Sensasi Umrah ala Backpacker? Simak Di Sini!

Sensasi Umrah ala Backpacker? Simak Di Sini!

0 180
source:www.acehpress.com

Ada nilai kemandirian di sini.  Mereka belajar Fiqh sendiri, pengurusan di Saudi sendiri, ini juga yang kemudian mendorong mereka mencari ilmunya sendiri.. “

Pembaca, pernah mendengar umrah Backpacker, atau bahkan sudah pernah mencobanya? Apabila belum, travel haji-umroh ini melayani permintaan muslim-muslimah yang ingin melakukan umrah dengan sensasi yang berbeda. Yakni umrah backpacker.

Sekira tahun 2014, Kafilah Akbar Tour ini memotret potensi Umrah Backpacker. Berawal dari dia yang selalu membantu permintaan calon jamaah yang ingin umrah secara backpacker, akhirnya, pilihan itulah yang mengantarkannya serius menjadikan Umrah Backpacker sebagai salah satu program di travelnya.

“Kalau dulu cuma bantu saja, misalnya ada tujuh orang yang tidak diterima di travel lain, lalu saya bantu. Karena cukup sering seperti itu, makanya travel ini yang awalnya hanya reguler, akhirnya mengurus umrah untuk backpacker juga. Terhitung Maret 2014,” kisah Owner Travel Kafilah Akbar Ely Zarnie Lubis di sepenggal Agustus pada Alhikmah.

Ely kembali melanjutkan ceritanya, saat awal merintis, ketika peminat umrah backpacker masih sedikit, nomor teleponnya menyebar. Setiap menjelang keberangkatan, hampir semua jamaah meneleponnya. Mereka kerap bertanya ditempatkan di hotel mana, dan memberi usul. Sementara teman keberangkatannya juga nelepon satu jam kemudian dengan membawa usulan lain. Sontak sangat memusingkannya. “Ya, itu sempat terjadi. Saya lalu berpikir tidak mungkin seterusnya seperti ini,” kisah Ely.

Menginjak tahun kedua ia menjalankan bisnisnya. Ia kemudian memperbaiki pelayanan umrah backpacker dengan menunjuk satu koordinator dari masing-masing kloter yang jadwal penerbangannya sama.

“Pertama tugas koordinator adalah memastikan semua jamaah mendapatkan tiket dengan tanggal dan jam penerbangan yang sama. Selain itu, koordinator ini yang akan berkoordinasi dengan saya sampai akhir hingga visa keluar,” lanjutnya.

Andaikata koordinatornya tidak jadi berangkat, sambung Ely, maka tugas ini akan diserahkan ke tour leader yang mereka tunjuk. Tour leader ini yang mendampingi jamaah di hal-hal teknis, misalnya waktu ziarah yang harus menyesuaikan dengan semua jamaahnya

“Satu koordinator ini, kata Ely, bisa pegang paling banyak sampai tiga bis. Atau sekira 120 orang,” jelas Ely.

Plus-Minus Umrah Backpacker

Ely menjelaskan, ada perbedaan yang sangat mencolok antara Umrah Reguler dengan yang backpacker. Yakni, umrah backpacker ini lebih menuntut jamaah mandiri. Karena hampir semua urusan umrah dan kebutuhan di Tanah Suci, ditangani oleh jamaah sendiri.

“Perbedaannya sangat besar yah, mereka (jamaah umrah backpacker) mencari tiket sendiri melalui koran, atau internet. Lalu kalau sudah dapat tiketnya, dan sudah jelas kapan berangkatnya, baru mereka ke travel untuk mengurus visa dan hotel,” ungkap Ely.

“Jadi yang Umrah Backpacker ini, mereka punya hak untuk menentukan  mau pakai pesawat apa, tiketnya, kapan berangkat, dengan siapa saja, karena dia sendiri yang beli,” lanjutnya.

Kalau pakai regular, terang Ely, memang cukup bayar saja. Namun, jamaah tidak tahu tiketnya sudah dibeli atau belum. Itu kenapa banyak kasus jamaah yang tidak jadi berangkat, padahal sudah bayar, bisa jadi karena tidak terbeli tiketnya oleh pihak travel.

Kedua, sambung Ely, soal pembimbing. Di Umrah Backpacker ini, komponen pembimbing haji itu dihapus. Jadi mereka berangkat benar-benar mandiri, melakukan prosesi ibadahnya sendiri, tanpa ada yang mendampingi dari travel. Adapun fungsi travel hanya untuk mengurus visa dan keperluan lain di Arab Saudi.

“Ada nilai kemandirian di sini.  Mereka belajar Fiqh sendiri, pengurusan di Saudi sendiri, ini juga yang kemudian mendorong mereka mencari ilmunya sendiri. Meskipun dari kita, menyediakan waktu untuk manasik,” ujar Ely.

Ely juga menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan saat berumrah dengan backpacker ini. menurutnya, ada tiga komponen wajib saat berangkat umrah. Yakni tiket, visa, dan biaya hidup di Saudi.

“Karena komponen tiket yang paling mahal, maka jamaah backpacker ini bermain di tiket. Mereka mencari tiket yang murah meriah, meskipun harus transit tujuh kali, misalnya. Ketika masa promo ini, teman-teman backpacker hunting tiket. Jadi memang tidak bisa cepat, ya,” ungkapnya.

Lantas dengan cara seperti ini, berapa cost yang keluar? Ely memaparkan, hanya perlu membayar setengahnya dari umrah regular. Menurutnya harga regular sekira 25 juta itu yang paling murah. Sementara Umrah Backpacker, 12 juta itu sudah paling mahal. Itu karena mereka bermain di tiket. “Tapi kalau belinya mendadak, promonya habis, mau tidak mau ya harus lebih mahal dari teman-temannya. Itu maksimal 15 juta, untuk program 12 hari PP, dengan 10 harinya di Saudi. Sementara kalau regular, 25 juta itu untuk 9 hari PP. Kan jauh banget bedanya,” lanjutnya.

Kendati demikian, benefit lain yang didapat dengan seperti ini, jelas Ely, setelah di sana bisa jadi mereka justru mendapat fasilitas yang lebih baik dari Umrah Regular. Misalnya, mereka bisa minta hotel yang bagus, atau hotel yang dekat Masjidil Haram. Atau mengubah hal-hal yang dalam paket umrah reguler sudah diatur satu paket.

Inilah yang Ely lihat sebagai keuntungan mengambil program Umrah Backpacker. Ia mengaku peminat programnya ini kian banyak. Karena berbasis online, peminatnya didapat dari seluruh Indonesia. Sebut saja  Aceh, Pekanbaru, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Bali, Makassar, dan terbanyak Pulau Jawa.

Ely berharap program yang tengah dikembangkan ini menjadi solusi bagi sesiapapun yang ingin bersua Baitullah, khususnya yang budgetnya minim. Dengan plus-minus yang sudah ia paparkan, ia berharap agar calon jemaah juga lebih bijak dalam menentukan pilihan.

“Ketika tertarik dengan program ini, saya harap mereka bisa pintar memilih. Mereka harus tahu travel yang mereka apa, plus minusnya apa, termasuk harga.  Mereka harus detail bertanya, jangan tergiur harganya dulu. Sesuaikan dengan kebutuhan,” tandas Ely. (Senandika/Aghniya/Alhikmah)