Sang Raja Tanpa Mahkota, Penyeru Pertama Kemerdekaan Nasional

Sang Raja Tanpa Mahkota, Penyeru Pertama Kemerdekaan Nasional

0 445

ALHIKMAHCO,– Hari itu, Ahad, 18 Juni 1916, sekitar pukul 08.30 pagi. Di tengah sejuknya udara yang menghinggapi alun-alun kota Bandung, seorang lelaki muda berusia hampir 34 tahun, berkumis melentik ke atas, bergegas menaiki tangga, seakan tak sabar segera berdiri di atas panggung.

Sesampainya di sana, dengan berdiri tegap penuh kewibawaan. Pandangannya menyapu seluruh penjuru lapangan yang penuh sesak oleh massa peserta rapat akbar, yang memang tak sabar menunggu kehadirannya.

Saat itu pula suasana menjadi senyap, yang tersisa hanyalah semilir angin. Suara laki-laki itu mulai membuka pidato;

“Suatu kehormatan besar bagi saya, bahwa pada saat ini, berkat Rahmat Allah, saya dapat memimpin rapat besar yang dihadiri para pejabat terkemuka; saudara-saudara tercinta, wakil-wakil dari locale SI dari pelbagai daerah, serta tuan dan saudara lainnya yang hadir di sini. Atas nama Central Syarikat Islam (CSI) dengan ini saya mengucapkan selamat datang dan Assalamu’alaikum…”

Pelan-pelan, kemudian ia berhenti sebentar. Tensi suara kian meningkat seiring memasuki isi pidato awal yang substansial.

“Tuan-tuan, sungguh besar nama kongres ini. Kongres Nasional. Perkataan nasional ini, tidaklah sekali-kali menunjukkan keangkuhan kaum SI. Atau tajamnya pikiran dan luasnya cara pandang pemimpin-pemimpin kongres. Melainkan, semata hanyalah menunjukkan salah satu maksud dari arah pergerakan SI. Yakni, berikhtiar akan menaiktangganya kebangsaan.

Dan di dalam kongres ini yang akan kita bicarakan adalah, usaha pertama yang bisa mengarah agar Hindia lekas dapat pemerintahan sendiri (zelfbestuur). Atau supaya sedikitnya, bumiputra lekas diberi hak akan turut bicara dalam perkara pemerintah…”

Suara itu seperti bergelegar ketika mengucapkan kata Nasional, Kebangsaan, danZelfbestuur. Serta merta suara lelaki itu kian tegas dan utuh. Saat puncaknya setelah berbagai kalimat tadi tak terbendung ke seluruh audience, sampailah pada pesan kunci. Sembari mengangkat jari telunjuk ke arah puluhan ribu massa, lelaki tersebut lantang berkata:

“Orang semakin lama semakin merasakan, bahwa tidak pantas bagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya, menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan untuk diperas susunya.

Tidaklah pantas untuk menganggap negeri ini sebagai tempat di mana yang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan. Dan sekarang, sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa penduduknya, terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut berbicara dalam soal-soal pemerintah yang mengatur nasib mereka.”

Hadirin yang sebelumnya terdiam, tetiba bergelora semangatnya, berteriak riuh rendah, menyusul persetujuan atas apa yang disampaikan. Pidato laki-laki yang tegar itu telah menggemakan kekuatan mahadahsyat. Seakan menandai dimulainya kesadaran pergerakan di Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau di Ambon. Bahkan, tak terhindarkan sudah merangsek ke seluruh lapisan rakyat seantero nusantara.

Laki-laki itu, adalah HOS Tjokroaminoto, sang Raja Tanpa Mahkota. Atau oleh Belanda dijuluki “De Ongekroonde Koning van Java” (Raja Jawa yang tak Dinobatkan)”.

Hari itu memang hari kedua dari serangkaian rapat akbar selama delapan hari kongres nasional pertama CSI, 17-24 Juni 1916. Sehari sebelumnya itu, di Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka) di hadapan perwakilan 80 cabang/afdeling SI dengan jumlah peserta kongres 360 ribu anggota, Pak Tjokro tak segan-segan mengagas kebangkitan nasional dengan mengusung semangat memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari cengkraman Belanda, Kemerdekaan Nasional.

Di bawah kepemimpinan Pak Tjokro, Sarekat Islam berlipat menjadi gerakan yang luar biasa. Dibandingkan dengan organisasi lain yang juga dianggap sebagai representasi gerakan priyayi di Tanah Jawa saat itu. Sebut saja Boedi Oetomo (1909) yang hanya mempunyai anggota 10 ribu orang. Sementara Partai Komunis Indonesia, sampai tahun 1938, anggotanya sekira tembus 250 ribu.

Penyadaran Zelfbestuur menuju Bangsa Merdeka dengan asas Islam memang tak terelakkan. Salah satu indikatornya, peningkatan kuantitas cabang cum anggota SI di daerah.

Sebagai perbandingan, pada Juni 1912, Syarikat Islam masih memiliki dua ribu anggota. Melonjak 35 ribu pada bulan Agustus hingga di akhir tahun mencapai 40 ribu. Dan dalam kurun tujuh tahun SI dipimpin Pak Tjokro, kuantitas anggota SI terus meningkat. Januari 1913 ada 80 ribu saat acara rapat pembukaan di Surabaya, dua bulan berikutnya menjadi 440 ribu. Pada tahun 1914 kongres di Yogyakarta, anggota SI mencapai 440 ribu, jumlah ini terus berlipat hingga puncaknya di acara Kongres Nasional CSI keempat (1919), total anggota sudah mencapai 2.5 juta.

Berbasis keyakinan Islam yang juga bergerak lintas geografis, Pak Tjokro mengidentifikasi gerakan SI sebagai wadah persatuan nasional umat Islam. Gerakan masif ini, merupakan bentuk kebesaran Islam yang ada di dalam hatinya. Sebagaimana yang pernah ia serukan dalam suatu pidato;

“Kita mencintai bangsa kita, dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha mempersatukan seluruh atau bagian terbesar bangsa kita.” []

*Disunting dari Buku Jang Oetama Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto, karya hlm. 1-8