Sejumlah Anggota Kongres Permasalahkan Hilangnya Empat Kata Asas NKRI

Sejumlah Anggota Kongres Permasalahkan Hilangnya Empat Kata Asas NKRI

3 73

ALHIKMAHCO,– Sekertaris Jendral Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir memprotes adanya penghapusan kalimat Yang Maha Esa saat pembacaan hasil pleno rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI. Kalimat yang seharusnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi NKRI berdasarkan Pancasila.

“Ini suatu bentuk penghinaan terhadap intelektual muslim yang hadir di sini. Teks rekomendasi hasil musyawarah di pleno kemarin telah diubah,” pekik Ustadz Bachtiar Natsir setelah pembacaan keputusan pleno di Hotel Inna Garuda-Yogyakarta, Rabu (11/02/2015).

“Ini yang menulis hasil kongresnya tidak jujur ini!” lanjutnya.

Sebelum Ustadz Bachtiar berpendapat, ketidaksetujuan ini pun diungkapkan delegasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Muhammad Somad. Sesuai dengan pembukaan Undang-undang 1945 pasal 29 ayat 1, disebutkan bahwa NKRI berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kenapa dalam naskah, hasil rekomendasi itu diubah?” tanyanya.

Sommad berpendapat, Pancasila sendiri tidak sesuai dengan Islam, walaupun di dalam sila pertama bertuliskan ketuhanan yang Maha Esa. Dan jelas berbeda bila teksnya menjadi berdasarkan pancasila saja.

Sementara itu, penanggung jawab kegiatan KUII ini yang juga menjadi salah satu perumus rekomendasi di Komisi D, Slamet Efendi Yusuf justru menyanggah adanya perubahan. Menurutnya, pernyataan tadi tidak mengubah apa pun yang ada di pembukaan UUD 1945.

“Kita umat Islam sebagai bagian terbesar di Indonesia, berkewajiban mengisi kedaulatan NKRI. Dan penegasan NKRI ini berdasarkan Pancasila,” tandasnya di hadapan awak pers.

Menurutnya sila pertama yang berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa sudah cukup merepresentasikan bahwa negeri Indonesia ini bukan negeri liberal atau sekuler. Slamet mengklaim bahwa tokoh-tokoh yang tidak sepakat akan hasil rekomendasi pleno hanya keberatan saja, akan tetapi itu tidak mengubah keputusan karena sudah disahkan. (pnurullah/alhikmah)