergi ke gereja bersama ayah ibunya. Bahkan karena kecerdasannya, ia digadang-gadang menjadi penerus pendeta.

Dalam satu waktu, untuk alasan tertentu, keluarga tersebut mengangkat seorang anak untuk tinggal bersama mereka. Sepintas tiada yang berbeda dengannya. Hingga pada saat makan, anak ini mengangkat tangan seraya berdo’a.

Pertanyaan demi pertanyaan kian bersahut. Ketika makanan yang disuguhkan pun berbeda dengan yang lainnya. Saat menu hidangan babi bakar, lelaki itu hanya menikmati ikan goreng. Ketika sekeluarga meminum bir untuk menghangatkan badan, anak ini tak pernah resah dengan segelas susu murni di hadapannya. Katel bekas memasak daging babi, tak pernah digunakan kedua kalinya ketika akan memasak untuk anak laki-laki ini. Sungguh, ini bukanlah satu kebetulan yang terstruktur, masif, dan terencana..

Lantas terbesit ragam tanya di benak ia dan saudara-saudaranya, mengapa lelaki ini diperlakukan berbeda, begitu dijaga. Bahkan ketika bulan Ramadhan, ibunya bangun lebih awal khusus menyiapkan makan untuknya. Dan setelahnya, anak ini tidak akan makan hampir seharian penuh.

Namun karena segan, akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu hanya mengulum di hati. Walapun sering didapati, anak angkat ini bersujud di sebuah alas tipis menghadap Barat. Apa yang sedang ia lakukan? Tak ada yang menjelaskan juga padanya.

Hingga akhirnya, pertanyaan itu sejenak ‘tidur’ terlipat perputaran waktu. Kesibukan aktivitasnya membuat perhatiannya teralihkan dari apa yang dilakukan saudara angkatnya itu. Petualangan kehidupan di dunia luar pun di mulai, termasuk perjalanan meniti pergolakan hati dalam mencari kebenaran.

Siapa sangka, ketika masuk dunia perkuliahan di Kanada. Kuatnya pergerakan komunis membuat dia menjadi seorang yang anti Tuhan. Ia merasa agama hanyalah penjara, harus melakukan itu, tidak boleh melakukan ini. Semua terasa begitu rigid. Di samping ia merasa terpukau dengan tawaran solusi Komunis yang berazaskan “sama rata sama rasa”.

Maka sang pembelajar ini pun mulai menekuni gagasan pemikiran Komunis. Pada saat itu juga, buku-buku semacam karangan Karl Mark tak luput ia lahap. Dan ia merasa terkagum-kagum dengan pemikiran itu.

Hingga pada akhirnya, kesempurnaan akalnya dalam berpikir, menghantarkannya pada satu realitas. Bahwa teori komunis hanyalah ilusi di kehidupan ini. Azas yang kerap diagung-agungkan para penafi Tuhan itu, tak lain hanya pepesan kosong, yang tak bisa kehidupan semua orang itu disamakan. Kedudukan atau status bolehlah sama, tapi apakah perguliran kehidupannya pun harus sama? Ini tak lain hanyalah untuk melanggengkan kekuasaan sang penguasa komunis, pikirnya.

Singkat kisah, ia pun menolak teori komunis dan mencari konsep yang bisa menenangkan batinnya. Ia bingung mengapa kehidupan manusia bisa se-naif dan semerana ini. Ragam kriminalitas dan pembodohan-pembodohan lainnya.

Maka di hadapan jamaah masjid yang tetap setia mendengarkan ceritanya, kendati malam terus bergulir, ia pun lanjut berkisah. Kini masuk pada perjalanan dia menemukan Islam. Sebuah agama yang sama sekali tidak terpikir dalam benaknya. Nama suatu ajaran yang tidak ada dalam kamusnya. Sebab yang dijejalkannya sedari kecil adalah ajaran Kristen,, Kristen,, dan Kristen.. tak sempat mempelajari di luar itu. Maka ketika dia kecewa dengan konsep ketuhanan dalam Kristen, ia pun lari menjadi komunis.

Hingga satu ketika, Allah menghadirkan pertandaNya dalam sebuah bunga tidur yang mencekam. Ia seperti dalam sebuah kegelapan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ketakutan yang begitu sangat hebat mencengkramnya. Sejauh apa pun ia berlari tak ditemukan setitik cahaya. Seliar apa pun tangannya mencoba menggapai sesuatu, tak ada satupun yang bisa ia raih. Ia mencoba berteriak, meminta siapapun menariknya dari kegelapan itu, namun, tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Di manakah aku ini?

Mimpi itu terus berjalan, seolah di sanalah dimensi kehidupannya akan berakhir. Pada satu titik, ia pasrah pada apa yang namanya kematian. Di saat itu, Allah bukakan pendengarannya. Rupanya, di luaran sana ia masih mendengarkan teman-temannya bercengkrama. Bahkan, ia bisa mendengarkan ketika seorang teman masuk ke kamarnya untuk meminjam buku. Hey,, kawan,, kau mendengarkanku? Bangunkan aku.. tolong!!

Seperti berada dalam sebuah ruangan kedap suara, sekencang apa pun ia berteriak, tak ada yang bisa mendengarkannya. Hingga akhirnya, setelah suaranya kian parau dan lemah. Allah bangunkan dia dengan satu ‘jentikan jariNya’. Klik..

Matanya tiba-tiba terbuka pelan, didapatinya langit-langit kamar yang kini terlihat jelas. Kegelapan sedetik lalu menyergapnya, tetiba hilang berganti dunia nyata. Nafasnya masih tersengal, terengah-engah. Jantungnya berdetak kencang, keringat membasahi tubuhnya. Perlahan ia mulai menguasai keadaan, ia bangun dengan susah payah. Lalu melemparkan pandangan untuk memastikan keberadaannya.

Di saat itu, ia sadar, ada kekuatan yang Maha, yang bisa membangunkannya. Sederhana betul kejadiannya. Baginya, ini serupa pengalaman spiritual yang tak bisa ia abaikan. Ia ingin mengetahui siapakah pemilik kekuatan yang Maha itu? Maka hari-harinya, dirundung dengan pertanyaan tersebut.

Sampai satu ketika, saat tiba di sebuah masjid, ia melihat sekelompok orang bersujud menghadap Barat. Persis seperti yang ia dapati ketika saudara angkatnya melakukan itu. Pertanyaan yang dulu tertidur, kini terbangun kembali. Hatinya merasa terpanggil untuk mencoba mencari tahu. Bertemulah ia dengan seorang asatiz masjid tersebut. Dari sanalah, muncul sebuah nama yang menyejukkan hatinya. Islam…

Sang asatiz ini kemudian dengan begitu luwes menerangkan Islam padanya. Mengenalkan sosok teladan kehidupan, Nabi Muhammad Saw. Awalnya ia ragu, benarkah ada manusia yang tabiatnya sesempurna itu? Tak cukup dari apa yang didengarnya, ia mulai mencari literatur yang berkaitan dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Semakin sering ia mengaji Islam, semakin jatuhlah ia ke dalam cinta dan kekaguman yang dalam. Perlu waktu yang cukup lama untuk benar-benar memutuskan keyakinan Islamlah yang jua akan ia pilih. Hingga melalui asatiz inilah, ia mengucapkan kalimat Tauhid. Laa ilaaha Ilallah..

Ada semacam selaksa rindu yang belum pernah ia rasakan. Pertalian ukhuwah yang begitu tulus. Bulir bening mata yang jatuh penuh bait-bait do’a kebaikan. Banyak yang berjabat tangan mengucapkan selamat atas keislamannya.

Mengapa, Brother? Mengapa?

Sang Da’i terus melanjutkan kisahnya, meski malam telah menyibakkan selimutnya dengan sempurna. Selepas itu, keinginan untuk bertemu saudara angkat pun tetiba mengazam kuat di hatinya. Pikirnya, ia harus bertemu untuk mengabarkan kabar gembira ini. Lalu, ia mengontak ibunya, untuk menanyakan perihal di manakah keberadaan orang itu sekarang. Didapatilah sebuah nomor kontak dan alamat nun jauh di sana.

Singkat kisah bertemulah mereka di sebuah apartemen kecil. Tangis bahagia mewarnai pertemuan itu, setelah belasan tahun lamanya tak lagi bertemu. Kini dua saudara itu saling bertaut. Pertemuan yang bukan lagi sebatas ikatan satu ibu, tapi lebih dari itu, saudara seiman..

Di samping kebahagiaan itu, terselip rasa amarah pada saudara angkatnya. Setelah ia diurus sedemikian rupa, ibu yang begitu sayang padanya, saudara-saudara yang tak mengganggunya. Namun ia menyembunyikan satu hal yang begitu berharga. Nikmat Islam.

“Mengapa kau begitu tega, tak mengenalkan Islam pada kami.”

“Andaikata saat itu, engkau mengenalkan Islam, pastilah aku tak harus menjadi Komunis, harus mengalami ini itu,” lanjut sang da’i menahan geram.

Lalu saudara angkatnya ini menangis seraya meminta maaf. Katanya, ia hanya tak ingin menimbulkan pergesekan keluarga yang sudah merawatnya dengan tulus. Perbedaan konsep kehidupan yang nyata, antara Islam dan Kristen pastilah menimbulkan riak yang tak kecil.

“Itu sebetulnya bukan alasan. Karena apa yang kau bawa, jauh lebih berharga dari satu apa pun,” jawabku. Akhir cerita sang da’i, mereka saling mengislahkan kekhilafan masing-masing.

Kisah ini pun menghenyak seluruh jamaah di masjid kecil itu. Di hadapan mereka, sambil berurai air mata, da’i itu bertanya; “Duhai ikhwan sekalian, Allah telah menganugerahi kalian mengenal Islam lebih lama dari saya. Sekarang, mari kita bertanya pada diri masing-masing, sudahkah kita menyampaikan ajaran Islam ke sekeliling kita? Mengajak di luaran kita memeluk Islam? Mengajarkan bagaimana berislam yang benar?”

“Tegakah kita membiarkan diri ini sholeh sendiri? Tegakah kita membiarkan orang-orang kesilap dengan gemerlap teori-teori dunia?”

“Haruskah mereka mengalami ragam kesesatan hingga akhirnya berpeluh seorang diri menemukan Islam sebagai akhir dari perjalanannya? Duhai ikhwan, apa yang membuat kita tak mau berdakwah? Apa yang menjadikan kita, urung menyampaikan risalah Islam? Apa??”

Sang da’i menanyakan hal-hal yang tak butuh jawaban lisan. Bukan pula maksud ia menuduh yang hadir sebagai umat muslim yang tak berdakwah. Ia hanya mewakili suara hati orang-orang yang tersesat, yang seharusnya bisa ditolong, namun luput karena ragam alasan untuk tak berdakwah. Mungkin orang yang perlu ditolong itu ada di keluarga kita, tetangga kita, kolega kita. Atau bisa jadi orang yang tengah tersesat itu kita? Wallahu a’lam… 

“…mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S Taubah [9]: 122) []