Sebuah Resah, Mengurai Benang Kebebasan Gender yang Kusut?

Sebuah Resah, Mengurai Benang Kebebasan Gender yang Kusut?

1 107
pict. siperubahan.com

Bismillaahirrahmaanirrahim…
Tak terasa, pembaca, Ahad 8 Maret esok biasa diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Biasanya banyak aksi yang dilakukan untuk memeringatinya. Dimulai dari aksi sosial sampai mengadakan seminar atau kajian gender. Untuk kali ini aku ingin mengisahkan pengalaman pribadi di balik kajian gender yang selama ini pernah kuikuti.

Ada apa gerangan dengan kajian gender? demikian pertanyaan ini muncul. Selepas di beberapa bulan yang lalu, di bidang kemahasiswaan di salah satu kampus ternama di Bandung mengadakan acara berjudul “Kajian Gender”. Walaupun pada akhirnya, acara itu adalah “Pengenalan Gender dari Berbagai Perspektif”. Acara tersebut dimulai dari jam 8 pagi sampai 2 siang. Materi yang disampaikan beragam, mulai dari gender perspektif psikologi, islam, dan budaya.

Sebelum acara itu dimulai, aku hanya duduk di depan ruangan bertuliskan “Ruang Dosen”. Di sana kulihat ada beberapa dosen perempuan yang kukenal. Aku menghampiri salah satu dari dosen itu untuk mengucapkan salam. Saat itu pikiranku mengira bahwa beliau adalah salah satu pemateri di acara tersebut. Namun, saat aku bertanya, ternyata bukan.

Akan tetapi, beliau tetiba mengungkapkan pendapatnya tentang kajian gender yang bentar lagi akan dihelat. Beliau berpendapat, sebenarnya tidak perlu ada kajian-kajian gender dengan perspektif ini, itu, atau apa pun namanya.

Aku pun sedikit tercengang,”Kok, gitu sih?”.

“Ibu gak setuju kalau ada kajian gender inilah, itulah, karena jadi tidak menentu kiblatnya ke mana. Memangnya apa sih yang aktivis kajian itu perjuangkan? Perempuan zaman sekarang sudah bebas, kok!” ungkapnya.

Ya, saat itu, aku hanya dapat terdiam dan mendengarkan perkataan demi perkataannya yang semakin melebar.

“Islam kurang bagaimana baik sama perempuan? Perempuan sangat dihargai dan dilindungi dalam Islam. Ujung-ujungnya jadi apa pun perempuan, dia itu nanti jadi istri yang harus bisa mengatur Sumur-Dapur, dan Kasur! Dia harus menjadi Istri sekaligus ibu yang sholehah dan muslimah yang baik,” lanjutnya.

Sedang aku hanya dapat terdiam sambil memendam ribuan pertanyaan.

“Islam itu komplit. Butuh pedoman muslimah? Banyak! Coba kita baca tentang muslimah-muslimah hebat di masa Rasulullah. Seperti Aisyah, Fatimah, Khadijah, dan banyak lagi. Mereka muslimah-muslim inspiratif dan kreatif. Merekalah yang harusnya menjadi tauladan muslimah-muslimah masa kini. Jadi gak usah perspektif inilah, itulah… karena jadinya akan bercabang” tandas ibu itu.

Aku hanya dapat terdiam, mengangguk dan sedikit tersenyum malu. Karena selama ini minim sekali pengetahuanku tentang tokoh-tokoh muslimah, dibandingkan dengan konsep feminisme dan kebebasan perempuan lainnya, yang sampai sekarang menurutku belum bertemu titik temunya. Karena sejauh ini yang kupahami adalah, perempuan itu menuntut kebebasan berekspresi dan berhak memiliki kesempatan yang sama.

Tak lama kemudian, percakapan berakhir dan dimulailah acara kajian gender tersebut. Sepanjang aku mengikuti kajian itu, aku hanya dapat duduk sambil memikirkan hal lain. Di tengah-tengah acara ternyata beliau datang dan duduk. Tapi hanya memerhatikan sebentar acara itu, kemudian pergi lagi.

Heum,, perempuan adalah perempuan. Muslimah adalah muslimah. Muslimah mana yang kini terpuruk? Muslimah mana yang kini bebas terarah? Muslimah mana yang kini bebas tapi kebablasan akibat pemahaman dan lingkungan yang salah?

Menurutku muslimah memang harus kaya wawasan tentang kemuslimahannya dan memersiapkan diri menjadi dirinya sendiri, anak, istri, ibu, atau nenek yang shalehah.Tak jarang, karena kebebasan gender, aku malah menemukan perempuan yang bersikap seperti lelaki dan mereka bangga melakukan itu. Sebaliknya, seringpula kulihat kaum lelaki menyuruh perempuan membawa barang-barang berat dengan dalih “emansipasi”. Itukah kebebasan gender itu? Seperti itukah emansipasi yang diusung Ibu Kartini?

Belum kutemukan jawaban yang memuaskan dahaga pengetahuanku, ihwal kebebasan gender. Apakah pemahamanku tentang perempuan masih dangkal? wallahu’alam, pembaca. Tapi jika jawabannya YA, semoga masih banyak waktu untuk belajar. Menemukan arti hakikat muslimah sebenarnya. Amin.

Think Again…! Action Again…!

*ditulis oleh Laela Marlina, Mahasiswa UIN Bandung Jurusan Public Relation, Semester 8