Sandiaga  Uno, “Kecelakaan” Jadi Orang Terkaya ke-29

Sandiaga  Uno, “Kecelakaan” Jadi Orang Terkaya ke-29

0 44

Saleh, Kaya, Muda, Ganteng. Siapa yang tidak ingin seperti itu?

Badai besar moneter tahun 1997 benar-benar mengguncang Indonesia. Ternyata badai ini menyebar hingga Kanada dan juga negeri abang Sam. Perkantoran tutup. Kerusuhan menyeruak, masyarakat ke sana kemari mencari sesauap nasi. Uang, saat itu begitu rendah nilainya. Perusahaan – perusaan yang semula berdiri tegap, mulai doyong bahkan bertumbangan. Orang-orang terbaik di kantor, harus direlakan, antara perusahaan runtuh atau rela kehilangan pekerja guna memangkas pengeluaran. Saat itu, bagi seorang karyawan, bisa bertahan  kerja saja sudah sepatutnya bersyukur.

Di sana, di Kanada, seorang karyawan muda, dengan karir terbilang moncer, tengah dirundung bingung. Betapa tidak, selama bertahun-tahun ia bekerja dengan nyaman, mendapatkan gaji bulanan dan tunjangan yang cukup besar, namun kali ini badai moneter benar-benar menerjang. Modal yang ia investasikan habis, lantaran saham saat itu jeblok.

“Tahun 1997, saya di PHK, pulang ke Indonesia” kenang Sandiaga Uno, sang karyawan cemerlang lulusan negeri abang Sam ini kepada Alhikmah di sela even Pesta Wirausaha sepenggal waktu lalu. Saat tahun , ia menjadi pria ke-29 terkaya di Indonesia, pemilik PT Recapital Advisors, sebuah konsultan yang berperan menyehatkan  dan mengaukisisi perusahan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan.

Sandiaga Uno selalu menganggap bahwa dirinya adalah “pengusaha kecelakaan”. “Tidak pernah terbayangkan bagaimana menjadi seorang pengusaha,” ungkapnya. Sebelumnya, ia bekerja di perusahaan NTI Resources Ltd, Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan USD8.000 per bulan atau kalau saat ini setara dengan 70 juta-an. Luar biasa.

Penghasilan sebegitu besar, tiba-tiba saja berubah menjad nol. Sandiaga Uno pulang bersama keluarga dan anaknya yang baru beberapa bulan dan tinggal bersama orang tuanya lantaran tak mampu mencari tempat tinggal.

”Waktu itu saya baru punya keluarga. Saya berpikir bagaimana kasih makan anak saya. Anak saya waktu itu baru berumur beberapa bulan. Saya sudah dibiasakan selama 8 tahun bekerja dan menerima income rutin dan nggak pusing terhadap uang belanjaan. Tiba-tiba saya mendapati kenyataan ini. Dunia betul betul gelap, pekat. Seperti nggak ada solusi.Akhirnya saya putuskan, survival insting saja.” Kenangnya.

Putus asa melanda Sandiaga Uno. Tapi, orang tua dan sang Istri dengan teguh menguatkan Uno. Berkat dukungan keduanya, Uno menatap masa depan. Baginya, ada nilai yang ia tetap pegang, yaitu bekerja ikhlas. “Kita terima dengan ikhlas bahwa manusia merencakan, proposed, Allah yang menentukan, disposed. Di sanalah kita diuji, apakah kita bekerja ikhlas atau tidak. Allah telah merencakan segalanya bahwa kegagalan kita adalah kesuksesan yang tertunda,” tegasnya.

Dari sini, Uno mulai membangun kepercayaan. Bertemu jaringan-jaringannya, mencari kawan-kawannya yang siap untuk memulai bisnis baru. “Saya beruntung ketemu teman SMA saya Rosan (red:Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama PT Recapital Advisors) dan kami memulai Recapital. Kami mulai menata bisnis apa yang menurut saya akan bisa berkembang. Bisnis yang bukan hanya survival tapi juga usaha yang akan memberi penghidupan pada orang banyak,” ungkap pria yang gemar bermain basket ini.

Bemodalkan kepercayaan dan skill selama ‘nyantri’ di Barat dan di perusahaan besar, Uno mulai bertahap membangun usaha, bidang penyelamatan aset-aset perusahaan yang sedang bermasalah. Kini, baginya, mindset ‘karyawan’ yang selama ini ia anut mau tidak mau harus berubah.

“Pada tahun-tahun pertama itu –Recapital– saya mengalami susahnya menjalin usaha. Sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien dan investor. Ada suatu periode yang cukup lama, enam bulan kami sama sekali tidak mendapat order. Sampai terpikir apakah benar langkah kami menjadi pengusaha? Apakah memang mental kami lebih cocok jadi karyawan?” tanyanya. Ia melanjutkan.
“Tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, alhamdulillah. Itu nasihat orang tua selalu, ketika kita kerja keras tanpa pamrih dan ikhlas,  rezeki yang akan menghampiri. Itu yang kami percaya terus. Walaupun awalnya kami susah, jatuh bangun, hampir beberapa kali tak bisa bayar gaji pegawai. Kami jalani terus dan alhamdulillah sekarang sudah bisa membiayai 2 grup, Recapital dan Saratoga. Kami sekarang punya pondasi yang kuat dan bisa memberikan pekerjaan kepada 20 ribu karyawan,” terang pria, yang koleganya, Pemilik Ayam Bakar Mas Mono, selalu menjaga wudhu dan rajin shalat duha.

Setelah belasan tahun menjadi pengusaha, bagi Uno, saat ini godaan begitu besar. “Kekuasaan, harta, dan wanita, godaan terbesar setelah menjadi pengusaha,” akunya. Kekuasaan, menurutnya selalu menggoda. Banyak pengusaha yang terjun ke dunia politik. “Tapi bagi saya, kontribusi dan manfaat saya saat ini tetap menjadi pengusaha, walau beberapa kali saya ditawari menjadi politisi,” terangya.

Godaan kedua ialah harta. “Pengusaha kadang semakin ingin kekayaannya bertambah tanpa melihat nilai-nilai kebenaran. Hartanya tidak halal dan melanggar hukum. Kita harus menjaga diri dari hal itu,” tegasnya. Dan yang terakhir, wanita. “Godaan terberat bagi pengusaha,” Kata Uno.

Alhamdulillah, Saya beruntung memiliki istri yang selalu mengingatkan dan mendukung, dua orang putri yang galak, dan juga ibu. Ini tantangan bagi para pengusaha yang lainnya,” akunya sambil tersenyum.

[rizkilesus/alhikmah/dbs]

BIO:

Nama Lengkap : Sandiaga Salahuddin Uno
Tempat/Tanggal Lahir : Rumbai, Riau 28 Juni 1969

Pendidikan Formal:

– Bachelor of Business Administration, The Wichita State University, Kansas, AS, lulus 1990
– Master lkkof Business Administration, The George Washington Univ., Washington, AS, lulus 92

Pengalaman Kerja:

– Summa Group, Jakarta
– Seapower Asia Investment Limited, Singapura
– MP Holding Limited Group, Singapura
– NTI Resources Limited, Calgary

 

;.lmk;;’’p, Canada
– PT Saratoga Investama Sedaya