Sejarah Panjang Mekkah: Dari Tanah Tandus Hingga Dikunjungi Jutaan Manusia

Sejarah Panjang Mekkah: Dari Tanah Tandus Hingga Dikunjungi Jutaan Manusia

0 1061

Mekkah, Pada Mulanya….

… sekawanan burung beterbangan di sebuah lembah. Tanda-tanda keberadaan mata air. Tapi bagaimana mungkin di cekungan yang tampak tandus itu ada kehidupan?

Lautan pasir. Desir angin, membawa bulir-bulir halusnya terbang menukik, menuju lembah kering nan tandus. Sepi, seperti tanah mati. Jangankan pepohonan,  ranting kering pun tak nampak bayangannya, walau setangkai. Terlebih air. Untuk menjadi tempat tinggal? Jauh di nalar manusia kebanyakan.

Lantas apa yang membuat lelaki berunta itu datang bersama istri dan anaknya yang masih balita? Apa yang membuat ia begitu tega meninggalkan perempuan dan makhluk mungil itu berdua saja, di tengah hamparan lembah kering nan gersang, berpagar pasak-pasak bumi di sekelilingnya? Apa yang membuat dirinya melenggang seolah tak berbeban, dengan belaka meninggalkan sekantung kecil makanan berisi kurma, dan wadah berisi sedikit air?

Tak lama, lelaki bernama Ibrahim itu beranjak dari tempat ia semula, lalu melangkah, pergi.

“Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?” Hajar, perempuan, ibunda bocah mungil itu bertanya.

Lelaki itu diam, tak menjawab.  Hingga berulang tiga pertanyaan itu terlontar. Tetap saja tak ada sepatah kata pun terucap dari lisannya.

“Apakah Allah yang menyuruh engkau melakukan ini?” pertanyaan yang sama sekali beda dari sebelumnya.

Kali itu, Ibrahim tak lagi diam. Ia menjawab pertanyaan belahan jiwanya dengan anggukan. Penanda, benar, bahwa ini adalah Titah Sang Penguasa Alam.

Bukan. Hati Ibrahim bukan tak sedih. Bukan. Hati lelaki itu bukan tak galau. Ia pun adalah manusia yang tentu punya rasa iba. Terlebih kepada istri dan buah hatinya, Ismail. Tapi bagi Ibrahim, Titah Sang Maha lebih dari segalanya.

Perempuan mana yang bisa tegar jika dihadapkan pada kondisi yang serba sulit seperti demikian? Wanita mana yang tak patah arang, manakala ditinggalkan begitu saja, berdua bersama si kecil, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sekelilingnya?

Dan Hajar, bukanlah perempuan biasa. Tauhid yang demikian kuat menghujam di dasar hatinya. Anggukan Ibrahim, sang suami sudah cukup baginya untuk sampai pada keyakinan, bahwa kehendak Allah pastilah sesuatu yang baik bagi mereka.

“Jika demikian, maka Allah tidak akan meninggalkan kami.”  Lisan perempuan itu, tegar, melepas kepergian sang suami.

Lalu Ibrahim berdoa, seperti diabadikan dalam Al Quran: Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)

mekah2

Mata Air Abadi 

Sepasang mata yang lelah, beredar, memandangi sekeliling. Fokus menelisik sudut-sudut lembah, mencari setetes air, penyambung napas kehidupan. Kemarau mulai menyeruak di sekujur kerongkongannya. Terlebih Ismail kecil.

Naluri makhluk manusia. Naluri seorang ibu dari bayi mungil itu. Diletakkannya bayi itu sendirian. Ia bergegas pergi ke arah bukit Shafa, menjemput harapan. Setiba di Shafa, pandangannya tertuju ke arah bukit di seberangnya, Marwa. Tampak genangan air di sana, membangkitkan harapan untuk menggapainya. Berjalanlah ia menuju penampakan itu. Di tengah posisi, antara Shafa-Marwa, langkahnya kian cepat, semangat. Setengah berlari, langkahnya terhenti. kian dekat sudah tak lagi tampak. Harapan itu rupanya sebatas akrobat visual, fatamorgana.

Tak menyerah begitu saja. Di seberang sana, di bukit tempat ia sebelumnya berdiri, Shafa. Asa kembali mengemuka. Lagi, dengan semangat pantang surut, digapainya harapan itu, penuh sukacita. Hingga 7 kali pulang pergi antaraShafa-Marwa, lelah, tapak kakinya melangkah.

Hingga kemudian utusan Allah Azza wa Jalla, Jibril, turun ke bumi. Malaikat Allah itu kemudian mengibaskan sayapnya, dan sejurus kemudian keajaiban datang. Di tengah lembah tandus, sebuah mata air memancar. Jernih, menyegarkan. Dalam riwayat lain, dikatakan, bahwa sumber air itu berasal dari bekas telapk kaki untanya Ibrahim. Ada pula yang riwayat yang menyebutkan, berasal dari hentakkan kaki Ismail saat menangis, kehausan.

Demi melihat keajaiban itu datang, Hajar gembira alang kepalang. Khawatir mata air itu melebar, ia bergegas membuat  semacam bendungan kecil dari tumpukan pasir dengan kedua tangannya. “Zam .. zam .. berkumpullah .. berkumpullah” lisannya berucap. Inilah mula mata air zam zam berasal.

Dari Yaman Mencari Kehidupan

Syahdan, suatu ketika di Yaman, sekitar  tahun 2000 sebelum masehi. Negeri yang dikenal makmur, sejahtera itu dilanda paceklik tak berkesudahan. Allah murka lantaran penduduknya enggan bersyukur, atas pelbagai limpahan nikmat dan karuniaNya. Maka bendungan Ma’rib yang mengairi banyak sentra perekonomian negeri itu, lantak seketika. Praktis, tak ada lagi sumber kehidupan bagi masyarakatnya.

Berpendaranlah kabilah-kabilah Yaman, yang merupakan cikal bakal bangsa Arab ini, ke pelbagai wilayah di sekitarnya. Jurhum, adalah di antara suku terbesar yang memutuskan hijrah, menuju negeri Syam (kini: Jordania, Suriah, Palestina, Lebanon_red) yang menjanjikan.

Di tengah perjalanan dari selatan Jazirah Arab, menuju  ke Syam, tampak oleh mereka sekawanan burung beterbangan di sebuah lembah. Tanda-tanda keberadaan mata air. Tapi bagaimana mungkin di cekungan yang tampak tandus itu ada kehidupan?  Penasaran dengan apa yang disaksikan, diutuslah dua orang di antara mereka untuk memastikan dugaan.

Betapa terkejutnya kabilah Jurhum, tatkala benar bahwa ada sebuah mata air yang mengalir di sana. Tatkala benar, bahwa ada dua orang anak manusia, seorang ibu dan sang buah hati yang tinggal menetap di lembah, tempat burung-burung itu beterbangan di langitnya.

Rombongan suku Jurhum yang dikenal berakhlak santun itu kemudian mengurungkan niatnya semula untuk pergi ke negeri Syam. Meski jumlahnya jauh lebih banyak, tak ada sebersit pun niat untuk merebut  wilayah itu dari Hajar dan Ismail. Mereka justru memohon agar bisa diizinkan untuk tinggal, menetap di sana, bahkan rela menyerahkan sejumlah upeti, sebagai tebusannya.

Mulailah lembah yang semisal tanah mati itu tumbuh, berkembang. Nadi kehidupan mulai terasa, berdenyut. Transaksi ekonomi, sampai pernikahan silang, terjadi. Sebagian literatur mengatakan, bahwa ini adalah benih kemunculan istilah Arab asli dan Arab Musta’ribah. Arab asli, yang berasal dari negeri Yaman, semisal suku Jurhum. Arab Musta’ribah, semisal keturunan Ismail (kelahiran palestina), yang menikah dengan perempuan Arab asli.

Nama Mekah

Mekah. Begitu lembah tempat zam zam menyemburat untuk kali pertama itu, dinamai. Berasal dari kata “imtakka”, yang berbarti ‘mendesak’ atau ‘mendorong’. Kota ini disebut “Mekah” lantaran  manusia berdesakan di sana (Mu’jam Al-Buldan, kata: Mekah, dalam Qiblati). Dalam Alquran, Allah menyebutnya dengan “Bakkah”. Allah berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya, rumah yang pertama kali di dibangun (di bumi) untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah (yang berada) di Bakkah (Mekah) yang memiliki berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran:96)

Kota ini juga memiliki nama lain, di antaranya:

1. Ummul Qura (pusat kota). Allah berfirman, yang artinya, “Demikianlah, Kami wahyukan kepadamu, Alquran dalam bahasa arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (QS. Asy-Syura: 7). Kota Mekah disebut “Ummul Qura” karena Mekah menjadi kota yang paling padat kegiatannya.

2. Al-Baladul Amin (kota yang aman). Allah berfirman, yang artinya, “Demi Al-Balad Al-Amin ini (Mekah).” (QS. At-Tin:3)

3. Ma’ad (tempat kembali). Allah berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya, Dzat yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al-Qashash:85). Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud “tempat kembali” adalah Mekah. (Tafsir Al-Jalalain, untuk QS. Al-Qashash:85)

4. Al-Baitul Haram. Allah berfirman, yang artinya, “(Ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf.’” (QS. Al-Haj:26). Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa Baitullah adalah Mekah. (Makkah fi Al-Qur’an wa As-Sunnah, hlm. 6)

Ujian Berlanjut Penyembelihan

Di kota yang mulai semarak itu, Ismail beranjak baligh, bahkan tumbuh menjadi sosok yang gagah. Maka pantas, jika kemudian kepala suku Jurhum rela menikahkan putrinya dengan Ismail. Namun, kemudian, tali pernikahan di antara mereka tak bertaut lama.

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Ibrahim kembali ke Mekah, hendak menemui buah hatinya, setelah sekian lama. Ketika tiba di rumah sang anak, didapatinya istri ismail, seorang, lantaran suaminya tengah pergi. Kemudian Ibrahim bertanya kepada menantunya tentang kehidupan pernikahan mereka. Maka, jawaban berupa keluh kesah pun meluncur dari mulutnya. Sehingga, Ibrahim pun berpesan kepada menantunya itu, “Sampaikan kepada suamimu, Ismail, bahwa telah datang seseorang bernama Ibrahim. Dan menitipkan pesan, agar mengganti tiang rumahnya!”

Sebagian ulama mengatakan, bahwa ketika itu ismail sudah mendapat wahyu kenabian. Sehingga Ismail sudah mengetahui siapa ayahnya, dan perkara-perkara tauhid lainnya. Maka, ketika pulang, lalu bertanya kepada sang Istri, tentang banyak hal semasa kepergiannya, termasuk kedatangan ayahnya, Ibrahim.Tak lupa, sang istri pun menyampaikan pesan soal tiang rumah yang harus diganti.

Tak menunggu lama, Ismail pun segera melaksanakan titah itu, dan mengantarkan sang istri kembali ke pangkuan orang tuanya, untuk diceraikan.

Sekian waktu berlalu, Ismail menikah untuk kali kedua, dengan seorang perempuan yang juga berasal dari suku Jurhum. Peristiwa serupa berulang, saat nabi Ibrahim datang, hendak menemui ismail, lagi-lagi ia tak sedang di rumah. Istrinya kali ini pun mendapat pertanyaan serupa, tentang kehidupan pernikahan mereka, meski kali ini, mendapat jawaban yang sama sekali berbeda. Kalimat pujian mengalir dari mulut sang istri, tanpa secuilpun keluh kesah.

Maka,  kembali di ujung perjumpaan, Ibrahim berpesan, “Sampaikan kepada suamimu, Ismail, bahwa telah datang seseorang bernama Ibrahim. Dan menitipkan pesan, agar mempertahankan tiang rumahnya!”

Ismailpun ketika datang, kemudian menyampaikan kepada istrinya, bahwa lelaki bernama Ibrahim itu tak lain adalah ayahnya. Bahwa kali ini ia memerintahkan agar mempertahankan biduk rumah tangga.

***

Pertemuan yang sungguh langka. Setelah sekian waktu terpisah. Terlebih ketika Ibrahim telah mengetahui informasi dari langit, bahwa anaknya ismail pun kelak akan mengikuti jejaknya, menjadi nabi. Manusiawi jika haru bercampur bahagia menyemburat dari air muka keduanya. Sehari dua, mereka saling melepas rindu. Kerinduan seorang ayah terhadap sang buah hati. Begitupun sebaliknya.

Namun, rupanya ujian Allah kembali datang, menghampiri. Kali ini melalui mimpi, yang selintas – bagi manusia kebanyakan – tampak keji. Ibrahim diperintahkan Rabbnya untuk menyembelih sang buah hati, Ismail.

Melihat ayahnya yang tampak murung, Ismail menghampiri, lalu berkata: “Ayah, ada apa dengan ayah. Mengapa ayah tampak begitu gelisah? Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kehangatan ayah, sungguh terasa.”

Bayangkan, jika kita, pembaca, ada dalam posisi seperti itu. sungguh gemetar hati ini membayangkannya. Anak yang baru saja berjumpa, setelah sekian lama berpisah, tak bersua. Anak yang tak pernah merasakan belaian kasih sang Ayah, sejak mula terlahir ke dunia, hingga ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Anak yang baru saja merasakan kehangatan pelukan sang ayah, dan  mulai dipersiapkan menjadi generasi pelanjut cita-cita. Kini harus ia sembelih, atas perintah Rabb semesta raya. Al Quran, surat As Shaaffat mengabadikan dialog ayah-anak yang sungguh menggetarkan jiwa ini:

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Pedih batin Ibrahim, saat dari lisannya mengalir kalimat itu. Betapa tidak, untuk kali kedua, Allah mengujinya dengan soal yang tampak demikian berat bagi orang kebanyakan. Setelah dulu meninggalkan Hajar dan Ismail kecil. Kini …

Lalu apa jawaban anak yang Saleh, semisal Ismail? 

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shaaffaat: 102)

Maka berangkatlah ayah-anak ini, dengan bekal taqwa. Sepanjang jalan menuju tempat penyembelihan, di sebuah bukit di sekitar Mina, tak ada kalimat lagi yang mereka lontarkan selain Takbir, Allaahu Akbar .. Allaahu Akbar, walillaa hilham ..

Tiba di lokasi. Suasana demikian mengharu biru. Saat keduanya sudah sama-sama pasrah akan titah Allahu Ta’ala. Saat Ismail sudah diletakkan di sebuah batu, tempat penyembelihan. Setan pun datang menggoda, agar Ibrahim urung melaksanakan Titah Tuhannya. Ibrahim pun sigap melempar setan itu dengan kerikil sebanyak 7 kali.

ketika Ibrahim sudah siap dengan sebilah pisau dalam genggaman .. tatkala bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya … kala bibi bergetar sembari berucap kalimat.. Bismillahi Allaahu Akbar .. Bismillahi Allaahu Akbar .. Bismillahi Allaahu Akbar … ternyata pisau itu belum juga menempel di leher Ismail.

Telapak tangan Ismail yang sudah pasrah itu memegang hangat pergelangan tangan sang Ayah, sambil berkata: “Ayah, mata pisau ayah belum melekat di leherku .. di sini leherku ayah.”

Bismillahi Allaahu Akbar … Ibrahim kemudian berteriak dan nyaris tidak sanggup untuk melakukannya, kecuali atas dasar keta’atan akan perintah Rabb Semesta Raya …

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (QS Ash Shaaffaat: 104-109)

Bersama Membangun Ka’bah

Masih dalam rangkaian kisah Abu al Anbiya, Ibrahim ‘Alaihissalam, Allah SWT kemudian memberi perintah agar keduanya  bahu membahu membangun Ka’bah, Baitullah, yang ketika itu asas atau pondasinya, peninggalan Adam ‘Alaihissalam dan putranya, Syit,  sudah ada. Kiblat kedua kaum muslimin sedunia. Menara tauhid, simbol Kemahaan Sang Pencipta.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismai …” (QS Al-Baqarah: 127)

Meski penduduk Mekah ketika itu sudah terbilang banyak, berdua saja, Ayah – anak itu bahu membahu melaksanakan Titah Rabbnya. Ismail yang lebih muda, mendatangkan bebatuan yang dibutuhkan, sementara Ibrahim sang Ayah sibuk menata bangunan.

Batu demi batu tersusun sudah. Sesekali Ibrahim mundur untuk melihat posisi bangunan agar lebih presisi. Nahh, tempat Ibrahim mengambil posisi itulah yang kelak dinamakan Maqam Ibrahim. Sebuah tempat dimana setiap usai thawaf, jama’ah haji-umroh diharuskan untuk shalat 2 rakaat di belakangnya.

Di sela-sela penyelesaian pembangunan Ka’bah, Ibrahim sembari berdo’a: “ … Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”(QS Al-Baqarah: 127) 

mekah1

Selesai pembangunan Ka’bah,  seruan untuk melaksanakan ibadah haji turun dan diabadikan dalam  firman  Allah Azza wa Jalla: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (QS Al-Hajj: 27-28)

Sejak itu, hingga kini, setiap musim haji, berbondong-bondong umat bertauhid dari pelbagai penjuru bumi, memenuhi seruan ini.

(muhammad rehranumurti/ed:hbs)