Sedekah Taubat

Sedekah Taubat

0 153

Saya bukanlah orang baik, pembaca. Kehidupan saya jauh dari nilai-nilai agama. Saya akui bahwasanya segala macam kategori dosa yang telah Allah gariskan di muka bumi ini pernah saya cicipi. Judi, mabuk, zina pernah saya lakukan. Seberapa besar dosa saya? Saya sendiri tidak pernah bisa membayangkannya. Terlalu banyak.

 

ALHIKMAH.CO–Kadangkala, dalam hati nurani muncul rasa takut akan dosa-dosa yang saya lakukan terebut. Tapi apa mau dikata, setiap hari godaan-godaan itu datang bertubi-tubi merayu saya untuk melakukan hal serupa setiap harinya.

Mulanya dosa-dosa tersebut saya lakukan ketika menginjak bangku sekolah menengah atas. Dari judi kecil-kecilan hingga tidur berduaan dengan seorang perempuan pernah saya lakukan. Memang kehidupan saya kala itu tidak pernah kekurangan.

Karir orang tua saya berjalan sukses. Apalagi saya adalah anak bungsu dan laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh ibu bapak saya. Tidaklah mengherankan apabila segala kemauan saya selalu mereka turuti. Saya hidup dari keberlimpahan materi. Sampai-sampai di sekolah, saya dipanggil bos!

Semua itu sungguh melenakan. Saya tumbuh menjadi seseorang yang arogan. Yang memandang orang hanya dari uang dan tampilan fisik semata. Jangan harap Anda bisa dihormati oleh saya kala itu. Ketika berjalan dagu saya terangkat dengan dada sedikit dibusungkan.

Uang saku yang setiap minggu diterima saya hamburkan begitu saja. Tanpa beban. Tanpa pikiran. Hanya kakak saya nomor dua yang sering mengingatkan. Katanya;

“Janganlah uangmu dihamburkan. Lebih baik disimpan, ingat jika orang tua kita sudah tidak ada apakah kamu masih bisa berlaku seperti itu?”

Jawaban saya atas pertanyaan itu hanyalah bentakan dan luapan kemarahan. Nasehat itu saya anggap rasa sirik kakak saya melihat betapa dimanjanya saya oleh bapak dan ibu. Betapa berlimpahnya hidup saya dibanding dirinya yang hanya berkutat dengan pelajaran yang membosankan setiap harinya. Tidak seperti saya yang bisa bermain dan menghabiskan waktu setiap hari kesana kemari.

“Saya adalah saya. Urus saja dirimu sendiri,” begitulah kata-kata pamungkas yang selalu saya berikan kepada kakak saya tersebut.

Berbilang tahun saya terus memelihara sikap tersebut. Pun sama halnya ketika saya sedang belajar di universitas swasta ternama di Kota Bandung. Di tempat kuliah kehidupan saya semakin amburadul. Ketika teman-teman lain sibuk kuliah saya hanya menghabiskan waktu dengan alkohol dan judi. Kedua penyakit tersebut sepertinya sudah akut bersarang dalam tubuh saya. Jika dalam satu hari saya tidak menenggak minuman haram tersebut sepertinya ada yang salah dengan kehidupan saya pada hari itu.

Kecelakaan itu

Hingga pada suatu ketika sebuah telepon darurat masuk ke seluler saya. Dari seberang ibu mengabarkan kalau kendaraan yang bapak saya tumpangi mengalami kecelakaan. Bapak masuk rumah sakit dengan keadaan darurat. Dada saya berdebar kencang. Entah mengapa napas saya menjadi sesak. Di dalam kepala saya berseliweran pertanyaan apakah ini akhir dari kehidupan bapak? Jika ya bagaimanakah dengan masa depan saya?

Dengan tergesa saya menyambangi rumah sakit tempat di mana hendak dirawat. Hati saya tak karuan. Terbayang kehidupan saya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi hura-hura, suka-suka, happy-happy. Ahh akan begitu sepi dan sengsaranya hidup saya kelak jika bapak meninggal.

Tiba di rumah sakit saya disuguhi oleh wajah-wajah cemas dari ibu dan kedua kakak saya. Wajah mereka pucat pasi dengan mata sembab tanda habis menangis. Tiba-tiba saja tubuh saya terasa lemas. Dari pembicaraan kakak dan ibu, kondisi bapak fifty-fifty.

Tidak berselang lama, saudara-saudara kami berdatangan ke rumah sakit. Hendak bertanya dan membantu ala kadarnya meringkan beban keluarga yang sedang kami tanggung saat ini. Di tengah keriuhan tersebut, saya menyadari kalau kakak saya yang nomor dua raib entah kemana. Mulanya saya acuh dengan kepergian kakak saya tersebut. Tapi, saya menyadari kalau ia sudah pergi terlalu lama.

Saya memutuskan untuk mencarinya. Di selasar serta lorong rumah sakit saya tidak bisa menemukannya. Hingga pada akhirnya saya memutuskan ke jalan untuk mencarinya. Prediksi saya tidak meleset. Kakak saya sedang berdiri di pinggir jalan. Ajaibnya, di tangannya tergenggam puluhan ribu uang. Setiap pengemis yang datang melewatinya ia cegat lantas diberikannya uang tersebut.

“Apa yang sedang kakak lakukan?” tanya saya keheranan.

“Sedekah,” jawabnya.

Lho, malah sedekah. Ayah sedang sakit ini malah sedekah,” hardik saya.

“Kamu memang tidak pernah belajar agama. Tidak pernah menyayangi orang tua. Kelakukanmu selama ini penyebab kecelakaan bapak nyahok,” teriak kakak.

Dugg! Saya terkejut bukan main. Tidak pernah saya melihat kakak semarah itu seperti saat ini. Matanya nyalang. Dadanya kembang kempis tanda menahan amarah yang selama ini terpendam di dalam dada.

“Pergi sana!!! Seharusnya kau taubat minta ampun sama Allah dan bapak kita diselamatkan,” teriaknya.

Dugg! Sekali lagi saya dikejutkan dengan kata-kata tersebut. Dengan langkah gontai saya berjalan menuruti perintah kakak saya tersebut. Di areal rumah sakit saya langkahkan kaki menuju mushala. Mengambil air wudhu lantas meminta ampun kepada Allah.

Saya bertaubat dan menangis sejadi-jadinya. Saya meminta jika bisa digantikan lebih baik Allah mengambil nyawa saya dibanding bapak. Saya merasa tidak pantas lagi hidup di dunia ini. Saya sadar telah melakukan banyak kesalahan. Kesalahan yang mungkin tidak akan pernah terampuni. Beberapa kali kepala saya benturkan ke lantai.

Lantas tiba-tiba, ada seorang jamaah menghampiri saya dan meminta saya untuk tidak meneruskan hal tersebut. Di malah mengajak berbincang kepada saya atas musibah yang tengah saya alami saat ini. Dengan mata merah dan suara yang lirih saya ceritakan semuanya tanpa beban.

Bismillah. Kita harus kuat. Selalu ada hikmah di setiap cobaan yang Allah berikan. Saya hanya bisa memberikan saran, selain adik terus berdoa agar Allah memberikan kesembuhan kepada bapak adik, ada baiknya adik bersedekah. Sedekah bisa memberikan kesembuhan kepada orang yang sedang sakit atas izin Allah SWT,” katanya diakhir pembicaraan.

Mendengar hal tersebut ingatan saya langsung melayang kepada apa yang sedang dilakukan oleh kakak saya tadi di pinggir jalan. Ia sedang bersedekah! Tanpa menunggu lama saya pun pergi ke jalan hendak melakukan hal serupa. Saya kuras habis isi dompet saya sambil berdoa akan kesembuhan ayah saya.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu ayah saya mendapatkan kesembuhan yang didambakan. Bahkan jauh melampaui prediksi dokter selama ini. Kesembuhan ayah saya kelewat cepat, persis seperti yang saya pinta kepada Allah SWT. Apakah ini berkah sedekah yang dilakukan oleh saya dan kakak ketika itu? Saya tidak bisa memastikannya tetapi saya yakin itu adalah salah satu jalannya. Paling penting saya sudah bertaubat. Berubah menjadi lebih baik lagi. Sedekah yang saya anggap paling menakjubkan yang pernah saya lakukan untuk orang tua saya.

Wallahua’lam

(Seperti yang diceritakan oleh MG kepada wartawan Alhikmah Ferry Fauzi Hermawan)