Sekolah Master (Masjid Terminal) Depok : Master -master Jebolan Terminal

Sekolah Master (Masjid Terminal) Depok : Master -master Jebolan Terminal

2 509
Anak jalanan beraktivitas
sekolah master
Sekolah Masjid terminal (Master)

‘Sekolah Master’, khusus kaum pinggiran, ia dirikan bersama kawan-kawannya tepat di sebelah Masjid Terminal. Sumber adzan yang kini ia dengar setiap harinya.

ALHIKMAH.CO–Seorang pria diam termangu…, merenung. Menatap lurus ke depan. Di hadapannya, bocah-bocah hilir mudik di tengah lapangan berpagar kontainer-kontainer baja yang berdiri kokoh, tinggi dua lantai. Suara-suara bocah itu terdengar lepas, bebas, seolah tak ada beban menghadapi kerasnya kehidupan. Di selasar, depan kontainer itu, mereka melafalkan dengan fasih syair-syair nan merdu.

“Jreng…, jreng..” harmoni suara gitar, mengiring bocah lainnya bernyanyi riang. Melodi khas anak jalanan. Ya, memang mereka adalah anak jalanan. Anak jalanan yang sedang berlatih bernyanyi. Namun, sejurus berlalu suara gitar mereka kian senyap. Kumandang adzan dzuhur memanggil, dari Masjid di sebelah kontainer-kontainer besar itu.

Semua bergegas menuju Masjid Al Muttaqien, rumah Allah di samping Terminal Depok. Tempat bocah-bocah tadi mangkal, demi sekerat rejeki. Termasuk pria yang termangu itu. Bergegas ia berdiri, menuju Masjid itu. Masjid yang menepuk memorinya hingga terbang ke masa lalu. Masa di mana ia semisal bocah-bocah yang ada di hadapannya itu. Masa- masa ketika ia menyusuri lorong-lorong kota, menapaki terminal hingga stasiun. Merebahkan diri di emperan mesjid, tidur beratapkan langit.

Ia Nurrohim. Anak jalanan sekian belas tahun lalu, yang kini menjadi guru bagi bocah-bocah yang ada di hadapannya itu. Daya kreatifnya menyulap onggokan kontainer-kontainer itu menjadi sebuah ruang kelas dan ruang guru. ‘Sekolah Master’, khusus kaum pinggiran, ia dirikan bersama kawan-kawannya tepat di sebelah Masjid Terminal. Sumber adzan yang kini ia dengar setiap harinya.

“Master, alias Masjid Terminal,” ungkap Nurrohim selepas dzuhur saat ditemui Alhikmah di kompleks Terminal Depok, tempat ia menaungi para anak jalanan yang biasa mangkal di sana. Bocah-bocah jalanan yang bernyanyi tadi, kini memasuki kontainer-kontainer besar itu, untuk belajar. Menimba ilmu di sekolah master. “Sekolah ini kita dirikan sebagai alternatif sekolah bagi kaum marginal, anak –anak jalanan, anak-anak yang putus kuliah agar mereka memiliki daya saing. Kita coba bantu mereka agar dapat pendidikan yang layak,” kata Nurrohim.

Ia memandang, bahwa problem sosial muncul lantaran masalah pendidikan. Karenanya, awal tahun 2000, ia bersama kawan-kawan di Masjid Terminal berinisiatif membagi ilmu yang dimiliki kepada para anak jalanan. “Bermula dari emperan mesjid, kita ngadain kajian, belajar baca tulis Qur’an, hingga berkembang sampai sekarang memiliki SD, SMP, SMA Paket B dan C,” papar Nurrohim yang akrab dipanggil Bang Rohim oleh penghuni terminal.

“Saya melihat, pendidikan itu sumber persoalan. Bolehlah orang miskin, tapi kalau dia pinter, dia bisa sekolah. Dari sekolah dia punya daya saing, yang nantinya dia bisa produktif berkarya, dan mandiri,” kata Nurrohim.
Sejenak, memorinya kembali ke masa lalu. Masa ketika ia masih menjadi anak jalanan. “Dulu, saya melihat kawan saya yang nggak sekolah, sekarang nggak jelas seperti apa kehidupannya. Sedangkan, kawan-kawan saya yang sekolah, sekarang ada yang jadi Bandar angkot, karyawan, bisnis, dan lainnya,” Rohim, mengenang.

 

sekolah master
Nurrohim, pendiri sekolah Master (foto: rl/Alhikmah)

 

Beruntung dulu kakeknya memasukkan Rohim ke pesantrenkan. Di situlah terbukti bahwa ilmu bisa mengangkat derajat seseorang di dunia saat ini dan akhirat nanti. “Benarlah janji Allah itu. Ilmu adalah dasar kita melakukan apapun,” tegas Rohim.

Lalu, dari mana dana untuk menjalankan sekolah ini?